
Akhir pekan pun tiba, kali ini Abraham mengajak Marsha, Mira, dan sekaligus Mama Diah untuk mencari rumah yang akan mereka tempati begitu pindah lagi. Sebelumnya, pagi tadi Abraham juga sudah menyampaikan kepada Mama Diah bahwa Abraham akan membeli sebuah rumah, walau kecil tidak menjadi masalah, tetapi Abraham mencari ruang terbuka yang tentu sangat bagus untuk tumbuh kembang Mira. Untuk itu, Mama Diah pun setuju. Dengan mengendarai mobilnya, Abraham menuju ke cluster perumahan berdasarkan alamat yang diberikan oleh Pak Belva sebelumnya.
Cluster perumahan dengan sistem one gate itu terlihat aman dan nyaman, terlebih ada security yang berjaga selama 24 jam, sehingga memang aman untuk yang tinggal di dalamnya. Juga, jarak dari cluster perumahan ini dengan rumah Pak Belva ternyata tidak terlalu jauh. Hanya berbeda cluster saja. Tidak menyangka, rupanya di sana sudah ada Pak Belva dan istrinya yang tampak menunggu di beberapa perumahan yang dibangun dan dikembangkan oleh Agastya Properti itu.
"Halo,"sapa Bu Sara dengan ramah kepada Abraham dan keluarganya begitu tiba.
"Halo Bu Sara," balas Abraham dan Marsha, serta Mama Diah. Ketiga juga tidak mengira jika kali ini Bu Sara akan turut serta.
"Wah, si kecil ikut juga yah ... cantiknya Mira," ucap Bu Sara yang terlihat begitu suka melihat Mira yang memang cantik. Perpaduan paras Marsha yang memang tampan dan Abraham yang tampan sehingga memang menyatu dalam wajah Mira yang begitu cantik.
"Lucu kan Sayang punya baby girl, kelihatannya lucu kalau kita berikan Adik buat Elkan," gumam Pak Belva di sisi telinga istrinya. Akan tetapi, gumaman itu terdengar juga oleh yang lain. Hingga Abraham dan lainnya pun tersenyum mendengarnya.
"Ayolah Pak Belva, tambah satu lagi untuk Elkan," balas Abraham.
Pak Belva pun tertawa, "Nunggu lampu hijau dari Ibu Negara dulu," balasnya.
"Tambah lagi Bu Sara ... biar rumahnya makin rame," sahut Marsha yang juga sedikit tertawa karena mendengar jawaban yang diberikan oleh Pak Belva.
"Iya Marsha ... pengennya yah, cuma sebentar cari waktu yang tepat dulu," balas Bu Sara.
Sejenak melupakan obrolan mereka, Pak Belva kemudian menunjukkan beberapa perumahan yang kosong, tetapi tentu ini adalah bangunan baru dan siap huni. Tinggal membersihkannya saja, dan melakukan sedikit renovasi sesuai keinginan dan rumah ini bisa langsung di tempati.
"Nah, ini Bram ... ada beberapa rumah yang kosong. Ada nomor 7, 9, 10, dan 14. Yang di nomor 7 ini posisinya di hook, sehingga mendapatkan luas tanah tambahan. Hanya saja, dibangun untuk lahan parkir, dan ada tanah yang memanjang di samping rumah. Kalau kamu suka berkebun, bisa tuh ditanami beberapa tumbuhan atau bunga dengan menggunakan media pot," jelas Belva.
Abraham dan Marsha sama-sama menganggukkan kepalanya, perumahan di cluster itu memang bentuknya sama setiap bangunannya. Mengusung konsep minimalis yang disukai masyarakat sekarang ini dengan dua lantai dan dua kamar tidur.
"Kalau dari depan kelihatannya memang nomor tujuh ini lebih luas sih Pak," balas Abraham.
"Iya ... karena posisinya hook. Gak usah keburu-buru, dilihat dulu. Mencari rumah itu juga cocok-cocokan. Pengembang properti kan juga hanya memberikan pandangan saja kan, selebihnya diserahkan kepada yang mau menghuninya," balas Pak Belva lagi.
"Gimana Shayang?" tanya Abraham kepada istrinya.
"Ya, hook lebih bagus sih Mas ... kan kita menjadi tanah yang lebih luas. Lihat dalamnya boleh enggak sih?" tanya Marsha.
"Boleh ... masuk saja. Ini saya sampai minta kunci-kuncinya karena biar kalian bisa melihat dalamnya dengan leluasa. Sudah pantas kan jadi agen properti?" tanya Pak Belva dengan tertawa.
Abraham pun tertawa dan menggelengkan kepalanya, "Ah, Bos ini bukan lagi agen properti. Bos ini pemiliknya. Makasih banyak Bos, sampai repot-repot kayak gini," balas Abraham.
"Tidak repot. Justru, saya senang bisa menawarkan properti buatan perusahaan saya sendiri secara langsung. Ibarat marketing, bonusnya kan buat makelarnya kan?" balas Belva dengan tertawa.
Semuanya pun turut tertawa karena candaan Belva yang mengibaratkan dirinya sebagai seorang makelar itu. Kemudian Belva membuka pintu rumah nomor tujuh itu, dan mengajak Marsha dan Abraham untuk masuk dan melihat ke dalamnya. Kali ini giliran Mama Diah yang menggendong Mira setelah sebelumnya Marsha sendiri yang menggendong bayinya.
"Rumah ini menghadap ke mana Pak?" tanya Abraham.
"Kalau nomor tujuh ini menghadap ke Timur, kalau yang hadapannya ini menghadap ke Barat. Hanya info saja, kalau punya bayi kan pagi-pagi itu masih menjemur bayi, jadi yang bagus rumah yang menghadap ke arah matahari terbit. Sinarnya kan bagus untuk bayi," balas Pak Belva.
"Benar sih Pak ... boleh kami naik ke atas?" tanya Abraham.
"Boleh ... silakan. Kami tunggu di bawah saja yah, sapa tahu kalian berdua ingin room tour," balas Belva.
Di bawah Belva dan Sara memilih menunggu, Mama Diah juga memilih untuk menunggu di bawah dengan menggendong Mira. Keduanya mengobrol juga dengan Mama Diah di bawah. Sementara Abraham mengajak Marsha melihat-lihat ruangan di atas, mungkin saja nanti ruangan itu akan menjadi kamar mereka nanti.
"Ini kamar utamanya Shayang ... ya standar perumahan sih. Cuma menurutku ini bagus sih," ucap Abraham.
Marsha pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Benar ... ini bisa ratusan juta sendiri sih Mas. Apartemen kamu kalau dijual laku berapa Mas?" tanya Marsha kemudian.
"Kurang tahu Shayang ... 500an juta masih laku mungkin," balas Abraham.
"Lalu, harga rumah ini berapa yah? Walau cuma tiga kamar, tapi melihat dari clusternya dan bangunannya yang memang kokoh ini, pasti harganya mahal juga," balas Marsha.
"Kalau kamu mau, aku bisa membelinya untuk kamu," balas Abraham.
"Aku jual mobilku saja gimana Mas? Buat tambah pindahan. Lagipula, untuk kita satu mobil juga cukup kan?" tanya Marsha.
"Jangan dijual, itu mobil kamu yang kamu beli sendiri dengan uang kamu. Uangku ada, tenang saja," balas Abraham.
Sungguh, Marsha sesungguhnya tidak keberatan untuk menjual mobilnya karena dia juga ingin terlibat dalam membeli sebuah perumahan untuk mereka tempati bersama. Rumah yang aman dan nyaman jauh lebih penting untuk mereka sekarang ini.
"Tanya Pak Belva dulu saja yah, harganya berapa? Nanti gampang lah. Jadi, gimana ... suka tempat ini?" tanya Abraham.
"Mas Bram sendiri gimana?" Marsha justru bertanya balik kepada suaminya itu.
"Kamu dulu ... kalau kamu oke, aku tidak masalah. Soalnya yang bakalan menempati rumah ini adalah kamu dan Mira. Jadi, utamakan pilihan dan pandanganmu dulu," balas Abraham.
Lagi, Marsha mengamati ruangan demi ruangan itu. Memang masih kosong, seolah Marsha sudah membayangkan di mana saja barang-barangnya akan ditempatkan, dan bagaimana memiliki hunian yang nyaman untuk keluarga kecil mereka. Hingga akhirnya, Marsha pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku suka ... ini rumah impian aku sih, Mas. Aku tidak ingin memiliki rumah besar yang mewah. Cukup minimalis saja, tetapi penuh cinta di dalamnya. Aku berharap, kamu, aku, dan Mira bisa mewujudkan itu. Menghadirkan begitu banyak cinta di dalam rumah ini," balas Marsha dengan sungguh-sungguh.
Bagi Marsha bukan semewahnya sebuah rumah, tetapi cinta yang hadir dan memenuhi rumah itu. Sehingga suami dan istri dan anak, bahkan penghuni rumah lainnya bisa merasakan kebahagiaan yang bersumber dari cinta yang meluap dengan setiap harinya.