Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ke Semarang


Jika ada seseorang yang merasakan kekosongan dalam hidup itu adalah Abraham. Bagaimana tidak, selama dua bulan dirinya mencari sosok Marsha, tetapi seolah-olah satu petunjuk pun tidak bisa dia dapatkan. Usahanya selalu nihil. Walau bekerja dan sembari terus mencari Marsha, sampai pria itu kehilangan beberapa kilogram bobot tubuhnya karena pikiran berat dan pola makan yang tidak teratur. Namun, Abraham tidak berhenti untuk terus mencari Marsha.


Kali ini Abraham menerima telepon dari salah satu temannya kuliah di Semarang dulu. Arman, yang merupakan teman satu kampusnya dulu menelponnya dan meminta bantuannya.


“Halo, ya Arman .. ada apa?” sapa Abraham begitu menerima telepon dari teman lamanya itu.


“Gimana kabarnya Bro? Masih di Jakarta?” tanya Arman.


“Masih dong … kalau enggak di Jakarta, mau mengais Rupiah di mana lagi coba?” sahut Abraham dengan tertawa. “Tumben nih telepon, ada apa?” tanya Abraham kali ini.


“Mau minta tolong sama kamu, kan kalau minta tolong sama temen sendiri sapa tahu dapat harga miring,” sahut Arman dengan tawa, sampai tawa itu membuat Abraham ikut tertawa.


“Gimana?” tanya Abraham.


“Mau minta tolong difotoin prewedding, Bro … di Semarang bisa?” tanya Arman.


Rupanya Arman menelpon untuk meminta Abraham mengabadikan momen preweddingnya di Semarang. Itu karena Arman tahu bahwa teman satu kampusnya dulu, Abraham memang jago memfoto, dan Arman ingin menjelang hari bahagianya itu Abraham yang bisa memotretkan untuknya.


“Di mana dulu?” tanya Abraham.


“Di Semarang lah … di Candi Gedong Songo,” sahut Arman dengan yakin.


“Konsep fotonya gimana?” tanya Abraham lagi.


“Enaknya gimana ya Bram? Kalau aku kepikiran, kan aku prajurit, jadi ya aku makai seragamku saja, dan wanitanya pakai gaun pengantin. Bagus enggak?” tanya Arman.


Semula Arman memang berkuliah di jalur biasa pada umumnya, tetapi hanya satu semester Arman memilih untuk keluar dan masuk sekolah calon Bintara (Secaba). Sehingga sejak saat itulah, Arman memilih untuk menjadi seorang prajurit TNI.


“Bagus sih … keren temenku ini seorang prajurit,” balas Abraham.


“Biasa aja … prajurit makannya ya masih nasi,” jawab Arman dengan begitu entengnya.


“Ya makan nasi lah, emang mau makan Tiwul?” sahut Abraham dengan tertawa.


“Udah lah … jadi akhir pekan ini bisa enggak ke Semarang. Terus nanti datang juga ya ke pernikahanku,” ucap Arman kali ini.


Begitu usai menutup telepon dengan Arman, Abraham memilih merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Pria itu memandangi foto-foto Marsha yang masih dia simpan di galeri penyimpanannya. Kembali pedih tiap kali memandang foto Marsha, tanpa bisa melihatnya secara langsung dan memeluknya.


“Akhir pekan aku akan ke Semarang, Sha … mungkin nanti kita akan bertemu di sana?” gumam Abraham sendirian.


Perlahan pria itu memejamkan mata dengan handphone yang masih menyala dan terpampang jelas foto-foto Marsha di sana. Dengan menatap foto Marsha, Abraham bisa menyalurkan rasa rindu dan perasaannya.


***


Akhir pekan pun tiba …


Hari ini, Abraham sudah berada di Bandara Internasional Soekarno - Hatta, dengan membawa satu koper dan satu ransel, Abraham siap untuk terbang ke kota asalnya kali ini. Tujuannya utamanya adalah memotret prewedding temannya yaitu Arman. Namun, di sisa-sisa waktu yang dia miliki, Abraham akan mengunjungi Mamanya dan mencari Marsha di rumah orang tuanya dulu. Semoga saja dengan kembali lagi ke Semarang, Abraham bisa menemukan jejak Marsha di sana.


Begitu terdengar suara pemberitahuan bahwa penumpang bisa memasuki pesawat, Abraham pun mengantri dengan membawa tiket di tangannya, menunjukkan kepada petugas tiket yang dia pegang saat ini. Dengan santai, Abraham berjalan menuju ke pesawat yang akan membawanya menuju ke Semarang.


“Silakan, bisa kami lihat tiketnya?” tanya seorang pramugari yang sudah berdiri di depan pesawat.


“7B,” jawab Abraham sembari menunjukkan tiketnya.


“Baik, silakan Pak … untuk ransel bisa ditaruh di kabin pesawat,” jawab pramugari itu lagi.


Abraham berjalan dan mencari tempat duduk dengan nomor 7B itu dan menaruh ranselnya di dalam kabin pesawat. Sembari menunggu para penumpang memasuki pesawat, Abraham melihat handphonenya dan kembali melihat foto-foto Marsha di sana.


“Hari ini aku akan ke Semarang, Sha … jika Tuhan mengizinkan mungkin saja kita akan bertemu di sana. Namun, jika tidak … aku akan terus mencarimu. Sampai aku menemukanmu,” gumam Abraham dalam hati.


Begitu seluruh penumpang memasuki pesawat, pramugari pun mulai memperagakan safety demonstration kepada seluruh penumpang mulai dari mengenakan sabuk pengamanan, jika pesawat dalam kondisi darurat dan sebagainya. Hingga perlahan-lahan pesawat mulai lepas landas. Pesawat mulai mengambil posisi, menambah kecepatannya, hingga perlahan-lahan badan pesawat terangkat ke udara.


Perjalanan udara 1 jam 15 menit akan Abraham tempuh kali ini untuk sampai di Semarang, melakukan tugasnya seorang fotografer dan sekaligus mencari Marsha di sana. Jika semesta mengizinkan, pasti Abraham akan menemukan Marsha di kota Lumpia itu.


“Semoga saja, kali ini aku menemukan jejakmu, Sha … aku akan ke Semarang, mengenang semua kenangan manis kita di sana. Saat kita kuliah bersama, dan aku selalu mengantar dan menjemputmu ke kampus. Teringat saat kamu mengajakku mengunjungi Eyangmu di Ungaran. Aku akan mengunjungi tempat-tempat yang dulu kita kunjungi bersama,” kata Abraham dalam hatinya.


Saat mengingat Marsha, tiba-tiba saja mata kanan Abraham berkedut dan pria itu merasakan jantungnya yang berdebar lebih kencang. Bukan lantaran takut naik pesawat, hanya saja ada rasa rindu yang menggebu dalam diri Abraham kali ini.