
Seakan menyadari bahwa apa yang dilakukan Abraham salah, kali ini pria itu benar-benar ingin menebus kesalahannya. Dia pulang ke Semarang untuk Marsha dan juga rindu dengan Mira. Sehingga siang itu, Mira pun langsung menempel dengan Papanya.
"Papa kangen Mira enggan?" tanya Mira dengan tiba-tiba.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Tentu ... Papa kangen dong sama cantiknya Papa ini. Mira sudah di Semarang berhari-hari kangen enggak sama Papa?"
"Uhm, ya kangen Pa ... cuma kan Papa kalau di Jakarta suka bikin Mama nangis. Mira jadi sedih," balas Mira.
Mendengar bahwa Mira yang merasa sakit ketika Mamanya menangis, membuat Abraham merasa bersalah. Dia harus menebus kesalahannya. Dia juga sampai heran karena Mira bisa mengungkapkan perasaannya yang merasa sedih karena Mamanya sering menangis karena Papanya.
"Maafkan Papa yah ... Papa udah bikin Mama menangis dan membuat kamu sedih," balas Abraham.
"Iya, Pa ... dimaafkan kok. Jangan buat Mama menangis lagi ya Pa ... nanti perutnya Mama bisa sakit dan adiknya kasihan," balas Mira.
Sudah begitu terlihat bahwa Mira begitu kritis, bahkan dia bisa berpikir bahwa ketika perut Mamanya sakit, adiknya pun juga kasihan. Tidak ada yang memberitahu Mira, tetapi anak kecil itu bisa mengurai satu kejadian hingga sedemikian rupa.
"Iya, Papa janji ... maafkan Papa ya Sayang," balas Abraham.
Terlihat sekali bahwa Abraham pun adalah sosok ayah yang kooperatif. Orang tua bukan tempatnya benar, tetapi orang tua bisa juga melakukan kesalahan yang membuat anak menjadi bersedih. Di sini juga terlihat bahwa Abraham pun meminta maaf kepada anaknya. Bukan melulu anak yang salah dan harus meminta maaf, tetapi Abraham pun memberikan teladan nyata bahwa ketika dia bersalah, Abraham pun meminta maaf kepada putrinya sendiri.
"Mira maafkan kok Papa ... kan Mama selalu berkata tidak baik mendendam, ketika ada yang meminta maaf harus dimaafkan," balas Mira.
Di sinilah, Abraham begitu salut dengan pola pengasuhan yang diterapkan Marsha. Istrinya itu bukan hanya memastikan Mira tumbuh sehat, tetapi juga memberitahukan untuk memiliki karakter yang baik. Salah satunya adalah tidak mendendam.
"Papa kan sudah di sini ... beliin Mira Es puter dong Pa," pinta Mira kepada Papanya itu.
Abraham pun segera menganggukkan kepalanya, "Boleh ... yuk, jalan ke depan mau?"
"Mau dong ... pamit sama Mama dan Eyang dulu, Pa," balas Mira.
Akhirnya mereka berpamitan dengan Marsha dan Mama Diah untuk membeli es puter yang ada di dekat rumah Abraham. Sekaligus ini menjadi waktu untuk menebus kesalahan bagi Abraham. Papa muda itu tampak menggandeng tangan Mira dan kemudian mengajaknya membeli es puter.
"Mira seneng bisa jajan es puter sama Papa ... kangen Papa," ucapnya.
Hati Abraham begitu tersentuh dengan ucapan anaknya itu. Bukan hanya Mira yang kangen, Abraham pun juga begitu kangen dengan putrinya itu. Makin kangen karena Mira kian pintar dan semakin bisa mengutarakan perasaannya. Abraham menjadi merasa bersalah karena sudah membuat Marsha dan Mira bersedih karena tindakannya.
"Es puter satu, Pak," pesan Abraham kepada bapak-bapak penjual Es puter itu.
Menunggu satu es puter, Mira dan Abraham duduk bersama di tempat jualan itu, dan begitu satu cup es puter sudah datang, Abraham segera membayarnya dan mengajak Mira untuk pulang. Terlihat bagaimana Abraham selalu menggandeng tangan putrinya itu.
"Iya, Ma ... dibawa pulang saja. Mama mau?" Mira menawarkan es puter kepada Mamanya.
"Buat Mira saja," balasnya.
Merasa Mamanya tidak menginginkan es puter, Mira kemudian meminta kepada Papanya untuk menyuapinya. Bahkan keduanya tampak saling menyuapi satu sama lain.
"Akur ya Ma," gumam Marsha kepada Mama Diah.
"Kangen mereka, Sha ... Papa dan anaknya kan begitu," balas Mama Diah.
"Jadi adem lihatnya," balas Marsha.
"Mama lihat kamu dan Abraham sekarang juga adem. Rukun selalu," balas Mama Diah.
"Amin Ma," balas Marsha.
Siang itu benar-benar dimanfaatkan Abraham bersama dengan Mira. Dari mulai makan es puter bersama, sampai Mira meminta kepada Papanya untuk menemaninya bobok siang. Sementara setelah Mira bobok siang, barulah Abraham memasuki kamarnya dan menyusul Marsha yang ada di dalam kamarnya.
"Baru ngapain Shayang?" tanyanya.
"Baca-baca aja, Mas ... Mira bobok yah?" tanya Marsha.
"Iya, nempel sama Papanya. Kangen dia," balas Abraham.
Marsha lantas menatap suaminya itu, "Anak kecil itu kalau urusan mengungkapan perasaan dia itu jujur, Mas ... perasaannya masih lembut," balas Marsha.
"Iya, aku jadi merasa bersalah. Dia berpesan supaya Papanya tidak membuat Mamanya menangis nanti adik bayinya bisa sakit," balas Abraham. Kemudian Abraham menghela nafas dan menggenggam tangan istrinya perlahan, "Maafkan aku ya Shayang ... aku memang tidak peka. Maaf," ucap Abraham lagi.
"Iya, tidak apa-apa kok," balas Marsha.
"Jangan marah lagi yah," balas Abraham.
"Ya itu, tergantung kamu yang bikin aku marah dan sebel enggak," balasnya.
Abraham menghela nafas dan beringsut, "Aku kangen kamu ... udahan yah marahnya. Aku kangen kamu," balas Abraham.
Tidak perlu mengucapkan banyak suara, Abraham menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dengan tangan yang menggenggam erat tangan istrinya, begitu kangen rasanya berpisah tiga hari dariĀ istrinya itu.