Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Persidangan Perceraian Perdana


Akhir Pekan pun Tiba ...


Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah bagi Marsha. Jika dua tahun yang lalu, hari bersejarahnya adalah saat Melvin Andrian meminangnya, disertai dengan ucapan akad dan seperangkat alat sholat. Hari ini, juga akan menjadi hari yang bersejarah karena mereka akan bertemu di meja hijau.


Pernikahan yang dua tahun lalu digadang-gadang menjadi salah satu pernikahan termewah tahun itu, nyatanya harus kandas. Publik menyayangkan keputusan yang diambil Marsha dan Melvin untuk mengakhiri pernikahan mereka. Namun, pernikahan yang hanya memberi pilu dan luka harus mereka akhirnya dengan cepat.


Pengadilan Agama di tempat kediaman Melvin tinggal memutuskan tanggal persidangan perdana yang jatuh pada hari ini. Sementara itu, Marsha memilih untuk datang sendirian. Dia tidak membutuhkan pengacara yang akan mendampinginya. Sementara dari pihak Melvin, sudah tentu Melvin akan hadir dengan didampingi kuasa hukumnya.


Kurang lebih jam 10 pagi, Marsha datang seorang diri di ruang persidangan. Wanita itu menghela napasnya yang terasa sangat berat, seakan sebuah beban menindih rongga paru-parunya. Di hadapannya kini adalah sebuah kenyataan yang harus dia hadapi, tidak akan lagi dia memilih mundur.


Marsha datang terlebih dahulu di persidangan. Wanita itu menunduk, merasakan grogi karena ini adalah pengalaman baginya berada di ruang persidangan. Keringat dingin pun perlahan juga membasahi keningnya, tetapi Marsha berusaha tenang dan menghembuskan nafas perlahan supaya dirinya bisa lebih tenang.


Selang 15 menit kemudian, tampak Melvin datang bersama dengan penguasa hukumnya. Kini, keduanya duduk saling berdampingan hanya setengah meter saja jarak, tetapi bagi Melvin dan Marsha sama-sama tidak bertegur sapa. Hingga akhirnya Majelis Hakim dan beberapa petugas di persidangan pun mulai memasuki ruang persidangan, sebagai tanda bahwa persidangan akan dimulai.


"Selamat siang semuanya, kali ini akan berlangsung sidang gugatan cerai antara pihak penggugat yaitu Saudari Marsha Valentina dengan Saudara Melvin Andrian sebagai pihak tergugat. Benar?"


Majelis Hakim membuka persidangan itu dan memastikan kedudukan penggugat dan tergugat.


Baik Marsha dan Melvin sama-sama menganggukkan kepala. Hingga kemudian Majelis Hakim mengetok palu sebagai tanda bahwa persidangan akan dimulai.


"Saudari Melvin Valentina, bisa jelaskan kenapa Saudari menggugat suami Anda yaitu Saudara Melvin Andrian?" tanya Majelis Hakim kepada Marsha.


Marsha perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap Majelis Hakim, ada helaan nafas yang muncul sebelum Marsha menjawab pertanyaan tersebut.


"Sebab, sudah tidak ada kecocokan di antara kami berdua. Selain itu suami saya justru melakukan kekerasan baik secara verbal, fisik, dan seksual," jawab Marsha kali ini.


Di hadapan Majelis Hakim barulah Marsha bisa mengakui bahwa dirinya adalah korban di sini. Marsha tak ingin melakukan playing victim seperti yang dilakukan Melvin, tetapi dia akan mengungkapkan semuanya di pengadilan.


"Itu tidak benar," balas Melvin yang tidak menerima jawaban dari Marsha itu.


"Mohon tenang. Nanti Saudara Melvin Andrian akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara," ucap Majelis Hakim lagi.


Saat Marsha menjawab pertanyaan dari Majelis Hakim, terlihat ada seorang petugas notulasi yang mencatat seluruh jalannya persidangan. Hingga bunyi ketikan dari papan keyboard menyertai selama Marsha memberikan jawaban.


"Apakah Saudari Marsha bisa memberikan bukti bahwa Anda adalah korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga?" tanya Majelis Hakim lagi.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia menyerahkan berbagai bukti, rekaman video, serta dua kali hasil visum yang dia lakukan ketika Melvin usai menganiayanya. Marsha seakan berada di atas angin dengan semua bukti fisik yang dia miliki.


Bahkan saat itu, ada potongan adegan perselingkuhan Melvin dengan Lista yang diambil Marsha secara sembunyi-sembunyi. Saat Marsha mengintip melalui celah di pintu unit apartemen yang terbuka itu, Marsha mengambil adegan panas keduanya dengan kamera mereka. Atas seizin hakim, video itu pun diputar. Betapa terkejutnya Melvin saat Marsha memiliki bukti itu. Rekaman itu bukan hanya mencemarkan nama baiknya, tetapi reputasinya sebagai seorang aktor papan atas.


"Cukup," ucap hakim tersebut.


"Apakah hasil rekaman video pelakunya adalah Anda, Saudara Melvin? tanya hakim kepada Melvin.


"Itu saya," jawab Melvin pada akhirnya.


"Berarti terjadi pula perselingkuhan antara Anda dengan wanita di dalam rekaman tersebut?" tanya hakim.


"Istri saya yang selingkuh lebih dulu, kemudian saya membalasnya," sahut Melvin.


Itu saja itu hanay sebuah alibi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya karena tidak ada bukti yang valid.


"Bagaimana Saudari Marsha, Anda mengakui jika Anda menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya hakim lagi.


"Ya, saya dekat dengan pria lain. Namun, alasan gugatan cerai saya karena suami saya yang memaksa saya berhubungan badan. Terlihat dari hasil visum bahwa sampai ada luka di bagian inti tubuh saya. Luka-luka yang tertera di setiap foto memperjelas rekam medis yang saya sertakan," jawab Marsha.


Secara jujur Marsha mengakui bahwa dirinya dekat dengan pria itu. Marsha tidak memungkiri itu, tetapi Marsha ingin hakim melihat pada pemicu gugatan cerainya.


Dengan memegang selembar kertas HVS berwarna putih, Majelis Hakim pun bertanya lagi kepada Marsha.


"Apakah tidak ada itikad untuk berdamai, Saudari Marsha?"


Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tidak bisa. Apa yang sudah dia lakukan sudah merampas hak saya sebagai seorang wanita. Hak untuk dilindungi, hak untuk dihargai, hak untuk didengar pendapatnya, tetapi semua itu tidak dia berikan. Yang ada justru dia menjadikan saya sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga," jawab Marsha dengan berkaca-kaca.


Kesedihan yang kini melanda hatinya, bukan lantaran menghadapi persidangan cerainya, tetapi merasakan sakit yang teramat sangat saat Melvin memaksanya berhubungan suami istri, saat Melvin melemparkan remote hingga melukai keningnya, dan bagaimana kekerasan demi kekerasan yang Marsha terima.


"Bagaimana dengan Anda sendiri Saudara Melvin? Apakah Anda beritikad damai dan memperbaiki kelakuan Anda sebagai seorang suami?"


Giliran Melvin yang mendapatkan pertanyaan dan harus menjawab pertanyaan tersebut.


"Saya ingin berdamai," jawab Melvin pada akhirnya.


Entah itu hanya ucapan kosong belaka, atau sebatas akting. Sebab, Marsha justru mendengkus kesal saat Melvin mengatakan dirinya ingin berdamai.


Melvin secara sekilas menatap Marsha, "Aku minta maaf untuk semua salahku. Akan tetapi, kita bisa melakukan mediasi bersama karena aku masih sayang kamu," ucap Melvin terlihat bersungguh-sungguh.


Namun, Marsha tak ingin terperdaya lagi. Marsha sudah bulat dengan keputusannya. Tak ingin menjadi korban lagi dalam prahara rumah tangga yang begitu pelik dan terus menyakitinya.


Helaan nafas pun terdengar dari Majelis Hakim. Hingga kemudian Beliau kembali membuka suaranya.


"Sebagaimana persidangan gugatan perceraian, kami akan selalu memberi waktu untuk melakukan mediasi. Saudari Marsha dan Saudara Melvin bisa memikirkan ulang nasib rumah tangga kalian berdua. Mengingat pernikahan yang masih berusia dua tahun, masih bisa mencoba mencari jalan tengahnya. Coba mengambil waktu tenang selama masa mediasi dilakukan dan dengan sebaik-baiknya menimbang perkara ini," ucap Majelis Hakim.


Tidak berselang lama, persidangan pun ditutup dan akan dilanjutkan tiga pekan lagi.


Marsha memejamkan matanya, tiga pekan adalah waktu yang sangat lama. Jika bisa sekarang, akan lebih baik jika dia bisa langsung bercerai dari Melvin tanpa ada mediasi. Akan tetapi, ada prosedur pengadilan yang terus berlangsung, maka dari itu Marsha hanya bisa menunggu. Berharap tiga pekan lagi semuanya usai, masalah rumah tangganya akan terselesaikan di ruang persidangan.