
*
*
Siska terbangun di tengah malam karena perasaan yang gelisah. Tidurnya tidak nyenyak sama sekali ketika hatinya merasa sangat tidak nyaman.
Emosi menguasainya sejak pagi, dan sampai sekarang, ia masih tetap dikuasai emosi tersebut. Tapi semakin diabaikan, semakin gelisah rasanya, membuat tidurnya tidak nyenyak sama sekali.
Kini kepalanya terasa pusing, dan badannya jelas tidak nyaman. Tapi Siska mengabaikannya, berpikir jika mungkin ia tidak tidur nyenyak jadi merasa sedikit tidak nyaman kini.
Siska mengambil ponselnya yang mati sejak pagi. Kemudian ia menyalakannya, dan ratusan notif masuk dengan cepat.
Melihat nama Darren yang menghubunginya berkali-kali, Siska menghela nafas dan menjadi semakin emosi. Tidak ada satupun notif masuk dari Satria dan keluarganya. Jadi Siska hendak mematikan ponselnya lagi sebelum Darren kembali menghubunginya.
Tapi terlambat, Darren sudah melihat di pesan yang dikirimkannya sebelumnya pada Siska. Ceklis satu berubah menjadi ceklis dua. Seketika, ponsel Siska pun berdering nyaring, panggilan Masuk dari Darren datang.
Siska ingin tidak peduli, tapi ia tahu jelas perasaan tidak nyaman yang ia rasakan sangat berhubungan dengan Darren. Dan pada akhirnya, Siska mengangkat panggilannya.
Tapi hanya diam. Siska hanya mendengarkan suara cemas Darren dari seberang telfon. Siska membiarkan Darren terus berbicara tanpa henti disana, sampai akhirnya perasaan Siska sedikit membaik meski hanya mendengar suaranya. Siska kembali terlelap di bawah suara Darren yang masih mengalun, memanggilnya dengan lembut berkali-kali.
Perasaan gelisah yang sejak tadi ia rasakan, hilang, dan ketenangan hatinya membuatnya kembali mengantuk, di bawah tekanan kepalanya yang pusing, Siska akhirnya terlelap tidak lama setelah Darren menghubunginya.
Disisi lain, Darren yang pada Dasarnya tidak mendengar suara apapun di seberang, mendadak bertanya pada Haris tentang pukul berapa di ibukota sana.
Tengah malam.
Setelah mendapat jawaban, Darren mengangguk dan menebak jika Siska mungkin saja tertidur. Darren tidak mematikan ponselnya dan kemudian kembali istirahat di kamar hotelnya. Ia baru saja kembali dari seminar bisnis yang di adakan pengusaha property negar tersebut.
Darren tidak mematikan ponselnya, malah dengan sengaja mendiamkan ponselnya di atas telinganya, mendengar dengkuran halus Siska yang hampir tidak terdengar, sampai akhirnya ia juga tertidur.
Haris melihatnya, dan menghela nafas. Darren belum tidur sejak kepergian dan kedatangannya ke negara tersebut. Selain acara mendadak dan mendesak, kabar dari Sahni juga membuatnya cemas dan berakhir tidak fokus. Jangankan tidur, di rapat pagi hari ia bahkan beberapa kali ditegur marena melamun.
3 jam kemudian, Darren bangun setelah Haris membangunkannya untuk makan malam. Darren bangun dan langsung mengecek ponsel, kemudian tersenyum ketika sambungan telfon masih tersambung.
Setelah membersihkan diri, Darren meminta earpods pada Haris, kemudian memakainya setelah menyambungkannya pada ponsel. Setelahnya ia menjadi lebih tenang karena ia tetap bisa mendengar suara nanti ketika Siska bangun dari tidurnya.
Makan malam telah selesai, dan Darren kembali melakukan pertemuan dengan beberapa koleganya yang sedang mengadakan sebuah acara.
Dua jam berlalu, dan acara telah selesai, Darren dan Haris kembali ke hotel dengan perasaan lebih tenang. Ponselnya masih terhubung ke panggilan, di acara, Darren juga sesekali mengecek ponselnya.
"Haris, menurutmu di sana mungkin sudah pukul 7 pagi bukan?" Tanya Darren.
Haris membenarkan, dan perasaan Darren menjadi tidak nyaman setelahnya. "Hubungi Sahni, Siska masih belum bangun." Ucap Darren, Haris langsung menghubungi Sahni membuat Sahni yang sudah bersiap dan akan sarapan langsung bebelok ke arah kamar Siska.
Tok! Tok!
Tidak ada jawaban sama sekali, membuat Sahni mengernyit, karena biasanya Ssika akan langsung meresponnya.
"Siska?" Panggil Sahni lagi, tapi 5 menit Sahni menunggu, Siska masih tidak merespon. "Aku masuk, Siska." Ucapnya lagi, dan membuka pintu kamar Siska pelan.
Siska masih tidur, bergelung di bawah selimut. Sahni mendekati Siska ketika melihat ada hal aneh pada Siska. "Siska? Kau baik-baik saja?" Tanya Sahni yang langsung terdengar di telinga Darren.
"Siska? Astaga! Panas sekali!" Pekik Sahni yang sukses membuat Darren tertegun, ia dengan cermat mendengarkan Sahni. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang ketika Sahni memekik.
"Siska! Tunggu sebentar, aku panggil Bu Arum dulu." Ucap Sahni terdengar panik, dengan cepat berlari keluar kamar Siska.
Haris yang sama-sama sedang menelfon, juga menjadi tegang. "Sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Haris, telfonnya menempel di telinga. Darren sendiri mendengar suara Sahni melalui sambungan telfon di ponsel Siska.
Tidak lama sejak Sahni pergi, terdengar kembali suara panik dan ketukan sepatunya yang mendekat. Darren menunggu dengan gelisah di samping Haris. Tidak nyaman, sangat tidak nyaman.
Disisi Siska, asisten rumah tangga yang bernama Arum sudah kembali ke sisi Siska dan mengecek suhu tubuhnya. Di sampingnya Sahni melihat Siska yang mulai menggigil dan mengerang kesakitan.
"Nyonya Sahni, oh tidak demamnya tinggi sekali, 40 derajat, sebaiknya kita membawanya ke dokter sesegera mungkin." Ucap Arum dengan panik.
"40 derajat?!" Pekik Sahni terkejut. Sangat tinggi, Sahni jelas tahu 40 derajat adalah suhu yang tidak normal.
Bu Arum dan Sahni akhirnya memanggil supir, dan membantu Siska masuk ke dalam mobil, membawanya dengan cepat ke rumah sakit.
Di perjalanan, Sahni akhirnya ingat pada ponsel yang sedari awal dipegangnya. "Sayang, Siska mengalami demam tinggi. Suhu tubuhnya 40 derajat, ia juga menggigil dan terlihat sangat tidak nyaman saat ini. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat dengan bu Arum." Ucap Sahni kemudian mematikan panggilannya secara sepihak, karena begitu Sahni selesai menjelaskan, mobil telah sampai di rumah sakit.
Di sisi lain, Darren tidak bisa tidak merasa khawatir. Bahkan takut, ia rasakan kini. Membuat kegelisahan sangat kentara di rautnya.
"Haris, kembali. Pesankan tiketnya sekarang." Ucap Darren dengan ada perintah, Haris tahu, dan Haris tidak membantah sedikitpun.
Keduanya tetap kembali ke hotel untuk membereskan semua barang yang masih ada di hotel, dan melakukan prosedur keluar secepat mungkin. Setelahnya, langsung pergi ke bandara.
"Darren, penerbangan paling cepat masih dua jam lagi." Ucap Haris membuat Darren menggertakkan giginya. Rautnya jelas menahan emosi dengan mata yang memerah.
"Hubungi Raymond, pinjam jet pribadinya!" Titah Darren.
Haris dengan cepat menghubungi teman sekaligus kolega yang Darren punya di negara tersebut. Jet pribadi temannya memang ada di bandara tersebut. Dan sudah ada izin legal yang ia kantongi.
15 menit kemudian, Haris berhasil meminjam setelah menjelaskan situasinya pada Raymond. Raymond yang kebetulan dekat bandara pun langsung datang dan menemui Darren.
Setelah melakukan basa basi dan prosedur untuk penerbangan, akhirnya Darren pun bisa kembali lebih cepat dengan jet pribadi milik temannya.
*
*