
*
*
Besoknya, pukul 10 pagi, semua orang makan bersama. Semuanya diam tidak seperti biasanya. Terlebih kelima orang laki-laki dewasa yang ada di sana. Padahal biasanya meja makan akan ramai, entah itu oleh celetukan Ergan atau desisan kesal Sapta pada Darren.
Suasananya benar-benar aneh dan canggung. Ibunya bahkan diam, memakan makananannya sendiri dalam diam. Kedua kakak ipar juga terlihat bingung dengan suasana di meja makan sama halnya seperti Siska.
Ada apa sebenarnya, ia sangat bertanya-tanya. Kemarin malam semuanya bahkan terlihat baik-baik saja. Semua terasa hangat dan menyenangkan, tapi kenapa ketika semuanya makan malah terasa hawa tertekan dan suram.
Apa mungkin karena sarapan kesiangan? Ah tapi, memang semuanya kesiangan karena semalam tidur pukul dua bukan? Siska bahkan ingin sekali bertanya pada Darren ada apa dengan dirinya dan ke empat orang penting dihidup Siska yang lainnya.
Tapi kedua kakak ipar mengkodenya, untuk tidak mengganggu semuanya dan Siska pun menahan diri, makan dalam diam. Uqi, Uni, dan Desi masih tidur di kamar. Geri pagi-pagi sekali sudah pergi hang out dengan teman-temannya. Di meja makan hanya ada Ayah, ibu, kedua kakak dan kakak ipar, Ergan, Siska, serta Darren.
Sampai sarapan selesai, Siska akhirnya tidak tahan, dan pergi lebih dulu, tidak mau merasakan aura tertekan dan aura suram lagi yang ada di meja makan. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar dan tidak mempedulikan semua orang di meja makan.
Kemudian ia membangunkan Uqi dan Uni, setelah menunggu beberapa saat, ia akhirnya memandikan keduanya dan mengajak keduanya keluar, makan dan berjalan-jalan bersama. Kali ini, ia mengajak Uni, tidak hanya Uqi saja.
Keduanya senang, karena akan pergi jalan-jalan, tapi ketika melihat Siska dan dua anaknya pergi, semua orang buru-buru mencegatnya. Akhirnya Siska menatap semuanya dengan tatapan jengah.
"Jangan menghalangiku." Ucap Siska malas.
"Mau pergi kemana? Kenapa tidak ada bilang apapun? Bahkan tidak bilang pada Bapak?" Tanya Darren, di belakangnya sudah ada keempat orang yang sama-sama menatap Siska dengan tatapan tanya.
"Buukan urusanmu, cepat minggir." Ucap Siska jengah.
Darren menggelengkan kepalanya, " Kalau mau keluar, ayo pergi bersama, aku tidak akan membiarkan kalian pergi sendirian. Aku akan sangat khawatir." Ucap Darren lagi, disetujui keempat orang di belakangnya.
Siska memicing sinis. Apa empat orang di belakang Darren kini memihak Darren? Semuanya serempak menahannya? Bagus sekali. Siska makin kesal dibuatnya. Tidak, Siska sangat tidak suka dengan keadaan dan ketidak tahuaj dirinya hari ini.
Siska bahkan bertanya pada dirinya sendiri apakah dirinya ada salah. Tapi lihat kelima laki-laki di depannya malah seperti ini? Setelah apa yang terjadi di meja makan, semuanya serempak menghalanginya. Memangnya Siska tahanan?
"Aku bilang minggir! Dan jangan ganggu aku, hari ini!" Desis Siska dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya. Rautnya bahkan serius dan terlihat menajam.
Darren secara tidak sadar menghindar, begitupula keempat lainnya, membuat Siska berdecih kecil dan melanjutkan langkahnya dengan Uqi dan Uni yang ada di sampingnya. Keduanya bahkan bingung melihat ibunya yang terlihat marah pada kakek dan pamannya. Dan keduanya lebih memilih diam tanpa banyak bicara.
Sampai akhirnya ketiganya naik mobil dan meninggalkan pekarangan rumah, menuju restoran lebih dulu karena Uqi dan Uni harus makan lebih dulu, dari pagi belum mamakan apapun, karena baru saja bangun tidur.
Ia melihat keduanya makan dengan seksama, lagi-lagi ia menatap keduanya lembut, merasa bersyukur karena bisa melihat kedua anaknya tumbuh besar di hadapan matanya sendiri. Bayang-bayang kematian keduanya yang mati kelaparan, perlahan hilang, tertutup oleh kesyukuran atas pertumbuhan keduanya.
Setelah selesai, ketiganya keluar restoran, dan di luar, sudah ada Darren dan Ergan berdiri menatap Siska.
"Sayang, aku mengikutimu dari rumah." Ucap Darren jujur.
"Untuk apa? Aku hanya ingin jalan-jalan dengan dua anakku. Kalian pulanglah, nanti aku akan pulang setelah merasa lebih baik.", Balas Siska setelah menghela nafas.
"Tidak, ayo masuk mobil, aku akan menjelaskannya. Keadaan tadi pagi, kan? Membuatmu tidak nyaman?", Tanya Darren lembut.
"Cih! Baru sadar?!" Desis Siska sinis.
"Kakak, biarkan Uqi dan Uni bersamaku, aku akan mengikuti mobil kak Darren dari belakang menggunakan mobil kita dengan supir. Oke? Jangan marah, kak." Ucap Erga,n membujuk.
Siska kembali menghela nafas, kemudian menyetujui ucapan Ergan, dan pergi dengan Darren menaiki mobilnya. Sama-sama ada supir, Darren tidak mau terjadi apa-apa pada dirinya karena ia masih kelelahan setelah bekerja selama 3 bulan. Jadi, Haris memberikan supir perusahaan untuk menemani Darren pulang, karena dirinya tidak bisa ikut pulang, dirinya juga masih harus merayakan tahun baru dengan keluarganya sendiri.
"Bapak, kakak, dan adikmu sudah tahu. Bahkan ibumu." Ucap Darren.
" Tahu apa?" Tanya Siska bingung, tapi detik berikutnya matanya membulat. "Kau memberitahu mereka?! Aku kan sudah bilang jangan beritahu mereka! Kau ingkar janji!" Ucap Siska emosi.
"Sayang, tenang... Bukan aku, aku tidak membocorkanya sama sekali. Aku bersumpah!" Balas Darren sungguh sungguh.
"Jika bukan kau, siapa lagi?! Hanya kau yang aku beritahu! Sekarang mereka tahu, bukankah mereka akan mengkhawatirkan ku?! Mereka akan tertekan jika aku pergi selangkah saja dari rumah!" Ucap Siska kesal.
Pantas saja, pantas saja suasananya aneh tadi. Ternyata memang semuanya sudah tahu, kecuali dua ipar dan Geri, serta anak-anak kan? Kenapa Darren dengan ceroboh memberitahu rahasianya pada keluarganya, padahal ia hanya tidak ingin mereka khawatir padanya. Harusnya ia tidak cerita juga, kan, tadi malam? Seharusnya ia biarkan saja Darren tidak tahu, harusnya ia juga membiarkan saja dirinya memendam hal itu sendirian jika akhirnya begini.
"Siska, tidak bisakah dengar penjelasan ku dulu? Jangan menyela ketika aku bahkan belum selesai berbicara. Mengerti?!" Tanya Darren dengan nada suara tegas.
Siska akhirnya diam, dan mengangguk lemah. Perasaannya jadi tidak karuan. Ia bahkan tidak menjadi lebih baik ketika keluarganya tahu rahasianya. Malah khawatir.
"Ergan yang mendengar, bahkan merekam kegiatan kita semalam. Kakak pertama tahu, lalu ia memberitahu kakak kedua, serta Bapak dan Mama." Ucap Darren, ia menatap Siska lekat, tangannya juga terulur mengelus kepala Siska, membuatnya lebih tenang.
Bahu Siska luruh. "Maaf, aku menuduhmu." Ucap Siska. "Boleh peluk aku?" Tanya Siska kemudian, membuat Darren mengangguk mengerti.
"Kapanpun kau mau, kau bisa memelukku. Jangan khawatir, aku telah menenangkan mereka sebelumnya. Jadi sekarang mereka juga tidak akan terlalu melihat ke masa lalu. Mereka hanya akan mendukung dan menopangmu agar lebih bahagia dan senang di masa depan. Hanya saja, kau harus siap dengan sikap protektif kedua kakak dan adikmu." Ucap Darren, seraya memeluk Siska.
"Ya... aku mengerti. Terimakasih, Darren." Ucap Siska lirih, ia menenggelamkan kepalanya di dada Darren, ingin menghilangkan pikirannya sejenak dengan meraup ketenangan dari Darren.
*
*