
Pergerakan bibir Abraham benar-benar melenakan. Tangan pria itu yang menahan tengkuk Sara terasa kian menekan, bibir Abraham terus mencumbu bibir Marsha dengan begitu dalam. Nafas yang menggebu dengan pergerakan dada yang kembang kempis tak bisa ditahan lagi.
Marsha yang semula mendorong dada Abraham pun seakan tak lagi berdaya. Tangan itu akhirnya hanya bisa bertengger di dada bidang Abraham. Menerima ciuman demi ciuman, bahkan lu-matan demi lu-matan yang dilakukan Abraham ketika surya hendak kembali ke peraduannya.
Ciuman panas yang begitu memburu. Sayangnya, ciuman itu bukan ciuman antara sepasang kekasih. Melainkan ciuman antara seorang wanita yang sudah menjadi istri pria lain dan seorang pria yang dulu pernah singgah dan menjadi seorang mantan pacar. Namun, khilaf yang terjadi sore itu begitu memabukkan. Hisapan bibir Abraham, sapuan lidah pria itu yang memberi usapan demi usapan di permukaan bibir Marsha, bahkan pagutan demi pagutan yang terjadi seakan tak mampu ditolak oleh Marsha.
Satu tangan Abraham yang semula menahan tengkuk Marsha, perlahan menyusup dan membelai rambut Marsha. Meraba bahu dan punggung Marsha dengan begitu lembut. Seakan-akan Abraham ingin menenangkan Marsha dengan caranya. Menenangkan wanita yang pernah singgah di dalam hidupnya dulu itu dengan ciuman, dengan sentuhan yang melenakan.
Sampai di batas erangan lolos begitu saja dari bibir Marsha. Erangan yang semula tertahan di pangkal tenggorokannya akhirnya terucap juga.
“Ah,” erangan Marsha merasakan lidah Abraham yang menelusup dan memberikan godaan demi godaan di rongga mulutnya.
Semilir angin di bukit, lautan berwarna biru, berpadu dengan pesona senja yang begitu elok, menciptakan romantisme sendiri bagi Marsha dan Abraham. Saat kedua bibir bertemu, saat kedua lidah menyapa, yang terjadi adalah tindakan untuk saling menyapa dan melabuhkan perasaan yang seakan tertahan di dalam dada.
Bahkan saat dada Marsha kian sesak dan oksigen yang dia hirup kian tipis rasanya, tetapi bibir Abraham masih gencar untuk memagut bibir Marsha. Tangan Abraham yang semula meraba punggung dan bahu Marsha, seakan tergerak dengan sendiri dan ingin menelusup lagi di balik kaos yang saat ini Marsha kenakan. Tangan telapak tangan Abraham menyentuh permukaan kulit di punggungnya, Marsha segera terkesiap. Wanita itu mengatupkan kedua belah bibirnya dan kemudian mendorong dada Abraham.
Sebuah tindakan defensif yang membuat Abraham pun berhenti. Pria itu mengeluarkan tangannya dari balik kaos yang Marsha kenakan, kemudian menatap Marsha dengan mata yang sudah berkabut gairah di sana.
“Kenapa Marsha?” tanya Abraham dengan nafas yang berat. Bahkan pria itu membuang nafas dengan susah payah saat itu.
Marsha lantas memalingkan wajahnya, enggan untuk menatap Abraham yang masih terduduk di sampingnya, “Semua ini tidak benar, Bram,” balas Marsha.
Perlahan Marsha berdiri, wanita itu memberikan rumput-rumput yang mungkin saja mengotori celananya, dan kemudian memilih masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dadanya terasa sesak. Hampir saja, kegiatan gila antara dirinya dan Abraham terjadi. Untung saja, Marsha terkesiap dan menemukan kembali kesadarannya.
Abraham hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu memejamkan matanya sejenak dan kembali menghela nafas. Sungguh, Abraham mengakui bahwa pesona Marsha yang luar biasa dan seakan tidak berubah membuatnya khilaf dan mencium wanita yang sudah berstatus sebagai istri pria lain itu. Hingga akhirnya, Abraham pun menyusul masuk ke dalam mobil. Tangannya bergerak untuk menghidupkan mobil, tetapi Abraham masih enggan untuk menjalankan mobilnya. Pria itu melirik sekilas ke arah Marsha.
“Sorry, Sha … aku terbawa suasana,” aku Abraham pada akhirnya.
Tangan Abraham kini bergerak dan meraih tangan Marsha. “Tampar saja aku, Sha … tampar aku. Aku akui barusan aku khilaf,” aku Abraham kali ini.
Bagaimana bisa dirinya tidak khilaf, jika di sampingnya duduk seorang wanita berparas cantik. Wanita yang pernah menorehkan kenangan tersendiri di dalam dirinya. Di dalam hatinya, Abraham mengakui bahwa dirinya masih terpesona dengan sosok Marsha.
“Sebaiknya kita kembali ke hotel, Bram,” sahut Marsha kali ini.
Wanita itu masih memalingkan wajahnya. Seakan enggan untuk melihat wajah Abraham. Bahkan Marsha memejamkan matanya, menetralkan perasaannya yang benar-benar berkecamuk. Namun, di dalam hatinya Marsha mengakui sudah cukup lama jantungnya tidak berdebar-debar seperti ini. Kali terakhir Melvin menggumulinya saja tidak ada perasaan berdebar yang menyertai saat pria itu menyentuhnya, menyatukan dirinya satu sama lain. Akan tetapi, barusan justru jantungnya berdebar-debar, hampir saja organ vital yang memompa darah itu nyaris mencelos dari tempatnya. Untung saja, Marsha segera menemukan kesadarannya dan menghentikan aksi panas yang bisa bermuara ke hulu itu.
“Jawab aku dulu, Sha … aku benar-benar minta maaf,” ucap Abraham kali ini.
Marsha segera menarik tangannya yang masih digenggam Abraham, “Lepaskan Bram! Sebaiknya kita kembali ke hotel sebelum malam,” balas Marsha.
Tampaknya Marsha masih enggan untuk merespons ucapan Abraham sehingga wanita itu lebih minta kepada Abraham untuk membawanya kembali ke hotel.
“Ayo Bram, jika tidak sebaiknya aku turun,” ancam Marsha kali ini.
Tangan Marsha bergerak dan hendak membuka pintu mobil di samping tempat duduknya, tetapi Abraham segera mencodongkan badannya dan menghalangi Marsha. Jarak mereka kembali dekat, bahkan bisa Marsha rasakan nafas hangat pria itu yang mengenai sisi wajahnya. Juga aroma parfum perpaduan Sandal Wood dan Peppermint yang begitu khas dan maskulin di tubuh Abraham yang menggoda indera penciuman Marsha. Tampak Marsha mendorong tubuh Abraham kini karena dirinya tidak ingin terjerat lagi dengan pesona mantannya itu. Wanita itu membawa kedua tangannya bersidekap di dadanya. Wajahnya yang begitu kesal saat ini.
“Baiklah, kita akan kembali ke hotel,” balas Abraham pada akhirnya.
Pria itu segera menggerakkan stir kemudi dengan kedua tangannya dan sesekali melirik ke arah Marsha. Sepanjang perjalanan dari Bantul menuju ke hotel yang ditempuh satu jam lebih itu praktis membuat keduanya sama-sama diam. Baik Marsha dan Abraham tampak larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hati yang berkecamuk, pikiran yang tidak tenang, dan dada yang berdebar-debar. Benar-benar situasi canggung yang membuat keduanya sama-sama memilih diam.
Begitu telah sampai di hotel, Marsha segera turun dari mobil Abraham. Wanita itu sedikit berlari untuk lepas dari sosok Abraham. Memasuki lift, Marsha memegangi dadanya yang berdebar-debar rasanya, masih bisa merasakan bagaimana bibir Abraham membuainya. Ciuman yang membuatnya goyah. Tidak dipungkiri ciuman dan lu-matan bibir Abraham membangkitkan hasrat terlarang dalam dirinya.
Ya Tuhan, jangan bangkitkan hasrat terlarang ini.
Kumohon buang jauh-jauh perasaan ini.
Jika ciuman terlarang membangkitkan hasrat terlarang dalam diriku, aku benar-benar gila!
Marsha hanya mampu berbicara dengan dirinya sendiri. Kendati demikian, dia tetap akan berusaha membentenginya diri untuk tidak jatuh dalam hasrat terlarang yang baru saja melanda dirinya.