Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Berbagai Tekanan


Setelah kedatangan Mama Saraswati dan Papa Wisesa, kini Marsha terus menyelesaikan untuk menata menu makanan di atas meja. Menyajikan dengan sepenuh hati untuk mertuanya itu. Selang lima belas menit berlalu, barulah Mama Saraswati dan Papa Wisesa datang dan bergabung dengan Marsha di meja makan.


“Masak apa Sha?” tanya Mama Saraswati kepada menantunya itu.


“Ayam Betutu dan Sate Lilit, Ma,” jawab Marsha.


“Kamu yang masih sendiri?” tanya Mama Saraswati lagi.


“Dibantu Bibi Tini, Ma,” sahutnya.


“Di Denpasar sering makan Ayam Betutu, Sate Lilit, dan makanan lainnya. Di Jakarta, ternyata makan masakan khas Bali juga,” ucap Mama Saraswati.


Itu bukan hanya sekadar ucapan, tetapi lebih terdengar seolah-olah Mama Saraswati tengah menggeruti karena harus menikmati makanan khas Bali lagi. Namun, juga Marsha memasak dan menyiapkan semua itu karena Melvin yang tadi memintanya untuk memasak makanan kesukaan Mamanya.


“Apa perlu Marsha pesankan makanan yang lain Ma?” tawar Marsha kali ini.


Hanya saja Marsha menawarkan opsi lain karena memang dia tidak ingin terlibat perdebatan pelik nan sengit dengan mertuanya lagi. Hanya sekadar makanan, pikirnya pesan antar juga tidak masalah.


“Tidak, tidak perlu … makan ini saja tidak masalah, lagian mubazir kalau tidak dimakan. Kamu mah enak, Melvin menghasilkan puluhan juta Rupiah satu episode, jadi uang melimpah. Makanan mubazir tidak menjadi masalah,” balas Mama Saraswati lagi.


Sungguh, kata demi kata yang diucapkan Mama Saraswati sungguh melukai hatinya. Toh, juga artis papan atas seperti Melvin sekalipun pendapatannya banyak, tetapi cicilannya juga banyak. Mereka juga harus menabung untuk masa depan juga karena karir keartisan itu tidak akan bertahan selamanya.


Papa Wisesa yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara juga. “Sudah … sudah, sebaiknya kita makan, Ma … mumpung masih hangat,” ucap Papa Wisesa sekarang.


Marsha menganggukkan kepalanya, kemudian dia memberi waktu kepada Mama dan Papa mertuanya untuk mengisi piring kosong mereka terlebih dahulu. Sebagai menantu, memang harus bersikap sopan dan mengalah kepada mertua sendiri. Pun demikian dengan Marsha yang berlaku sopan sekarang ini.


Usai kedua mertuanya sudah mengisi piringnya, barulah Marsha mengisi piringnya sendiri. Kali ini Marsha hanya mengisi sedikit nasi saja di piringnya. Sayur dan lauk, Marsha juga hanya mengambil sedikit. Rupanya perilaku Marsha itu diamati pula oleh Mama Saraswati.


“Kamu makannya kok dikit banget sih Sha?” tanya Mama Saraswati.


“Oh, iya Ma … ini juga sudah banyak.” jawab Marsha.


Terlihat Mama Saraswati yang mengernyitkan keningnya yang melihat makanan di piring Marsha itu, karena menantunya itu memang makan dalam porsi yang sedikti.


“Tambahlah Sha … gemuk juga enggak apa-apa. Nanti wanita kalau hamil juga bakalan gemuk kok,” balas Mama Saraswati.


“Iya Ma … nanti Marsha akan tambah kok,” sahutnya.


Jujur saja, apa yang Marsha lakukan seolah tidak mendapat sambutan baik di mata Mama Saraswati. Sekadar makan saja, juga diawasi. Padahal Marsha juga tidak membatasi porsi makannya. Hanya saja, dirinya sedang tidak mood, karena sudah terus-menerus disalahkan oleh Mama mertuanya itu.


Alhasil, di meja makan itu hanya Mama Saraswati yang berbicara, sementara Marsha hanya menganggukki. Nasi yang dia makan pun rasanya susah untuk ditelan karena terus-menerus disalahkan oleh Mama mertuanya itu.


Begitu malam tiba, Marsha memilih untuk di dalam kamarnya. Dia memilih melihat handphone yang sedari tadi dia simpan di dalam laci. Kemudian melihat beberapa pesan yang dikirimkan Abraham kepadanya. Wanita dengan cepat membuka aplikasi pesan dan membaca deretan pesan dari Abraham di sana.


[To: Marsha]


[Sha, seharian kamu ngapain saja?]


[Dari pagi aku belum mendapatkan pesan darimu.]


[Apa pun aktivitasmu hari ini, kuharap kamu selalu bahagia.]


[Ingat aku, Sha …]


[Have a nice day]


Marsha tersenyum hambar dan men-scroll pesan-pesan itu. Sampai akhirnya, Marsha pun akan membalas pesan-pesan dari Abraham ini.


[To: Abraham]


[Bram, sorry … aku baru memegang HP.]


[Mertuaku datang dari Denpasar, Bali, Bram … jadi ya seharian ini aku selalu sibuk.]


[Makasih sudah mengingatku.]


[Selamat beristirahat, Bram …]


[Goog Night]


Kali ini Marsha memang hanya ingin membalas pesan dari Abraham, Marsha tidak ingin menelpon Abraham karena situasi hatinya hari ini lumayan buruk. Selalu disalahkan, bahkan dengan sengaja mencari-cari kesalahannya. Jika tahu bahwa mertuanya bosan dengan makanan khas Bali, lebih baik dari Marsha tidak perlu capek-capek berkutat di dapur dan memasak aneka masakan tersebut.


Sekarang yang Marsha inginkan adalah tertidur. Melupakan sejenak semua kekesalan yang sudah terjadi hari ini, dan menyambut esok hari dengan energi baru. Semoga saja hari-hari yang tersisa selama mertuanya menginap di rumahnya, tidak akan membuatnya darah tinggi. Semoga saja selama mertuanya berada di rumahnya, Marsha bisa bersabar dan tetap berlaku sopan. Walaupun ada kesedihan dan merasa tertekan, tetapi Marsha akan tetap menghargai dan menghormati mertuanya itu.


***


Keesokan harinya …


Marsha bangun di pagi hari, dengan Melvin yang berbaring memunggunginya. Marsha beringsut, dan kemudian wanita itu sudah terduduk di atas ranjang sembari menguap dan mengucek kedua matanya perlahan.


“Kemarin kamu pulang jam berapa Yang? Aku sampai tidak tahu kalau kamu sudah pulang,” gumam Marsha dengan lirih.


Setelah itu, Marsha memilih untuk membersihkan dirinya. Mandi keramas supaya lebih segar di pagi hari. Setelahnya, Marsha turun dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk menyeduh Teh.


Saat Marsha berada di dapur, rupanya Mama Saraswati juga hendak menuju ke dapur.


“Pagi Ma,” sapa Marsha kepada Mama mertuanya itu.


“Hmm, pagi,” sahut Mama Sasmita.


“Pagi-pagi sudah mandi keramas sih Sha … suamimu kan pulang dini hari, apa iya kalian melakukannya pagi-pagi buta? Enggak kasihan banget sih sama suami.”


Rupanya di pagi hari yang seharusnya bisa berjalan dengan penuh ketenangan, Marsha sudah diberondong dan tuduhan yang macam-macam oleh Mama mertuanya itu. Lagipula, tidak harus mendefinisikan mandi keramas sebagai aktivitas usai melakukan hubungan suami istri. Seharusnya, orang modern dengan pikiran terbuka bisa memahami bahwa mandi keramas hanya sekadar untuk membersihkan badan saja.


Marsha hanya bisa menghela nafas dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk sabar. Tidak mudah memang menghadapi mertua kolot dan memiliki pemikiran bahwa mandi keramas adalah aktivitas usai melakukan kegiatan panas suami dan istri. Hari masih begitu pagi, tetapi Marsha sudah harus menerima tekanan dari Mama mertuanya itu.