Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kata Pertama


Pagi itu, Marsha terbangun karena mendengarkan tangisan dari Mira yang tidur di kamar sebelah. Naluri sebagai seorang Ibu, sedikit tangisan dari anaknya saja bisa membangunkannya. Sehingga, Marsha segera beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke dalam kamar Mira.


“Loh bangun ya Sayang? Sini, gendong Mama sini,” ucapnya dengan mengangkat Mira dari tempat tidurnya dan mengelusi punggungnya.


Hari masih gelap, surya pun belum menyingsing, tetapi Mira sudah terbangun dan menangis di sana. Melihat Mira yang menangis, Marsha pun menenangkan anaknya itu, dan perlahan memberikan ASI kepada Mira. Marsha berbaring miring dengan memeluk Mira yang minum ASI.


“Kenapa Sayang … Mama di sebelah kok, pintunya juga tidak ditutup. Sudah yah, sekarang minum ASI dulu dan usai ini bobok lagi yah. Mama sayang Mira,” ucapnya dengan memberikan usapan di puncak kepala anaknya itu.


Mira yang sudah mendapatkan ASI pun perlahan mulai tenang dan Marsha masih memberikan usapan di kening anaknya itu. Sesekali Marsha juga mengecupi kening istrinya itu dengan penuh sayang. Setelah Mira tertidur dan kembali pulas, perlahan Marsha keluar dari kamar anaknya. Sekarang, dia harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Pelan-pelan Marsha membuka pintu dan turun menuju ke dapur. Rupanya di bawah sudah ada Mama Diah yang sudah berada di dapur. Marsha pun menyapa Mama mertuanya itu.


"Ma, kok sudah bangun? Masih pagi banget loh Ma," sapanya.


"Mama terbiasa bangun pagi, Sha ... di Semarang walau tinggal sendiri, Mama juga bangunnya pagi," balas Mama Diah.


"Mama rajin banget sih ... semoga Marsha bisa kayak Mama yah, rajin," balasnya.


Mama Diah pun tertawa, "Kamu itu rajin kok, Sha ... makanya Abraham sayang banget sama kamu," jawab Mama Diah kemudian.


Ketika Mama Diah mengatakan itu rasanya Marsha menjadi bahagia. Dia sangat tahu bahwa Abraham sangat menyayanginya. Akan tetapi, ketika Mama Diah turut mengatakannya membuat Marsha bahagia. Kehidupan pernikahan memang tidak sempurna, banyak sisi yang terkadang tidak berkesinambungan. Akan tetapi, Marsha merasakan banyak kebahagiaan di dalam kehidupan pernikahannya. Bahkan ini adalah kebahagiaan yang melebihi ketikanya dirinya masih bergelimang harta dulu.


"Makasih Mam ... semoga kami bisa saling sayang sampai tua nanti. Ya sudah, Marsha belanja sayur ke depan dulu ya Ma ... biar bisa masakin untuk Mas Bram dan untuk Mira," balasnya.


"Iya, hati-hati. Tolong belikan tomat hijau yang ada ya Sha ... Mama mau masak Garang Asem Ayam, salah satu masakan kesukaannya Abraham," balas Mama Diah.


"Oh, itu Marsha juga suka Ma ... berarti sama beri belimbing wuluh ya Ma?" tanyanya lagi.


"Iya, belimbing wuluh, dan laos juga yah," balas Mama Diah.


Marsha menganggukkan kepalanya dan kemudian dia keluar dari rumah untuk belanja pagi itu. Membeli berbagai bahan untuk memasak Garang Asem Ayam. Mulai dari Ayam, Belimbing Wuluh, Laos, Tomat Hijau, dan juga santan dibeli oleh Marsha. Sementara untuk Mira, akan dimasakkan Sup Ceker Ayam yang baik untuk memperkuat tulang Mira yang sekarang sedang aktif-aktifnya untuk berjalan.


Hanya sepuluh menit, Marsha berbelanja dan kemudian dia kembali pulang untuk memasak. Begitu sudah sampai di rumah, Marsha dan Mama Diah bersama-sama memasak untuk sarapan pagi itu. Mengerjakan semua bersama, sehingga acara memasak di pagi hari pun menjadi lebih cepat selesai.


"Sudah selesai, Marsha bangunkan Mas Bram dan urus Mira dulu ya Ma," ucapnya.


"Iya," sahut Mama Diah.


Marsha kemudian kembali menaiki anak tangga dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mungkin karena menutup pintu sedikit keras, Mira yang masih tidur pun kembali terbangun. Anak berusia 1 tahun itu menangis dengan cukup keras sehingga Marsha pun kembali menuju kamar Mira dan menenangkan anaknya, sementara suaminya sudah berada di dalam kamar mandi.


"Cup cup cup ... kaget ya Sayang? Maaf yah," ucapnya.


Lantas, Marsha yang berusaha memberikan ASI pun ditolak oleh Mira. Hingga akhirnya, Marsha menggendong anaknya terlebih dahulu dan membawanya ke kamarnya melalui pintu hubung, kemudian Marsha mengajak Mira untuk membuka tirai jendela di dalama kamar itu.


"Sudah jangan menangis yah ... nih mataharinya sudah bersinar. Selamat pagi ... selamat pagi Mira," ucap Marsha dengan berusaha menenangkan anaknya dan mengecupi pipi Mira di sana.


Akhirnya, Mira bisa sedikit lebih tenang. Kemudian, Marsha masih dengan menggendong Mira, mulai merapikan tempat tidur, merapikan selimut dan menata bantal-bantal di sana.


Memang anaknya itu masih kecil, tetapi Marsha sudah banyak memberikan nasihat kepada Mira. Semoga ajaran dan didikan yang baik akan bisa diingat Mira dan juga dipraktikkan kala Mira besar nanti.


Mira sendiri usai mendengar Mamanya, dan kemudian hendak diturunkan ke tempat tidur, rupanya Mira menolak. Hingga akhirnya Mira kembali menangis di sana. Marsha sampai menghela nafas, berkata pada dirinya sendiri untuk bisa sabar.


"Kok nangis lagi ... sebentar Sayang ... Mama rapikan spreinya dulu, biar rapi," ucapnya.


Akan tetapi, Mira masih menangis dan air matanya berlinangan dengan begitu derasnya. Marsha pun menghentikan aktivitasnya. dan kembali menggendong Mira. Marsha kemudian mengajak Mira duduk di sofa dengan anaknya yang berada di dalam pangkuannya.


"Mira kenapa? Pagi ini badmood yah? Cup, Sayang ... kan sudah ikut Mama dan juga sudah digendong Mama. Mau Nen?" tanya Marsha kemudian.


Akan tetapi Mira tampak menggelengkan kepalanya, beberapa menit berlangsung dan Mira masih menangis di sana. Hingga akhirnya Abraham keluar dari kamar mandi dan menghampiri istrinya yang sedang menenangkan Mira.


"Loh, pagi-pagi kok anaknya Papa nangis. Kamu kenapa Sayang?" tanya Abraham kepada anaknya.


"Badmood mungkin, Papa ... sejak pagi tadi menangis," balas Marsha.


Abraham pun mengulurkan kedua tangannya dan hendak menggendong Mira, "Gendong Papa sini ... mau?"


Mira pun rupanya beringsut dan mau untuk digendong Papanya. Begitu sudah digendong Abraham dan mendekat dengan tubuh Papanya, kedua tangan kecil yang melingkari leher sang Papa itu akhirnya perlahan-lahan tangisan Mira reda.


"Papa ... pa ... pa," ucapnya dengan suara yang seolah berteriak.


Marsha dan Abraham pun tertegun, itu adalah kata pertama dari Marsha. Abraham yang dipanggil anaknya pun merasa begitu bahagia. Dia memeluk putrinya itu dalam gendongannya.


"Iya Mira Sayang ... ini Papa ... Pa ... Pa," ucapnya dengan mencoba mengeja kata 'Papa'.


"Pa ... Pa ... Pa," ucap Mira lagi.


Marsha pun tersenyum sampai menitikkan air matanya. Ini adalah kata pertama dalam pelafalan yang benar dari Mira. Sebagai seorang Ibu, tentu Marsha merasa sangat bahagia.


"Iya, ini Papa ... coba panggila Ma ... Ma," ucap Abraham kemudian. "Ma ... Ma," ucapnya lagi.


"Papa ... Pa," balas Mira dengan suaranya yang terdengar lucu.


Marsha pun berdiri dan memeluk suami dan putrinya itu, "Mamanya yang mengasuh 24 jam, tapi yang dipanggil duluan adalah Papa. Kamu anak Papa banget sih, Mira," balasnya.


Abraham pun tertawa di sana, "Iya, anaknya Papa ... coba dong Mamanya juga dipanggil. Ma ... Ma," ucap Abraham.


"Ma ...."


"Pa," sahut Mira dengan bibirnya mungil yang begitu lucu dan menggemaskan.


Abraham pun tertawa dan menatap wajah istrinya, "Aku enggak ngajarin loh Sayang ... maunya Mira sendiri loh yah," balasnya.


Marsha pun mencium pipi Mira di sana, "Gemesin banget ... Mira anaknya Papa," balas Marsha dengan mengusapi puncak kepala anaknya itu.