Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Keluarga Terkejut


*


*


Pukul 7, semua orang telah sampai di restoran baru. Semuanya dalam keadaan senang. Berbeda dengan Darren yang memasang wajah datar andalannya. Siska, pun sama. Ia terlihat senang dipermukaan, tapi di dalam ada perasaan tidak nyaman.


Karena sejak obrolan keduanya pagi tadi, Siska dan Darren dalam keadaan perang dingin kini. Siska bersikap senatural mungkin, tapi Darren membuat orang curiga, sebab ia tidak menegur Siska sama sekali. Terlebih ibunya, yang suka memerhatikan sikap keduanya.


Meski biasa saja, ibunya tetap merasakan ada yang aneh dengan sikap Siska. Pun dengan kakak pertamanya. Sedangkan ketiga laki-laki lain, bersikap bodo amat seolah olah tidak terjadi masalah apapun.


Apalagi Ergan, sejak awal selesai mandi dan sudah siap, ia mulai merekam kembali kegiatannya. Ini bisaenjadi awal dari pembukaan konten selanjutnya tentang review restoran yang akan dibuka hari ini.


Begitu sampai juga ia langsung merekamnya dengan jelas, setiap sudut tidak ada yang terlewat. Tapi hanya bagian luar, lantai satu, lantai 2 dan ruang VIP nya saja. Tidak dengan dapur, dan ruangan lain yang dirasa sangat tidak perlu.


Setelah selesai, satu jam kemudian, pukul 8, seraya menunggu resto cafe di buka, Ergan memposting video yang direkamnya, yang lagi-lagi No edit. Seraya menunggu, Ergan melihat view dari video yang kemarin malam dipostingnya.


Matanya terbelalak, dan mulutnya berkata wow seketika, setelah ia melihat viewers yang begitu banyak dalam satu hari, yang bahkan belum 24 jam. Sudah 1 juta penayangan, rekor baru di akun tutub Ergan.


Setelah melihat jumlah viewers, Ergan kemudian melihat satu persatu komentar yang diberikan para penonton kontennya. Dahinya mengkerut, ia tak suka, memang banyak yang mendukung, tapi kali ini juga banyak yang memojokkan dirinya dengan sedikit penghinaan.


Dalam konten, Ergan menyebut nama perumahan Turnuksio. Dan hal ini yang menjadi kontra beberapa kalangan. Mereka mengejek dirinya tidak mampu karena membeli rumah di perumahan kumuh. Juga ada yang mengejek tentang harganya yang sudah pasti murah disana.


Oke, Ergan tidak terlalu ambil pusing pada hal tersebut. Tapi, paling tidak suka pada komentar yang sudah ada sangkut pautnya dengan keluarga. Konten tersebut tidak di edit, otomatis Darren tersorot jelas. Ia berada di samping Siska dengan tatapan yang tertuju pada Siska pula.


Beberapa orang tahu, jika Darren adalah pimpinan muda Wistara. Dan mulai memojokkan kakaknya, Siska. Adanjuga orang yang menghina kakaknya karena Darren.


Ergan kesal, menurutnya tidak ada yang salah. Lagipula Darren sendiri tidak ada pasangan, dan Darren juga tidak keberatan ketika ia meminta izin akan memposting video tersebut.


Memang para penonton ini, menyebalkan. Tapi Ergan rasa, penonton kali ini lebih banyak memberi hate komen pada kontennya. Daripada komentar di konten-kontennya yang lain yang sebelumnya.


Ergan jadi berpikir, mungkin jumlah tayang yang melonjak ini karena Darren dan perumahan yang menurut orang-orang kaya tersebut kumuh, bukan?


Ergan hendak membalas hate komen dari para penonton kontennya. Tapi Siska yang memang sejak awal ikut melihat, menghentikan Ergan.


"Biarkan saja. Mereka tidak tahu faktanya. Tidak perlu repot-repot membalas, mereka akan berhenti sendiri nanti. Jika kau membalas, mereka akan menjadi." Ucap Siska santai. Padahal dirinyalah yang dihina dan dipojokkan. "Lagipula aku cukup cantik disana. Dan masalah perumahan, lihat nanti, mereka semua pasti akan berbondong-bondong membeli rumah di perumahan ini. Ah, aku jadi ingat, aku membeli 40 rumah di sana. Uangku kurang, jadi pakai uangmu dan Geri dulu oke? Tambahkan uangku." Ucap Siska seraya tersenyum.


"Ada apa? Tidak boleh bicara begitu pada kakakmu." Tegur Ayah dan ibunya.


"Ma, Pak, kakak ketiga membeli 40 rumah di perumahan Turnuksio! Bagaimana bisa aku tidak meneriakinya gila?" Tanya Ergan frustasi.


Siska tertawa dibuatnya.


Ayah dan Ibunya melebarkan matanya. Juga Geri, dan Sapta yang berniat menghampiri meja yang diduduki semuanya. Sedangkan yang lainnya masih berkeliling dan berurusan dengan Satria.


"SISKA!" Tegur Sapta melotot padanya.


"Oh ayolah, aku tahu apa yang aku lakukan, kalian semua tenang saja oke? Tunggu hasilnya nanti. Yang terpenting pinjami aku uang dulu saja, ya!" Jelas Siska seraya tertawa kecil. "Ah, satu rumah harganya 350 juta. Juga kita masih harus mencat ulang setiap rumah yang sudah terlihat pudar warnanya." Lanjut Siska.


Geri dan Ergan dengan cepat membuka kalkulator diponsel mereka. Satu rumah adalah 350 juta, dikalikan 40 rumah.


"KAK! Itu 14 miliyar, belum dengan uang cat!" Pekik Ergan makin frustasi. "Aku tidak ada uang sebegitu banyak?" Lanjut Ergan ingin menangis saja.


Mampuslah kakaknya berhutang besar sekali, apa ia akan selamat dari kejaran hutang? Astaga, kakaknya ini, benaran kehilangan akal ya.


"Tenang, bisa dicicil dalam 5 bulan. Selama 5 bulan ini, aku yakin aku bisa melunasinya. Tentu ditambah dengan uang penghasilan Ergan dan Geri! Hore!" Pekik Siska seraya bertepuk tangan dengan senang. "Kalau begitu, aku harus kembali ke dalam,.Ada yang mau aku tanyakan pada Satria." Lanjut Siska seraya tersenyum,.dan berlari meninggalkan keluarganya yang masih tercengang dengan jumlah nominal yang harus dibayar.


14M! Bukan nominal yang kecil! Itu sangat besar, dalam lima bulan penghasilan Siska tidak akan mencapai 14M. Ah tidak, sepertinya akan sampai meski tidak meminjam uang Ergan. Resto Cafe akan dibuka hari ini. Meski akan diadakan diskon pada pembukaan pertama, semuanya yakin keuntungan dari resto cafe akan lebih besar dari dua kedai yang ada di desa dan kabupaten.


Apalagi ini diibukota, semua harga tidak serendah di desa dan kabupaten yang masih ada harga 5000. Harga paling rendah adalah 25k untuk di lantai pertama, dan 75k untuk di lantai 2, sedangkan di lantai 3, ruang VIP bisa mencapai 300 ribuan setiap ruang. Tarif disesuaikan dengan luas ruangannya.


Meski hari ini diskon, keuntungan juga akan tetap ada, hanya saja, mungkin tidak akan sebanyak hari kedua dst, karena merupakan ajang promosi juga untuk semua orang diibukota ini.


Diskon juga diberikan berbeda di setiap kalangan. Untuk pelajar dan mahasiswa ditetapkan 20 persen, dengan menunjukkan identitas pelajarnya. Untuk warga biasa 15 persen. Dan untuk para pebisnis, 10 persen, karena tentunya akan memilih tempat di lantai 2.


Para pebisnis pastinya akan datang, mengingat Wistara Karsa adalah orang yang membangun tempatnya. Darren juga dengan sukarela mengajak rekan dan koleganya untuk datang, sekalian mempromosikan tempat baru.


*


*