Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Amarah Melvin


Rupanya setelah mengetahui kedekatan Marsha dan mendengar pengakuan langsung dari Marsha, Mama Saraswati justru menelpon Melvin dan meminta putranya itu untuk pulang lebih cepat. Entah, itu hanyalah sebuah pandangan subjektif seorang Ibu kepada anaknya, atau resmi bahwa Mama Saraswati tidak bisa melihat dari sisi seorang Marsha. Sehingga usai melihat bekas merah nyaris biru, bahkan lebam di tubuhnya, Mama Saraswati seakan justru menutup mata dari semua itu.


Marsha tersenyum getir menatap wajah Mama mertuanya itu. Kali ini, Marsha diperhadapkan dengan sebuah fakta bahwa memang Mama mertuanya itu tidak menyukainya.


Waktu memang sudah lama berlalu, usia pernikahan Marsha dan Melvin sendiri sudah menginjak dua tahun. Namun, waktu sebanyak itu nyatanya tidak bisa untuk mengubah hati mertuanya itu. Dua tahun waktu yang berlalu, tetap membuat Mama Saraswati tidak menyukai Marsha.


Ini adalah kenyataan pahit, tetapi justru Marsha bisa menerima semuanya itu. Hatinya mampu dan sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan yang ada. Sebagaimana prasangkanya sebelumnya bahwa Mama Saraswati tidak menyukainya. Rupanya sekarang terbukti setelah Mama Saraswati mengucapkan secara langsung.


Tidak berselang lama, Melvin pun datang. Seperti permintaan Mamanya bahwa hari ini Melvin pulang dari lokasi syuting dengan lebih cepat.


“Ada apa Ma?” tanya Melvin yang baru saja datang dan menatap ke Mamanya.


Pria itu tampak mengamati Mamanya dan juga Marsha bergantian. Seakan-akan Melvin menangkap ada sesuatu yang serius yang terjadi kali ini.


“Lihatlah Melvin, kelakuan istrimu ini,” ucap Mama Saraswati.


Rupanya kini Mama Saraswati menunjukkan foto-foto yang dia ambil dengan handphonenya sendiri. Ya, saat berada di pusat perbelanjaan, rupanya Mama Saraswati yang cerdik mengambil potret kebersamaan Marsha dengan Abraham secara candid. Foto-foto yang dia ambil layaknya jepretan seorang Paparazi.


Melihat foto-foto kebersamaan istrinya bersama pria lain membuat Melvin tentu saja naik darah. Dia sungguh tidak menyangka, selama ini Melvin terlampau percaya bahwa Marsha adalah sosok istri yang setia yang tidak akan pernah bermain hati dengan pria lain. Namun, foto-foto yang dia lihat sekarang seakan meluruhkan semua benteng pertahanannya.


“Apa semua ini benar Yang?” tanya Melvin.


Pria itu seakan meminta penjelasan dari Marsha. Walau foto-foto itu sudah terlihat dengan jelas, tetapi Melvin masih membutuhkan penjelasan dari Marsha.


Secara samar rupanya Marsha menganggukkan kepalanya, “Ii … iya,” balas Marsha.


Tidak perlu bersilat lidah. Tidak perlu menyembunyikan fakta yang ada. Yang pasti Marsha sekarang mengakui bahwa foto-foto itu benar adanya. Marsha tidak ingin mengelak dari kejadian yang sebenarnya ini.


Mendengar jawaban dari Marsha, Melvin pun mengusap wajahnya secara kasar. Pria itu begitu geram dengan Marsha sekarang ini. Apakah tidak cukup dengan semua cinta dan fasilitas mewah yang dia berikan sampai Marsha bermain hati dengan pria lain di luar sana.


“Kenapa Yang? Jelaskan!” teriak Melvin kali ini.


Marsha menghela nafas, sembari menggigit bibir bagian dalamnya. Kemudian Marsha berusaha menyusun pengakuan di otaknya dan mengatakan yang sebenarnya kepada Melvin.


“Bukankah sudah dua kali aku mengatakan bahwa aku mencintai pria lain?” tanya Marsha kali ini.


Melvin menghela nafas secara kasar dan menggelengkan kepalanya, “Jadi itu benar?” tanya Melvin lagi.


Marsha menganggukkan kepalanya, “Iya … jadi lepaskan aku dari ikatan ini,” balas Marsha.


“Kenapa! Kenapa bisa seperti ini!” Teriak Melvin lagi-lagi. Seakan-akan pria itu begitu marah dengan kenyataan bahwa istrinya tengah berlaku tidak setia.


“Lepaskan aku dari ikatan ini,” pinta Marsha kali ini dengan berurai air mata.


Sebab, bagi Marsha sendiri untuk apa mempertahankan sebuah pernikahan, jika rasanya sudah benar-benar hambar. Tidak ada lagi gairah asmara yang dia rasakan. Terlebih dengan perlakuan kasar Melvin dua kali di ranjang, membuat Marsha ingin lepas dari suaminya itu. Penderitaan yang dia alami bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara seksual, dan juga mental.


Seolah tak ingin terlibat dengan pertengkaran Melvin dan Marsha, Mama Saraswati kali ini beranjak pergi begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, Melvin segera menarik tangan Marsha dan membawanya ke dalam kamar.


Tangan Marsha terasa begitu sakit, saat Melvin menyentaknya dan membawanya untuk mengikuti ke dalam kamar.


“Duduk!” teriak Melvin kali ini.


Pria itu memerintah kepada Marsha untuk duduk di sofa. Sebab, Melvin ingin mendengar penjelasan secara detail dari mulut Marsha.


“Katakan! Semua ini tidak benar bukan?” tanya Melvin.


Marsha begitu takut saat ini. Dia tidak pernah melihat Melvin semarah ini. Begitu takut dan terintimidasi sekarang ini.


“Yang ku katakan benar adanya. Aku ingin lepas dari pernikahan ini denganmu. Sudah cukup semua kehambaran yang terjadi di rumah tangga kita. Sudah cukup kamu melukaiku secara seksual. Aku akan mengajukan gugatan perceraian,” ucap Marsha kali ini.


Wanita itu menundukkan wajahnya. Tidak ingin menatap wajah Melvin. Sepenuhnya Marsha tahu dan sadar bahwa dirinya bersalah. Kehambaran dalam rumah tangganya, berpadu dengan sikap dingin dan kasarnya Melvin, ditambah luka yang dia alami secara fisik dan seksual, kemudian di waktu bersamaan dia bertemu kembali dengan Abraham seolah menyulut hasrat terlarang dalam hatinya.


Walaupun kenyataannya nanti Marsha tidak tahu apakah dia akan memilih bersama Abraham, tetapi setidaknya Marsha ingin lepas dari bahtera rumah tangga yang begitu hambar itu. Terlebih, Marsha juga belum memiliki buah hati. Seakan itu menjadi pilihan bahwa lebih baik menyudahi semua ini.


“Tidak! Keinginanmu itu tidak akan pernah terwujud,” ucap Melvin.


Entah apa yang menjadi pertimbangan bagi Melvin, sehingga pria itu tidak berniat sama sekali untuk melepaskan Marsha. Sekalipun sudah melihat kenyataan bahwa Marsha bermain hati dengan pria lain, sekalipun dia sudah mendengar keinginan Marsha untuk berpisah, tetapi Melvin masih tidak akan melepaskan Marsha.


“Untuk apa mempertahankan biduk rumah tangga ini?” tanya Marsha dengan berderai air mata.


Bagi Marsha tidak ada yang perlu dipertahankan lagi antara dirinya dengan Melvin. Jika sayuran yang hambar bisa diberikan garam, tetapi bagaimana dengan rumah tangga yang hambar? Menggaraminya pun tidak bisa.


“Jika berpisah bisa melihat kita bahagia, aku rela,” ucap Marsha lagi.


Akan tetapi, Melvin justru mengambil sebuah remote kontrol televisi yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang, pria itu dengan asal melemparkannya dan remote itu mengenai kening Marsha.


Seketika Marsha memejamkan matanya, tangisnya kian pecah. Rasa sakit yang dia terima di keningnya, menggoreskan luka dan bahkan darah keluar dari kening Marsha itu. Tangis Marsha kian pecah, air matanya berderai begitu derasnya.


“Kamu jahat, Vin … berkali-kali kamu melukai aku,” ucap Marsha kali dengan terisak dan memegangi keningnya yang mengeluarkan darah segar di sana.


Sungguh, hatinya hancur, fisiknya terluka, tetapi sekadar ingin melepaskan diri dan mendapatkan kebahagiaan di luar sana saja tidak bisa Marsha dapatkan karena Melvin yang enggan melepasnya. Ya Tuhan, harus sebanyak apa lagi Marsha menderita dalam biduk rumah tangga yang penuh luka dan air mata ini.