Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Istirahat Bersama


*


*


"Sayang... Bangun dulu, dan lekaslah makan. Jangan melewatkan makan siang, tadi kau sudah melewatkan sarapanmu." Ucap Darren.


Sudah 5 menit ia membujuk Siska yang tidak kunjung bangun, sejak dirinya masuk kembali ke kamar keduanya. Tapi tidak sekalipun Darren lelah, ia dengan sabar membangunkan Siska dengan perkataan yang sama berkali-kali.


Meski tidak ada respon, bahkan penolakan dengan tidur membelakangi Darren yang ada tepat di sisi kirinya, Darren tidak menyerah dan tetap membujuk dengan senyum juga nada suara lembut. Bagaimanapun, Siska sangat kelelahan sampai tidak mau bangun karena dirinya. Karena ulahnya yang tidak bisa menahan nafsu.


"Sayang, aku mohon. Aku tidak mau melihatmu sakit. Bangun dan makan dulu, setelahnya kau lanjut tidur." Bujuk Darren lagi, tangannya juga sudah terangkat membelai kepala Siska dari belakang dengan lembut.


Tapi lagi-lagi, hanya erangan kecil penolakan yang Siska keluarkan sebagai bentuk jawaban dari bujukan Darren. Membuat Darren menghela nafas, sampai di kepalanya terbesit ide. Dengan ragu ia memikirkan ide yang ada dengan sangat baik.


Sebelum meng-eksekusi idenya, Darren mencoba membujuk kembali Siska sebanyak tiga kali. Tapi karena jawaban yang dilontarkan masih sama, akhirnya Darren memilih melakukan ide yang menurutnya sendiri sedikit gila.


Ide yang dimaksud adalah memancing Siska agar membuka matanya lebih dulu. Jadi, Darren meminum air putih tanpa menelannya, kemudian ia mendekati Siska, setelah membuatnya menghadap dirinya, Darren pun mencium Siska, membuat Siska refleks membuka mulut, alhasil aliran air mengalir di tenggorokannya.


Siska terkejut. Cara gila yang dipakai Darren membuatnya membuka mata, apalagi setelah tenggorokannya yang kering di aliri air. Selain sejuk, hanya ada kekesalan di hatinya. Tapi, itu enak, tenggorokannya terasa lega. Meski caranya salah menurut Siska. Bukan salah tapi di luar nalar pikirannya.


"Kau sedang apa, sih?!" Tanya Siska menghembuskan nafasnya kesal, setelah Darren melepaskan ciumannya. "Aku sudah bilang tidak mau." Lanjutnya merengut.


"Kau tidak mau, tapi tubuhmu harus tetap dapat nutrisi agar tenagaku kembali. Aku tidak mau melihatmu sakit. Menurutlah, setelah aku suapi makan, kau bisa tidur lagi." Jelas Darren seraya tersenyum kecil. "Juga, maafkan aku berlebihan, baik semalam maupun tadi pagi." Ucap Darren lagi.


Mendengar permintaan maaf, akhirnya Siska menghela nafas. Kemudian ia membiarkan Darren menguapi dirinya setelah Siska duduk dan bersandar dengan wajah lesu dan badan letih.


"Mau periksa saja tidak? Kau sepertinya kesakitan sekali. Aku merasa tidak nyaman dan tidak enak." Ringis Darren pada Siska, menatapnya dengan mencari jawaban di mata Siska. "Aku melihat ketidakwajaran di kelelahanmu saat ini. Apa hanya perasaanku saja?" Tanya Darren lagi.


Siska menghembuskan nafas, kemudian ia memaksa dirinya untuk duduk dan bersandar. "Jangan berlebihan, oke? Tidur seharian akan membuatku kembali bertenaga." Ucap Siska malas. "Aku makan sendiri saja." Lanjut Siska ketika Darren bersiap menyuapinya, tanpa mendengarkan ucapan Siska. Karena perkataannya sebelumnya memang sebagai pemancing saja agar Siska menyerah atas kekeras kepalaannya yang tidak mau bangun untuk makan.


Darren menggelengkan kepalanya, kemudian menyodorkan sesendok makanan pada Siska. Membuat Siska kembali menghela nafas dan akhirnya menerima suapan dari Darren. Suap demi suap, sampai sisa setengah di piring, Siska menggelengkan kepalanya, perutnya penuh dan tidak bisa makan lagi.


Darren mengusap kepala Siska lembut, kemudian membiarkan dirinya duduk selama 5 menit sebelum akhirnya memperbolehkan dirinya kembali berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur.


Menemani Siska sampai benar-benar terlelap, Darren pun beranjak dan duduk di sofa yang ada di kamar dengan piring di tangannya. Sisa makanan yang setengah, Darren habiskan, karena dirinya juga belum memakan apapun. Tapi karena enggan membawa lebih banyak dan turun ke bawah lagi, Darren pun menghabiskan setengah makanan tersebut.


Sampai piring kosong, Darren hanya menyimpan piring dan gelas kosong tersebut di meja, tanpa berniat mengembalikannya ke bawah.


Di sisi lain, di kamar lain yang dimana keluarga Siska dan Darren masih ada di restoran hotel, sedang bercengkrama meskipun acara makan siangnya telah selesai.


Semuanya asik mengobrol, bercanda dan sesekali tertawa melihat tingkah lucu Ergan dan Geri, juga Uqi dan Uni. Sisanya adalah obrolan para lelaki, khususnya Tuan Edden dan Suherman yang mengobrol perihal motor.


"Kita pulang sore ini?" Tanya Ergan pada Suherman.


Suherman mengalihkan perhatiannya dan menganggukkan kepalanya. "Benar, bersiap saja." Balas Suherman.


"Kakak ketiga dan kakak ipar ketiga, pulang sore ini juga?" Tanya Ergan lagi, dengan tatapan penasaran.


"Anak kecil tidak usah banyak bertanya. Ikuti perkataan bapak, bereskan barangmu di kamar sana." Ucap Sapta, mengambil alih jawaban, dengan tangan yang sengaja meraup wajah Ergan yang terlihat penasaran.


Membuat wajah yang penasaran, berubah seketika menjadi sedikit bodoh dan terkejut akhirnya karena raupan di wajahnya, tanpa ia sadari sebelumnya. "Kakak kedua! Kau menyebalkan, puh puh, tanganmu asin!" Ucap Ergan kesal.


"Kakak perempuanmu, ada Darren yang menjaga, tidak perlu khawatirkan dia. Kamar hotelnya sudah di bayar untuk satu Minggu, jadi mau pulang kapanpun, terserah keduanya." Jawab Suherman. "Ah, Uqi dan Uni nanti dengan kakek dan nenek dulu, oke? Tidak apa-apa ya, ibu tidak ada di rumah?" Tanya Suherman beralih pada Uqi yang lebih pendiam dari biasanya, sedangkan Uni sedang disuapi oleh Uqi yang sesekali tersenyum pada adikjya tersebut.


"Mengerti, kakek, kami akan patuh."Balas Uqi menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum kecil.


"Ah lucunya! Mau menginap di rumah kakek dan nenek tidak?" Tanya Wasilah dengan tatapan penuh harap.


"Tapi, nenek, besok Uqi harus pergi ke sekolah." Balas Uqi tidak enak. Apalagi menolak ajakan kakek nenek dari Darren, yang beru saja meresmikan diri menjadi ayah tirinya. "Kalau hari Sabtu nanti, bagaimana? Uqi libur, jadi kami bisa tinggal dengan tenang di rumah kakek dan nenek." Lanjut Uqi, mengutarakan opsi dan ide yang cukup bagus di otaknya.


"Setuju! Paginya ikut kakek sunmori!" Pekik Tuan Edden, merebut Uqi sebelum Wasilah menjanjikan perjalanan untuknya. Sesekali, ia juga ingin mengajak cucunya jalan-jalan, seperti temannya yang lain.


Meski bukan kandung, tapi Uqi sangat pintar dan patuh. Keduanya menyukainya, sama seperti menyukai ibunya. Jadi, tidak ada halangan lagi dari keduanya untuk hubungan Asta dan Darren.


Restu sudah meluncur sejak lama.


"Baik, begitu saja." Balas Uqi kembali mengangguk dan tersenyum.


"Ugh, kau merebut rencanaku. Tapi, Tidak apa, masih ada Uni yang bisa menemaniku pergi arisan nanti." Balas Wasilah, yang mengundang gelak tawa dari semua orang.


*


*