
Malam ini menjadi malam pertama bagi Marsha dan Abraham tidur di kamar tidurnya setelah dua hari menginap di Rumah Sakit. Ada yang berbeda dengan kamarnya kali ini tentu saja, dengan adanya box bayi yang ada di samping ranjang mereka, dan juga semerbak aroma bayi yang begitu harum. Perpaduan minyak telon dan parfum bayi beraroma floral terasa semerbak di indera penciuman Marsha dan Abraham.
"Capek Shayang?" tanya Abraham yang duduk di samping Marsha dengan bersandar di headboard.
"Enggak sih Mas ... malahan senang. Sudah di kamar kita lagi. Aroma baby banget ya Mas, sekarang kamar ini," balas Marsha.
Abraham pun merespons dengan mengangguk setuju. Baru beberapa jam mereka kembali ke unit apartemennya, tetapi kamarnya sudah berubah menjadi aroma bayi yang begitu khas. Sungguh, Abraham justru senang. Kali ini, dia benar-benar menjadi seorang Papa untuk putri kecilnya. Di masa lalu, Abraham memang tidak merasakan kasih sayang seorang Ayah, dan Abraham berjanji akan mencurahkan semua kasih sayangnya hanya untuk Mira. Menyayangi putri kecil dengan kasih sayang yang seluas samudra untuk putrinya.
"Mas, boleh enggak minta peluk? Kangen," aku Marsha yang memang merasa membutuhkan pelukan dari Abraham.
Biasanya ketika di unit apartemen, Marsha akan begitu nyamannya tidur dalam pelukan dan dekapan hangat Abraham, dan selama dua hari di Rumah Sakit, keduanya harus terpaksa pisah ranjang. Ya, Marsha yang tidur di brankar dan Abraham yang tidur di sofa. Bukankah itu adalah pisah ranjang?
Abraham yang mendengar permintaan Marsha pun mengangguk, pria itu segera membuka kedua tangannya dan segera memeluk Marsha. Pun demikian dengan Marsha yang segera menghambur dalam pelukan suaminya itu. Dua hari yang berat, tetapi juga penuh kebahagiaan. Kini, Marsha bisa leluasa meminta pelukan dari suaminya itu.
Baik Marsha dan Abraham memilih diam dan sama-sama menikmati pelukan hangat keduanya. Rasanya pelukan seperti inilah yang begitu menenangkan. Seakan menghapus semua jerih payah yang terasa berat. Pelukan yang memberikan kehangatan untuk Marsha dan Abraham. Ketika keduanya tengah berpelukan, rupanya Baby Mira yang semula tidur pun terbangun ... bayi kecil itu menangis. Kemudian Abraham pun segera mengurai pelukannya.
"Mira gak ngebolehin Mama dan Papanya pacaran tuh Shayang," ucap Abraham dengan terkekeh geli.
Sama halnya Marsha yang juga terkekeh geli karenanya, "Iya ... anaknya Papa tuh. Baru juga dipeluk, dianya sudah menangis," sahut Marsha sembari turun dari ranjangnya perlahan-lahan.
Dengan segera Marsha menggendong Baby Mira, dan kembali duduk di ranjang dengan bersandar di headboard. Marsha membuka beberapa kancing piyamanya dan segera melakukan perlekatan dan memberikan ASI untuk Mira.
"Mira haus lagi yah? Padahal Mama baru kangen Papa loh ... baru minta dipeluk Papa, Mira nya sudah bangun dan menangis," ucap Marsha dengan terkekeh geli.
Padahal, memang Marsha membutuhkan pelukan dari suaminya. Rasanya, tiap kali Abraham memeluknya, Marsha merasa begitu tenang dan juga nyaman. Pelukan dari Abraham seakan memberinya kekuatan untuk menjalani hari-harinya.
"Lucu ya Shayang ... mungkin malam-malam kita akan seperti ini deh," balas Abraham.
"Benar banget Mas ... malam-malam orang tua baru ya seperti ini. Mau apa-apa harus cepat, diutamakan untuk Si Baby," balas Marsha.
Abraham kemudian mengamati Baby Mira yang seolah terlihat begitu haus dan menghisap ASI dengan begitu kuatnya, kemudian jari telunjuk Abraham masuk dalam genggaman tangan mungil bayinya itu.
"Minumnya pelan-pelan saja, Mira ... wah, itu harta berharga Papa sekarang pindah hak milik. Mira cuma pinjam 2 tahun aja yah, selebihnya kembalikan ke Papa lagi," ucap Abraham.
Marsha yang mendengar celotehan suaminya pun terkekeh geli. "Jadi ini punya Papa yah?" tanya Marsha.
"Tuh, Papa kamu bisa saja sih ... lihat nih, Mas ... kenceng banget hisapnya ya Mas ... minumnya banyak," ucap Marsha.
"Iya Shayang ... minumnya kuat. Katanya kalau tambah besar kebutuhan ASI-nya bisa tambah banyak Shayang, bahkan di cerita-cerita itu ada ibu-ibu yang semalaman kancing kemejanya tidak dikancingkan karena bentar-bentar bayinya minta ASI," balas Abraham.
Membayangkan itu, Marsha pun terkekeh geli jadinya. Sampai Marsha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ihh, bisa-bisa masuk angin tuh dadanya kebuka sepanjang malam," balas Marsha.
"Kan fakta tuh Sayang ... habis kan mau dimasukkan ke tempatnya, si baby udah nangis lagi. Jadinya ya kebuka sepanjang malam," balas Abraham.
"Adik Mira jangan seperti itu yah ... nanti Mama bisa masuk angin," balas Marsha.
Abraham pun tertawa mendengar ucapan Marsha itu, kemudian Abraham mendekatkan wajahnya dan mencuri satu ciuman di pipi Marsha.
Chup!
"I Love U, Mama ... gak menyangka kita berdua akan sampai di tahap ini. Setelah sempat terpisah, petaka hasrat terlarang dan sekarang ada Mira di tengah-tengah kita. Kadang aku tuh mikir kok bisa kehidupanku seperti ini. Lika-likunya benar-benar banyak, cuma ya aku yakin ini adalah garis yang Tuhan gariskan. Apalagi ada Mira di antara kita berdua, rasanya aku jadi makin bahagia deh," balas Abraham.
"Kalau begadang sepanjang malam karena punya baby tetap bersyukur enggak?" tanya Marsha kemudian.
"Ya, walau capek ... disyukuri saja Shayang ... apalagi kemarin Dokter Indri bilang kalau bayi kayak gini sampai diusianya yang ke-40 hari masih mengikuti pola hidupnya selama di dalam masa kandungan. Jadi, nanti setelah 40 hari, kita lakukan sleep training ya Shayang. Jadi biar Mira mengenal siang dan malam, selain itu Mamanya juga bisa istirahat," balas Abraham.
"Ah, iya ... benar sleep training. Aku pernah baca tuh Mas dari artikel parenting yang tulis oleh penulis parenting katanya memang bayi bisa mulai dikenalkan waktu siang dan malam itu ketika mulai usia 40 hari, sudah bisa dilatih sleep training. Nanti aku pelajari lagi deh artikelnya," balas Marsha.
"Iya Shayang ... kan nanti kita bisa curi-curi waktu untuk pacaran," sahut Abraham dengan tertawa.
"Ah, modus deh ... ujung-ujungnya pacaran," sahut Marsha.
"Iya dong ... kan ladang batinku untuk butuh kamu, Shayang. Tidak sekarang ... kamu benar-benar sembuh dan pulih dulu. Sekarang fokus dulu saja untuk mengasuh Mira, belajar pelan-pelan, nanti aku bantuin. Minimal pulang kerja sampai malam kan ada aku. Aku juga pengen dilibatkan dalam mengasuh Mira," balas Abraham.
Sungguh, mendengar apa yang disampaikan oleh Abraham membuat Marsha benar-benar bahagia. Biasanya para suami akan mengeluh kecapekan usai pulang bekerja, sehingga banyak yang menggerutu saat dilibatkan atau dimintai tolong untuk mengasuh anak. Akan tetapi, Abraham justru sosok yang berbeda. Abraham mau dilibatkan dalam pengasuhan Mira, tentu saja Marsha sungguh senang. Sebab, segala sesuatu yang dikerjakan bersama-sama akan terasa ringan bukan?
Marsha rasanya begitu cinta dan bangga dengan Abraham. Di hadapannya itu adalah sosok suami dan Papa yang sangat hebat.