
*
*
Ibu Siska, datang seraya membawa kertas di tangannya, menghampiri Siska yang sudah duduk di kursi, di ruang tamu.
"Ini, kau tandatangani dulu. Setelahnya berikan pada Aldo, suruh dia tandatangan juga. Jika tidak mau, kau harus bilang jika kau menunggunya di pengadilan." Ucap ibunya.
"Hm? Jika Aldo mau menandatanganinya, apa kita resmi berpisah?" Tanya Siska, memang kurang tahu hal-hal seperti ini. Dia belum pernah mengalaminya. Orang disekitarnya pun sepertinya belum ada yang berpisah baik daikehidupan ini, maupun kehidupan pertamanya.
"Tidak, belum, nak. Ini hanya surat untuk menggugat saja, agar proses ke pengadilan lebih mudah. Tapi, jika Aldo tidak mau menandatanganinya, maka biarkan pihak pengadilan yang turun tangan. Kita, sebagai penggugat ini hanya bisa menunggu di hari H ketika sidang perceraian akan dilakukan." Jelas Ibunya.
Siska menganggukkan kepalanya, "Baik, baik, Siska paham. Nanti Ergan akan aku ajak juga, ya Ma. Takutnya ada apa-apa di rumah Aldo sana." Ucap Siska yang sebetulnya meminta izin.
"Ya, ide bagus, bawa saja dia." Setuju Ibunya.
"Kalau begitu, aku pergi sekarang saja, Ma. Sekalian mau ke bank untuk setor uang." Ucap Siska seraya beranjak, berdiri.
Setelah membawa persyaratan untuk mengajukan pembuatan rekening, Siska pun pergi bersama Ergan untuk pergi ke bank lebih dahulu. Karena biasanya, antrian bank akan lebih panjang jika datang lebih siang.
"Hhh... hari apa ini? Lumayan, antriannya tidak terlalu banyak. Hanya butuh 5 antrian lagi hingga sampai pada nomorku." Ucap Siska seraya tersenyum, dan berdecak senang.
"Kak, bagaimana kalau aku pergi ke rumah dia, dan kau disini saja mengantri. Surat cerainya biar aku yang berikan saja." Ucap Ergan membuat usul yang menurutnya mudah.
"Tidak, nanti pergi denganku. Tunggu saja, di bank tidak akan lama." Ucap Siska seraya mengetuk kepala Ergan. menolak usul konyolnya. Ini urusan Siska, jika Ergan yang pergi kesana, apa yang akan dikatakan orang-orang? Dia tidak mau membuat Ergan menimpa omongan orang-orang tidak bertanggung jawab itu. Ergan masihlah anak kecil, dimatanya.
"Huh! Yasudah kalau tidak mau." Ucap Ergan seraya mengedikkan kedua bahunya. "Ngomong-ngomong kak, postingan di tutub, tayangannya masih naik. Apa kita bisa mendapatkan banyak uang jika tayangannya terus naik?" Tanya Ergan antusias, ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu, di samping Siska yang sedang mengecek kelengkapan berkasnya.
"Tentu saja, jika sudah melakukan monetisasi dan menyambungkannya ke adsense, per1000 views bisa menghasilkan 200 ribuan. Punyamu juga, sudah aku sambungkan, tinggal menunggu pembayaran saja nanti masuk." Ucap Siska tersenyum, seraya menaikkan kedua alisnya, bangga.
"Wah, kak, kau sudah mengatur semuanya!" Seru Ergan makin bersemangat.
"Ya, tapi followers tutubmu masih kurang, jadi belum bisa dicairkan meski uang masuk." Ucap Siska tertawa lebar. Membuat Ergan menghela nafas, dan memasang wajah murung.
Siska kemudian menepuk pundak Ergan beberapa kali, "tenang, konten perdana kita akan segera diluncurkan. Pasti akan banyak yang menonton, karna ini merupakan inovasi baru!" Ucap Siska.
"Wah! Kalau begitu bagus sekali!" Seru Ergan kembali bersemangat. Membuat Siska lagi-lagi tertawa, Ergan sering sekali berubah murung dan semangat dalam sekejap, benar-benar seorang anak kecil.
"Antrian nomor 14 dan 15, silahkan masuk."
"Sudah dipanggil, kau tunggu disini, aku akan mengurus semua keperluan rekening dulu." Ucap Siska begitu mendengar nomor antrian miliknya dipanggil.
Ergan mengangguk menurut, ia tidak akan bosan juga sebab ada ponsel yang bisa ia mainkan ketika menunggui Siska.
Sampai 1 jam kemudian, Siska keluar dari bank. Ia memegang buku rekening berwarna biru. Melambaikannya pada Ergan dengan dengan raut senang.
"Nah, kebetulan sekali kakakku yang cantik sudah keluar. Cepat lihat, kami sudah punya buku tabungan sekarang." Ucap Ergan, sebetulnya sedang merekam.
"Kau sedang apa?" Tanya Siska mengerutkan keningnya.
"Merekam video, hanya untuk kenangan saja. Aku kira aku tidak akan bosan ketika menunggumu karena ada ponsel, tapi ternyata aku salah. Jadilah aku terpikirkan untuk merekam kegiatanku saja." Balas Ergan seraya tertawa kecil, ia sudah menghentikan rekamannya. Dan video pun tersimpan dalam gallery ponselnya dengan baik.
"Ah! Kau juga bisa menjadikannya sebagai konten! Tema dari kontennya tentang kehidupan sehari-hari. Bisa dimulai dari ketika kau bangun sampai kau tidur lagi isi kontennya." Jelas Siska, ketika teringat tentang konten-konten Daily life yang pernah ditontonnya, sebelum ia miskin sekali, dan akhirnya mati kelaparan.
"Ide bagus, kak! ayo kita buat konten ini!" Seru Ergan.
Ergan tidak mengeluh, tapi membenarkan perkataan kakaknya, jadi ia menurut dan mengikuti Siska dengan patuh.
Sesampainya di depan rumah Aldo, Siska lagi-lagi tidak menemukan orang di sana. Dariuar, rumahnya terlihat sangat sepi, tapi siapa yang tahu jika di dalamnya akan ada orang.
"Ergan, nyalakan ponsel dan rekam dalam diam, uagar tidak ketahuan, simpan ponsel di saku bajumu." Ucap Siska, hanya berjaga-jaga, firasat menunjukkan perasaan tidak enak kali ini
Kemudian Siska mengetuk pintu rumah Aldo beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya, Siska menggedor-gedornya, siapa tahu semua orang sedang tidur, jadi jika ia menggedor seperti ini, bisa membangunkan semua orang di dalam.
Sedangkan di sisi lain, di dalam rumah Aldo.
"Ah sial! Siapa yang mengganggu?!" Teriak Aldo kesal.
"Hentikan dulu saja, bukankah masih banyak waktu untuk kita berdua?" Ucap seorang wanita dengan nada manja, ia kemudian mengedipkan matanya lada Aldo.
"Huh, baiklah, kau tunggu disini. Tetaplah seperti ini sampai aku kembali." Ucap Aldo dengan senyum mesum, kemudian meninggalkan wanita yang ada di atas ranjangnya dan membuka pintu.
"Akhirnya ada manusia, aku kira semua orang disini tidak bisa mendengar." Desis Siska begitu knop pintu diputar.
"Aku kira pengemis mana yang berani sekali menggedor pintu rumahku. Ternyata istri cantikku, yang datang. Ada apa? Kau merindukanku?" Tanya Aldo dengan wajah sombong, dan tatapan penuh percaya diri.
Siska mengernyit jijik, tapi wajahnya dibuat sedatar mungkin. "Surat cerai, tandatangani." Ucap Siska.
"Ah, ini sudah datang, ya? Aku tidak menyangka akan secepat ini. Kau benaran mau pisah denganku? Yakin? Tidak akan menyesal?" Tanya Aldo jumawa.
"Tidak usah basa-basi, cepat tandatangani!" Tegas Ergan menatap tajam Aldo.
"Oh! Ternyata adik ipar. Bagaimana kabarmu? Apa masih miskin?" Tanya Aldo seraya tertawa puas.
Ergan dan Siska diam-diam senang begitu mendengar hinaan ini, Karena itu artinya Aldo tidak tahu jika Siska sudah punya usaha dan berpenghasilan besar.
"Dengan kau menghina kami begini, apa kau akan terlihat tampan? Tidak! Kau seperti babi." Desis Ergan membalas.
"K-KAU!" Pekik Also dengan menahan emosinya.
"Kau apa? Cepat tandatangan!" Titah Ergan, sedangkan Siska hanya diam di samping Ergan, tapi diam-diam dalam hatinya ia menyoraki Ergan dengan bangga.
"Sayang, siapa? Kenapa kau lama sekali?"
Nada suara manja yang terdengar oleh Siska dan Ergan, membuat keduanya bergidik. Kemudian terlihatlah seorang wanita dengan gulungan selimut sampai sepaha.
"Astaga! Kau tidak punya baju, ya?!" Cibir Ergan jijik. "Ada tamu, harusnya tahu sopan santun."Lanjutnya. Membuat wanita yang baru datang itu, mendelik sinis.
"Hanya wanita miskin, kau kembalilah, tunggu aku. Aku akan segera menyelesaikannya." Ucap Aldo seraya mengecup mesra wanitanya di hadapan Siska dengan sengaja.
Siska tertawa dalam hati, pikir Aldo apakah dirinya akan kepanasan dan cemburu? Naif sekali. Ia justru senang, karena akan ada bukti untuk sidang nanti.
"Cih, kemarikan kertasnya! Aku tandatangan!" Desis Aldo kemudian merebut kertas dari tangan Siska dan menandatanganinya dengan mudah.
Siska tersenyum, kemudian mengambil kertasnya kembali. "Baik, terimakasih, karena sudah menunjukkan wajah alsimu." Desis Siska. "Ergan, ayo kita pergi." Lanjut Siska.
*
*