Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Perselisihan Besar


Hari yang dinanti akhirnya datang juga. Hari ini akan menjadi hari bersejarah dalam hidup Melvin Andrian karena tepat di hari ini, Melvin akan menghirup kebebasannya. Setelah hampir satu tahun mendekam di dalam penjara. Ini adalah hukuman yang terbilang ringan, karena hukuman semula yang diberikan Hakim adalah 1 tahun 7 bulan penjara. Awak media pun sudah bersiap dan menunggu di luar Lembaga Pemasyarakatan dan siap mengabadikan momen saat sang aktor untuk kali pertama keluar dari Lembaga Pemasyarakatan.


Di sisi lain rupanya Mama Saraswati dan Papa Wisesa pun juga mendatangi Lembaga Permasyarakatan untuk menjemput putra tunggalnya itu. Tidak akan membuang kesempatan baik untuk menjemput anaknya itu, sekaligus menunjukkan kasih sayang orang tua yang akan selalu membuka tangannya dengan lebar untuk menyambut anaknya.


"Sudah siap Pa?" tanya Mama Saraswati kepada suaminya itu.


"Iya, siap ... jam berapa Melvin akan keluar Ma?" tanya Papa Wisesa.


"Kabarnya jam 15.00, Pa ... cuma kan waktu realnya kita tidak tahu, yang pasti kita datang lebih awal saja ke Lapas," jawab Mama Saraswati.


"Kalau banyak awak media, bagaimana Ma?" tanya Papa Wisesa lagi.


"Tidak apa-apa, Pa ... lagian anak kita kan publik figur, jadi sudah wajar jika media selalu menyorotnya. Hanya saja, semoga kali ini Melvin bisa lebih berhati-hati lagi. Cukup lama hiatus hampir satu tahun, selebihnya harusnya dia menjadi reputasinya untuk bisa terus baik. Baik di hadapan publik saja," ucap Mama Saraswati.


Apa yang diucapkan Mama Saraswati seolah begitu menggelitik. Ya, seorang Mama yang seolah tidak berubah dan hanya memikirkan reputasi di depan kamera saja. Bukankah hidup jauh lebih baik jika selaras dan seimbang? Namun, di satu sisi Mama Saraswati hanya menginginkan anaknya berlaku baik di depan kamera saja. Di tempat tersembunyi Melvin bisa merayakan apa yang ingin dia lakukan.


"Ya, kalau bisa hidup itu di luar dan di dalam sama, Ma," sahut Papa Wisesa.


Untuk kali pertama setelah puluhan tahun berlalu, Papa Wisesa tidak sepaham dengan Mama Saraswati. Untuk kali pertama, Papa Wisesa juga menginginkan bahwa putranya itu bisa berkelakuan baik di depan atau pun di belakang sorot kamera. Seolah memang terus-menerus hidup hanya mengejar reputasi itu terasa kosong untuk Papa Wisesa.


"Papa ini bagaimana sih, yang penting kan Melvin sudah bebas. Dia mau ngapain aja tidak apa-apa. Yang penting apa yang dia lakukan itu tidak terendus oleh kamera. Itu saja," balas Mama Saraswati yang cukup sebal karena kali ini suaminya tidak sepaham dengannya.


"Kamera tuh sekarang tuh bukan hanya milik awak media saja, Ma ... bagaimana dengan handphone-handphone jadul yang bertebaran dan dengan mudahnya mengunggah pemberitaan secara reel. Kekuatan kamera dan media sosial itu yang sekarang harus diantisipasi, Ma ... jangan sampai Melvin jatuh lagi ke lubang yang sama karena tingkahnya," balas Papa Wisesa.


Untuk kali pertama dalam hidup, Papa Wisesa merasa sudah saatnya bagi Melvin untuk berbenah. Menyelaraskan hidupnya, bukan hanya sekadar mengejar reputasi dan popularitas semata. Sebab, ada kalanya apa yang kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi pun akan terendus dan terekspos juga. Lebih bijaksana dalam menjalani hidup.


Lagipula, putranya, Melvin sudah dewasa. Kisah dengan Marsha hingga membuat Melvin mendekam di jeruji besi sudah seharusnya dijadikan pembelajaran supaya tidak melakukan salah di kemudian hari. Melakukan yang terbaik dan menjadi aktor yang berbakat dan bersinar murni dari bakat dan talenta yang dia miliki, bukan dari sensasi.


"Papa apa-apaan sih ... Mama sih mendukung Melvin. Apa pun yang akan Melvin lakukan, Mama akan selalu mendukungnya. Asalkan reputasinya di depan kamera tetap bagus itu saja. Lagipula, di dunia hiburan tanah air sudah selayaknya sensasi itu menyertai kehidupan artis," balas Mama Saraswati.


"Hanya saja Melvin menjadi sosok yang seperti ini karena Mama yang terlalu memanjakan dia," bentak Papa Wisesa.


Kali pertama Papa Wisesa membentak Mama Saraswati. Semua sikap Melvin yang tidak baik seperti ini karena Mama Saraswati yang terlalu memanjakan Melvin. Hingga Melvin pada akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang seenaknya sendiri, lebih mengedepankan reputasi daripada nilai utama kehidupan seseorang. Merasa dibentak untuk kali pertama oleh suaminya, Mama Saraswati pun meradang. Sungguh, tidak terasa dibentak oleh suaminya sendiri.


"Bukan hanya salah Mama ... tetapi juga salah Papa. Papa yang tidak pernah bisa memberikan kasih sayang yang tulus untuk Melvin. Papa ada bersamanya setiap hari, tetapi tidak dengan hati Papa. Itu semua karena Papa terlalu memikirkan mantan istri dan anakmu yang miskin dan jelata itu," sahut Mama Saraswati dengan memincingkan matanya.


Seolah masa lalu Papa Wisesa terkuak di sini. Apa yang diucapkan oleh Mama Saraswati seolah membuka fakta baru bahwa Papa Wisesa hanya ada untuk Melvin, tetapi tidak sepenuhnya membersamai tumbuh kembangnya. Papa Wisesa selalu di rumah dan ada untuk Melvin, tetapi nyatanya Melvin tak pernah ada di dalam hati dan pikirannya. Wujudnya ada, tetapi tidak masuk ke dalam hatinya.


Sungguh, ucapan Mama Saraswati membuat Papa Wisesa geram dan murka. Tidak mengira bahwa istrinya akan mengatakan semuanya itu.


"Diam kamu!"


Papa Wisesa kehilangan kendali atas dirinya dan kemudian mengangkat tangannya, mendaratkan sebuah tamparan keras di sisi wajah Mama Saraswati.


Plak!


Wanita itu dengan cepat memalingkan wajahnya sembari memegangi sisi wajahnya yang hanya dalam hitungan detik terasa panas. Kemudian Mama Saraswati merasakan kedua matanya berkaca-kaca.


"Tega kamu, Pa! Tega! Inikah balasan untuk semua yang Mama berikan. Mama yang mengangkat dan menjunjung harkat dan martabat Papa. Dari pria rendahan hingga menjadi pria yang bergelimang harta, tetapi sekarang justru Papa menampar Mama! Papa melukai Mama!"


Mama Saraswati menangis dan berteriak. Fakta baru yang dia simpan lama pun akhirnya terungkap. Benarkah itu karena Mama Saraswatilah yang mengangkat harkat dan derajat Papa Wisesa. Ada rasa terluka yang membuat Mama Saraswati benar-benar terluka. Tidak menyangka bahwa tangan suaminya untuk kali pertama akan mendarat di sisi wajahnya.


"Papa sudah muak dengan semua ini. Harta, tahta, reputasi yang selalu Mama cari dan Mama kejar. Inilah yang membuat Melvin menjadi anak yang seperti itu. Mama terlalu menyayanginya sampai lupa untuk menaburkan kebaikan untuk anak itu!"


Seolah tak mau kalah, Papa Wisesa juga turut berteriak. Saling teriak, saling menyudutkan, saling menyalahkan. Pasangan paruh baya itu terlibat dalam pertengkaran yang hebat.


Perlahan Mama Saraswati pun terisak. Hari bahagia untuk menyambut putra, ketika dia akan berangkat ke Lembaga Pemasyarakatan justru menjadi hari pertengkaran untuknya dan suaminya. Pertengkaran yang begitu panas dan baru kali ini terjadi setelah puluhan tahun membina Rumah Tangga.