Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Turnuksio Residence


*


*


Perumahan Turnuksio adalah perumahan yang akan populer pada tahun 2011 mendatang. Karena nantinya akan dibangun satu buah pusat pembelanjaan dan pariwisata di dekat perumahan ini. Terlebih, akan ada sekolah menengah atas dan pertama di dekatnya yang berbasis nasional.


Dan hal sekolah nasional inilah yang menjadi akar, menjadi awal mula perumahan Turnuksio menjadi populer. Harga pembelian akan naik seketika begitu sekolah dibangun. Setelah sekolah akan ada pusat perbelanjaan dan tempat wisata sederhana juga.


Bukan hanya orang lokal yang tertarik, tapi oranguar juga sangat mengincar rumah-rumah yang ada di perumahan ini.


"Berapa harga satu rumah?" Tanya Siska berbinar. Membuat pegawai kebingungan, ia benar merasa tidak enak telah memperlihatkan rumah di perumahan Turnuksio pada Siska.


"Nona kau yakin mau yang ada di perumahan ini?" Tanya pegawai lagi.


"Yakin, sebut saja harganya." Ucap Siska lagi dengan semangat.


"Per satu rumah harganya berkisar 200-500 juta. 500 juta adalah yang paling luas dan besar. Harganya turun karena benar-benar kurang peminat." Ucapnya.


Siska makin berbinar. 2011 akan datang dalam 3 bulan. Dan selama 3 bulan ini, akan ada pembangunan besar-besaran di dekatnya. Harga perumahan seketika juga naik, tapi harga paling tinggi akan datang ketika semua bangunan telah selesai dibangun.


"Ada berapa rumah di perumahan ini?" Tanya Siska lagi.


"Ada sekitar 100 rumah, Nona. 30 rumah dengan luas paling besar. 30 rumah dengan harga 200 juta, 40 rumah dengan harga 350 juta, 30 rumah dengan harga 500 juta. Ah aku lupa, jumlah semuanya ada 101 rumah. Rumah paling besar, paling mewah, yang menjadi pusat dari setiap rumah-rumah di perumahan, harganya 1M. Karena luasnya sangat besar, yang menjadi mahal adalah harga tanah di bawah rumahnya." Jelas pegawai.


"Sudah include dengan property tidak?" Tanya Siska.


"Sudah nona."


"Ambil! Ambil yang 1M ini, juga ambil 40 rumah dengan harga 350 juta! Aku akan melunasi semuanya lusa. Hari ini aku akan bayar rumah yang 1M dulu, dan uang muka pembelian 40 rumah." Ucap Siska tidak segan segan.


Ia kekurangan uang, jadi hanya bisa membeli 40 yang harga 350 juta. Itupun, ia akan memberitahu Ergan dan Geri nantinya. Jadi, sebagian akan didapatkan uangnya dari dua bocah laki-laki ini.


Jika saja uangnya banyak, akan ia beli semuanya. Tapi, itu tidak akan baik. Oke. 40 rumah akan sangat cukup nantinya. Harga di tahun 2011, 350 juta akan berubah menjadi 1.5M paling mahal. Siska bahkan sudah sangat tidak sabar menjadi kaya dalam semalam.


"Beli rumah banyak sekali, untuk apa?" Tanya Darren akhirnya bersuara.


Bukan ia saja yang terkejut dengan penuturan Siska. Tapi semua orang yang ada di sana bahkan sangat sangat terkejut dengan langkah yang diambil Siska. Apa ia kelebihan uang sampai menghamburkannya begini.


"Tidak usah ikut campur, jika kau mau beli juga. Ikuti saranku." Ucap Siska penuh teka teki, membuat Darren mengernyit. Selain tidak suka dengan nada bicara Sisma, ia juga merasa heran dengan suruhan Siska.


Darren tidak berbicara lagi, tapi ia menatap Sahni. Sahni yang sudah tahu, langsung pergi, untuk mencari info tentang perumahan Turnuksio.


Siska tidak akan gegabah dalam bertindak. Jadi, Darren sedikitnya tahu jika Siska pasti punya alasan tentang perilaku dan sikapnya hari ini. Tidak mungkin Siska mau menghabiskan uang begitu banyak hanya untuk rumah yang tidak menarik perhatian tersebut.


"Hoi, ayo lakukan transaksi. Keluarkan dokumen rumahnya juga." Ucap Siska seraya tersenyum, menyadarkan pegawai di depannya yang masih terbengong karena terkejut bukan main.


Siska tertawa, "Sudah aku sudah sangat yakin, ayo lakukan pembayaran dengan cepat. Bukankah kau masih harus menghubungi perusahaan properti untuk mengirimkan dan membersihkan rumah yang aku beli ini?" Ucap Siska yang kemudian, dipanggil pegawai.


Ia tidak lagi mengingatkan Siska, tapi ia merasa tidak enak saja. Dirinya sudah dibantu, tapi Siska malah menghamburkan uang ke perumahan yang tidak menarik minat orang tersebut.


"Nona, aku tidak akan menutupi ini. Rumah utama di perumahan masih bagus. Sangat terawat. Tapi, rumah lainnya, catnya sudah mulai luntur dan berjamur. Kau yakin masih ingin membelinya?", Tanya pegawai lagi.


"Yakin, cat luntur tinggal ditimpal yang baru. Tenang saja, aku juga akan mempercantik rumah yang ku beli." Ucap Siska seraya mengedipkanatanya.


Akhirnya, pegawai juga tidak bisa melakukan apapun lagi. Ia hanya menurut saja, dan melakukan pembayaran dengan Siska sebanyak 2M. 1M untuk rumah utama, 1M untuk uang muka 40 rumah.


Alhasil, kini Siska memebawa 41 dokumen yang berisi surat-surat kepemilikan. Juga satu surat perjanjian tentang pelumasan uang rumah.


Setelahnya, ia meninggalkan agen tersebut, meninggalkan pegawai yang meskipun senang karena ia pasti akan mendapat bonus besar, tapi merasa tidak enak dengan Siska.


Sedangkan Siska, berjalan dengan senang, diikuti Darren yang kini menggendong Uni, juga Chika yang sama-sama mengikuti keduanya di belakang.


Mood buruk Siska malah kembali dalam satu jam saja. Ah suruh siapa ia melihat peluang untuk menjadikannya kaya raya. Alhasil, ia yang memang sudah hidup sebelumnya tentu tidak akan menyia-nyiakan peluang ini.


"Uni, apa ibumu baik-baik saja?" Tanya Darren berbisik pada Uni yang ada di gendongannya.


"Tidak tahu, Pama Dalen. Tadi mbu Masi malah-malah ketika makan siang. Sekalang malah sudah teltawa tawa begini. Hihh menyelamkan, Uni saja melinding." Balas Uni berbisik pada telinga Darren yang ada dekat dengan mulut kecilnya. Ia bahkan memeluk dirinya sendiri, memeragakan merinding yang ia ucapkan.


Darren hampir melepaskan tawanya ketika Uni berkata ibunya menyeramkan, astaga mulut kecilnya semakin pintar bicara saja.


"Tidak apa-apa, aku akan tetap suka." Gumam Darren, membuat Uni mengernyit, karena tidak mendengar jelas perkataan Darren barusan.


"Apa paman? Bicala apa balusan?" Tanya Uni bingung.


"Tidak ada." Balas Darren seraya tertawa, dan mengecup pipi Uni gemas.


Sesampainya di parkiran, Darren ikut masuk ke dalam mobil tanpa sepengetahuan Siska yang sibuk sendiri, membayangkan dirinya akan banyak uang kelak.


Sedangkan Chika, sudah lebih awal disuruh Darren agar dirinya duduk didepan, di samping supir yang menyapanya ramah.


"Ekhem." Darren berdehem agar Siska menyadari atensinya. Tapi nihil, Siska malah semakin tersenyum tidak jelas seraya memeluk dokumen yang menumpuk di pelukannya.


Darren dan Uni bersamaan melihat hal tersebut, dan menggelengkan kepalanya.


"Paman, apa menulutmu mbu sakit?" Tanya Uni, ia menatap Darren setelah menggelengkan kepalanya. Rautnya berubah khawatir melihat Siska yang tak kunjung menyadari situasi nyata.


*


*