
Menghilang dari hadapan Mama Saraswati dengan bibirnya yang begitu pedas membuat Marsha kembali digunjingkan oleh mantan mertuanya itu. Perkataan yang menyakiti hatinya. Siapa pun wanita yang dikatai bahwa dirinya hamil di luar nikah sudah pasti terasa begitu menyakitkan. Hantaman secara mental bisa saja dialami dan juga terluka hingga berpengaruh pada kesehatan janin.
Begitu sudah masuk ke dalam mobil. Tangisan Marsha pun pecah. Hatinya begitu terluka, kali ini rasanya justru lebih sakit dibandingkan saat dia memilih pergi dari Jakarta menuju ke Semarang. Hingga akhirnya mengetahui dirinya berbadan dua, dan tidak ada suami di sisinya. Mengalami morning sickness hingga tak bisa bangun dari tempat tidur karena merasa pusing, mual, dan muntah sendirian. Kendati demikian, Marsha tetap menyayangi janinnya. Bersikeras untuk mempertahankan janinnya, walaupun tidak ada Ayah Biologisnya di sampingnya.
Abraham yang sudah masuk ke dalam mobil pun menghela nafas kasar, dan kemudian segera membawa Sara dalam pelukannya. Tidak peduli berada di parkiran basement dan berada di dalam mobil, Abraham segera merengkuh tubuh Marsha. Mengusapi kepala hingga punggungnya dengan begitu lembut.
“Nangis boleh … tenangin diri kamu dulu,” ucap Abraham.
Sepenuhnya Abraham tahu bahwa Marsha terluka, dari tangisan, bahkan isakan yang terdengar pilu menjadi bukti nyata bahwa Marsha sedang terluka. Abraham pun sebenarnya tengah emosi, ya dia merasa emosi dan tidak terima dengan setiap perkataan yang diucapkan Tante Saraswati. Namun, menenangkan Marsha jauh lebih penting kali ini.
“Sudah yah nangis … nanti di rumah nangis lagi boleh, dilihatin orang-orang nanti,” ucap Abraham yang masih menunggu hingga Marsha menjadi lebih tenang.
“Aku … aku marah, Mas. Memang aku hamil di luar nikah, hanya saja anak ini berada dalam rahimku karena Tuhan yang menganugerahkannya bukan? Aku memang salah, karena hamil duluan,” balas Marsha dengan tergugu pilu.
“Sudah Shayang … tidak perlu mendengarkan perkataan orang. Fokus pada keluarga kita, keluarga kecil kita. Aku justru beruntung kamu berpisah dari Melvin dan tidak memiliki mertua yang seperti singa seperti itu. Aku juga minta maaf karena menghamili kamu, hanya saja, anak kita lahir dalam pernikahan. Papa dan Mamanya akan selalu menyayanginya, menjadi sahabat untuknya,” balas Abraham.
Cara berpikir, cara Abraham mengelola emosi, dan cara Abraham memandang masalah sungguh bijak. Dia adalah pria dewasa yang memproses segala sesuatu, di masa lalu memang dia mengakui kesalahannya, menghamili Marsha terlebih dahulu. Hati kecilnya pun mengakui bahwa dirinya bersalah, tetapi setelah mendapatkan Marsha, Abraham berjanji bahwa dia akan menjadi suami dan Papa yang baik. Seorang Papa yang di masa kecilnya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Papanya sendiri, tetapi nyatanya Abraham tidak terluka, Abraham justru bertekad untuk menjadi Papa sekaligus sahabat bagi anaknya kelak.
Mendengar apa yang Abraham sampaikan, perlahan isakan tangis Marsha berhenti. Wanita itu menyeka sisa-sisa air matanya dan menganggukkan kepalanya.
“Mas, kamu gak akan ninggalin aku kan? Aku wanita dengan reputasi yang buruk. Banyak salah sama kamu sejak masa lalu, meninggalkan kamu sampai dua kali. Dengan semuanya itu kamu gak akan ninggalin aku kan?” tanya Marsha kepada suaminya.
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan selalu bersama, menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Walaupun kita sebagai anak sama-sama terluka dengan orang tua kita, tetapi saat kita sudah bersama dan menjadi orang tua, jangan pernah mundur. Semua masalah bisa kita diskusikan bersama. Saling terbuka, saling bergandengan tangan, aku yakin kita bisa,” ucap Abraham dengan sepenuh hati.
Marsha terharu mendengar apa yang disampaikan Abraham itu, dengan cepat Marsha pun menghambur ke dalam pelukan Abraham. Kenapa sejak dulu, dia berpikiran pendek dan tidak mencoba untuk berjuang dengan Abraham. Kenapa dulu, dia langsung memutuskan Abraham di saat Mama Diah tidak merestuinya. Andai saja dulu, dia bisa sedikit bersabar, sudah pasti lika-liku hidup seperti ini tidak akan lagi dia rasakan.
Marsha menengadahkan wajahnya, menatap wajah suaminya, “Jadi, menghamili aku sengaja?” tanya Marsha.
Abraham pun sedikit tersenyum, “Di antara hasrat yang terlarang dan kesengajaannya, semuanya melebur menjadi satu dan akhirnya menghasilkan hasrat terpanas penuh dengan kesengajaan di atas ranjang,” balas Abraham.
Marsha masih diam, berusaha mencerna setiap apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Jadi, dia hamil sepenuhnya bukan hanya karena hasrat terlarang, tetapi juga faktor kesengajaan.
“Jadi, sebenarnya saat itu kamu bisa menahan diri?” tanya Abraham lagi.
Abraham menggelengkan kepalanya, “Enggak … gak bisa nahan,” balasnya.
“Lalu, terus gimana?” tanya Marsha.
“Ya sudah, semuanya terjadi … aku gak bisa nahan lagi Marsha. Bagaimana bisa menahan, kalau pesonamu terlalu menyilaukan mataku. Kita pulang yah? Kayaknya aku gak bisa nahan kali ini,” ucap Abraham dengan suara yang tiba-tiba sedikit pelan.
Marsha menyipitkan kedua matanya, menatap pada suaminya itu, “Enggak … aku habis nangis masak mau gitu-gitu sih? Jahat banget,” balas Marsha.
Abraham pun tergelak dalam tawa, “Enggak-enggak, pengen rebahan dan meluk kamu saja kok. Pulang yah? Atau mau mampir lagi?” tanya Abraham.
“Pulang aja,” sahut Marsha.
Dalam hatinya Abraham tersenyum, daripada di dalam mobil dan berada di parkiran basement berlama-lama, lebih baik memang pulang ke unit mereka. Tidak menunggu waktu lama, Abraham pun segera menginjak pedal dan mengemudikan mobilnya membawa Marsha untuk kembali pulang ke unit apartemennya.