
Kembali ke Jakarta yang diagendakan Marsha dan Abraham terlebih dahulu adalah memeriksakan kandungan Marsha. Sebab, mereka juga ingin tahu dengan tumbuh kembang janin mereka. Terlebih Abraham yang merasa khawatir karena di kehamilan kali ini, begitu banyak air mata yang diteteskan Marsha. Abraham takut, jika semua itu berdampak kepada kehamilan Marsha.
"Besok kita cek kandungan ya Shayang," ajak Abraham kepada istrinya itu.
"Iya Mas ..., tapi karena Mama tidak ada di sini, jadi besok kita ajak Mira saja ya Mas," balas Marsha.
"Iya, besok ... kita ajak Mira saja. Tidak mungkin kan, kita akan menitipkan Mira ke rumah calon mertuanya," balas Abraham dengan terkekeh geli.
Marsha pun menupuk lengan suaminya itu, "Fixed ini Marsha jadi calon menantunya Crazy Rich? Yang mana emangnya? Mereka punya dua jagoan loh?" balas Marsha.
"Enggak bercanda, Shayang ... cuma yang kelihatan sayang sama Mira sih ya Si Elkan. Cuma kan tidak tahu kalau mereka besar nanti," balasnya.
Marsha pun tahu bahwa itu hanya sekadar candaan. Oleh karena itu, Marsha juga menanggapinya dengan santai. Lantas Marsha berbicara kepada suaminya itu.
"Kayak anak-anak di India saja yang dijodohkan waktu kecil. Namanya kayak Anandi," balas Marsha yang teringat dengan serial India yang dulu pernah dia lihat.
"Teringat serial India itu ya Shayang?" tanya Abraham.
"Iya, kan kasihan ... toh, akhirnya mereka juga mendapatkan jodohnya masing-masing. Jadi yah, pengenku Mira bisa menemukan cintanya sendiri ketika dia dewasa nanti. Cuma, apa yang terjadi di masa depan, kita tidak pernah tahu ya Mas," balas Marsha dengan menghela nafasnya.
"Kalau aku sebagai seorang Papa, penting itu seiman dulu, terus cinta sama Mira, setelahnya memiliki pekerjaan tetap. Jadi ya menantuku itu bisa memberikan nafkah lahir dan batin untuk anakku," balasnya.
Marsha menganggukkan kepalanya perlahan, "Dapat yang Papanya gini ... idaman banget. Idaman buat aku, maksudnya," balas Marsha.
Abraham pun tersenyum di sana, "Bisa saja sih Mama Marsha ... tuh, kamu di Jakarta bisa lebih rileks dan santai kan. Daripada di Semarang nanti kepikiran dan nangis terus," balasnya.
Marsha pun tersenyum, "Aku kayak orang yang lari kemana-mana yah. Kalau di Jakarta pusing pergi ke Semarang ... kalau di Semarang pusing balik lagi ke Jakarta," balas Marsha dengan menghela nafas.
"Anggap saja di Semarang untuk liburan Shayang ... bagaimana pun kan rumah kita akan di sini," balas Abraham.
"Iya Mas ... gak sabar besok ingin tahu jenis kelaminnya dedek bayi. Dulu kan, kita memilih menunggu sampai Mira lahir, kalau besok sudah ketahuan, aku pengen tahu boleh enggak Mas?" tanyanya.
Abraham pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Tentu ... boleh saja," balasnya.
Setidaknya kali ini Abraham juga setuju dengan Marsha jika Marsha memilih untuk bisa melihat jenis kelamin babynya. Sapa tahu bisa memberikan kebahagiaan lebih untuk Marsha yang selama ini begitu banyak bersedih.
***
Keesokan harinya ....
Marsha bersama Abraham dan Mira menuju ke salah satu Rumah Sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Ini pun menjadi pertama kali bagi Mira untuk turut ke Rumah Sakit dan melihat seperti apa pemeriksaan untuk Mamanya itu.
"Tidak Nak ... Mama tidak disuntik, cuma nanti perutnya Mama akan di-usg aja kok," balas Marsha.
Sampai akhirnya nama Marsha dipanggil oleh seorang perawat dan kemudian Marsha ditimbang berat badannya terlebih dahulu dan melakukan pengecekan tensi darah. Selanjutnya mereka masuk ke dalam ruangan Dokter Indri untuk melakukan konsultasi.
"Selamat malam ... halo, bertemu lagi nih," sapa Dokter Indri dengan begitu ramahnya.
"Iya Dokter ... selamat malam," sapa Marsha.
"Sama siapa nih?" tanya Dokter Indri yang bertanya dengan siapa Marsha dan Abraham datang karena biasanya Marsha dan Abraham datang hanya berdua.
"Ini Putri sulung kami, Dokter ... namanya Mira," balas Marsha.
"Hai Mira ... cantik banget yah. Mira usianya berapa?" tanya Dokter Indri lagi.
"Tiga tahun Dokter," balas Mira dengan mengangkat tiga jarinya membentuk simbol angka tiga.
"Wah, sudah tiga tahun yah ... seumuran sama cucu keponakan saya. Mamanya diperiksa dulu ya Mira," ucap Dokter Indri lagi.
Kemudian Marsha dipersilakan untuk naik ke brankar dan kemudian ada perawat yang mengangkat kemeja yang dikenakan Marsha dan kemudian memberikan USG Gell di perut Marsha. Setelahnya, Dokter Indri bersiap dengan transducer di tangannya.
"Baik, kita lihat yah ... sekarang Ibu Marsha sudah memasuki usia kehamilan 19 minggu. Sudah hampir setengah jalan yah, dan nanti bayi lahir di usia kehamilan 40 minggu. Sekarang kita lihat perkembangan bayinya yah. Janin dalam rahim Bu Marsha sekarang sudah sebesar lemon dengan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 15 sentimeter dan berat badan sekitar 240 gram. Ada banyak perkembangan yang telah terjadi pada janin di dalam kandungan ibu saat ini. Kini, mata janin sudah terbentuk dengan baik, begitu pula dengan tulang-tulangnya. Selain itu, kulit Si Kecil juga sudah mulai mengembangkan pigmen yang menentukan warna kulitnya nanti. Ia akan diselimuti oleh Vemix Caseosa, yaitu suatu zat seperti lilin tipis yang membantu melindungi kulit janin dari cairan ketuban. Di usia 19 minggu kehamilan ini juga terjadi perkembangan yang signifikan pada panca indera janin. Beberapa saraf, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan telah berkembang di otak janin. Penelitian menunjukkan bahwa janin dalam kandungan mungkin sudah bisa mendengar suara ibu sekarang. Jadi, mulai sekarang, sering ajak babynya mengobrol yah," penjelasan dari Dokter Indri.
Marsha dan Abraham sama-sama menganggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan dari Dokter Indri, dan kemudian Marsha berinisiatif untuk bertanya perihal jenis kelamin bayinya.
"Apakah di usia sekarang ini, jenis kelamin bayi kami sudah terlihat Dokter?" tanyanya.
"Baik, kita cek bersama ya Bu," balas Dokter Indri.
Kemudian Dokter Indri menggerakkan transducer di perut Marsha, sedikit memberikan tekanan untuk menemukan jenis kelamin bayinya.
"Bapak dan Ibu maunya babynya cewek atau cowok nih?" tanya Dokter Indri.
"Cowok Dokter," jawab Mira yang sudah mengatakan dia menginginkan memiliki adik cowok.
Di sana Dokter Indri tersenyum, "Wah, kebetulan banget ya ... selamat ya Cantik ... adiknya Mira cowok nih," jawab Dokter Indri kemudian.
Wah, Marsha dan Abraham pun tidak mengira bahwa baby yang masih berada di dalam rahimnya berjenis kelamin laki-laki. Itu artinya lengkap sudah kebahagiaan di dalam rumahnya. Ada Mira sebagai putrinya, dan akan lahir baby boy nanti sebagai putra mereka. Lengkap sudah rasanya.