
Malam hari di unit apartemen mereka, begitu Mira sudah terlelap, banyak yang bisa mereka ceritakan bersama. Seperti malam ini, mereka berbagi memori dan juga mengenang setiap masa-masa indah yang terjadi di dalam unit apartemen ini.
“Aku sebenarnya suka tinggal di sini, Mas … rasanya susah untuk keluar dari sini,” cerita Marsha dengan mengedarkan pandangannya menatap setiap sudut di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu suka tinggal di sini, Shayang?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Unit ini menjadi tempat pertamaku bernaung begitu keluar dari rumah besar yang ada di sana. Di kala aku ingin pergi dan melarikan diri, di saat aku dipukuli oleh suamiku sendiri kala itu, tempat ini menjadi tempat pertama yang menampungku," balas Marsha.
Tidak bisa dipungkiri memang di apartemen inilah yang menjadi tempat persinggahannya. Hasrat untuk pergi, melarikan diri dari Melvin justru mempertemukannya dengan Abraham dan kemudian Marsha tinggal di apartemen itu. Dia menempati kamar, sementara Abraham memilih tidur di sofa. Sungguh, tempat berbentuk persegi ini sangat berkesan untuk Marsha.
Mendengar apa yang barus disampaikan Marsha, Abraham pun tersenyum, "Mana aku rela membiarkan kamu yang kesakitan dan hidup seorang diri di luar sana. Aku akan merawatmu, membalut lukamu, dan memastikanmu sembuh. Dia menyakitimu, membuatmu terluka, tetapi aku yang akan merawatmu," balas Abraham.
"Terima kasih sudah merawatkan saat itu," balas Marsha.
"Sama-sama Shayang ... aku pun merasakan hal yang sama karena memang ini tempat pertamaku di Jakarta. Susah untuk melepaskannya. Hanya saja keselamatan kamu dan Mira itu prioritas utama untukku. Terlebih Melvin bisa datang kapan saja ke sini. Jadi, semakin jauh darinya, itu semakin baik," balas Abraham.
"Benar Mas ... dan ingat tidak Mas, di kamar ini juga ... hasrat terlarang ini terjadi. Aku dan kamu, sampai adanya Mira," balas Marsha dengan menundukkan wajahnya.
Ya, bayangan untuk kali pertama Marsha merasakan terpaan hasrat terlarang bersama Abraham. Semua itu terjadi di tempat ini, di kamar ini. Kala Abraham dan dirinya sama-sama tersulut, hingga terjadi hubungan terlarang yang kini berubah menjadi hubungan yang sah.
"Kamu bisa saja Shayang ... di situ yah," balas Abraham dengan menunjuk ranjang mereka berdua.
Tidak menjawab, Marsha justru menghambur dalam pelukan Abraham dan juga membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. "Iya, di sana ... kamu dan aku," balas Marsha.
"Itu adalah kekhilafan terindah, Shayang ... aku tidak akan bisa menukar momen itu dengan apa pun. Ingat Shayang, ini memang khilaf, tetapi itu bukan sekadar hasrat. Itu adalah rasa cintaku yang benar-benar gila kepadamu," balas Abraham.
Memang kala itu, mereka berdua sama-sama melakukan hubungan terlarang sebelum pernikahan. Abraham sepenuhnya sadar, tindakan mereka melawan nilai dan norma. Namun, bagaimana dengan perasaan cintanya yang terus-menerus meletup-letup dan tidak bisa tertahan lagi untuk Marsha. Itu adalah momen penyatuan yang bukan hanya dramatis, tetapi juga sangat indah untuk Abraham. Untuk semua itu, Abraham tak ingin menukarnya dengan apa pun juga.
"Aku terharu mendengarnya Mas ... kini tak ada lagi hasrat terlarang. Sebab, sekarang kita sudah sah. Semuanya yang terjadi adalah bentuk cinta kita. Aku sangat cinta sama kamu," balas Marsha.
"Iya Shayang ... aku juga sangat cinta sama kamu. Nanti, di rumah baru kita itu, kita buat banyak kenangan indah berdua yah. Saat pindah ke sana, kamu sudah selesai kan?" tanya Abraham dengan tiba-tiba.
"Semoga sudah selesai ya Mas," balas Marsha lagi.
"Mungkinkah bisa selesai kurang dari 40 hari Shayang?" tanya Abraham.
"Mungkin kok Mas ... tergantung kondisi hormonal masing-masing wanita juga," balas Marsha.
"Baiklah ... aku tunggu sampai kamu benar-benar selesai," balas Abraham.
"Jadi, selama tinggal di sini ... momen apa yang paling berkesan?" tanya Abraham.
"Uhm, semuanya berkesan. Hanya saja, memang kali pertama itu sangat berkesan. Itu antara batas ketakutan, batas kenikmatan, bahkan semua batas yang lain hancur dan melebur menjadi satu. Perasaanku benar-benar gila waktu itu. Tak bisa terdefinisikan lagi," balas Marsha.
Abraham pun sedikit tertawa, dan merangkul bahu Marsha, memberikan usapan dan sedikit remasan di bahu itu. "Kamu bisa saja Shayang ... cuma mungkin waktu itu kita berdua yang sama-sama gila. Namun, aku bersyukur karena hasrat terlarang itu, aku bisa memilikimu seutuhnya dan sepenuhnya," balas Abraham.
"Iya Mas ... itu bisa menjadi catatan kelam perjalanan cinta kita. Hanya saja, itu menjadi tonggak bersejarah dalam hidupku. Satu bulan setelahnya, aku hamil. Itu artinya luruh sudah ucapan buruk yang selalu diucapkan Mamanya Melvin kepadaku bahwa aku adalah wanita yang mandul. Aku bisa mengandung, melahirkan, dan kini menjadi seorang Ibu," balas Marsha.
Ya, dulu mantan mertuanya menyebutnya wanita yang mandul dan tidak bisa memberikan garis keturunan untuk Melvin. Marsha lah yang selalu disudutkan, tanpa melihat kesalahan Melvin. Begitu bisa hamil, Marsha tentu bersyukur karena dirinya adalah wanita yang bisa menghasilkan keturunan.
"Kamu itu wanita yang sempurna Shayang. Kamu itu wanita yang kuat. Mira itu menjadi bukti bahwa kamu itu bisa reproduksi dengan baik. Makanya anggapan buruk itu luruh seketika saat kamu hamil. Apakah mungkin Melvin yang mengalami gangguan reproduksi?" tanya Abraham.
"Entahlah Mas ... aku juga tidak tahu," balas Marsha.
Kemudian Marsha menatap suami, "Jangan bahas dia lagi, Mas ... bahas saja tentang kita. Babak baru akan terjadi dengan pindahnya kita dari tempat ini. Begitu badanku sudah merasa lebih baik lagi, aku akan menerima endorsan lagi ya Mas ... nanti bantuin untuk foto-foto. Lumayan untuk tabungan sekolahnya Mira nanti," ucap Marsha.
Kali ini Marsha berpikir bagaimana caranya bisa menghasilkan uang di rumah. Salah satunya menjadi selebgram dan menerima endorse yang memang hiatus sementara sejak dia melahirkan Marsha. Nanti jika badannya sudah lebih enak, Marsha akan kembali menjalani profesinya itu.
"Iya Shayang ... kamu mau jadi Youtuber, juga aku akan kerjakan. Sebahagia kamu saja. Lakukan apa yang kamu senangi, yang penting Mira harus nomor satu," balas Abraham.
Skill di bidang fotografi dan multimedia yang Abraham miliki bisa dia gunakan untuk mensupport kesukaan istrinya. Oleh karena itu, Abraham pun tidak masalah jika harus membantu Marsha dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah.
"Gampang Mas ... nanti aku pikirkan dulu," balas Marsha.
"Benar Shayang ... dikonsep dulu ya matang. Direncanakan dengan sebaik mungkin, yang pasti aku akan selalu mendukungmu. Cuma enggak gratis yah," balas Abraham.
Marsha beringsut dan menatap wajah suaminya itu,"Bayar?" tanya Marsha.
"Bayar dong," sahut Abraham dengan tertawa.
"Pakai apa?" tanya Marsha lagi.
"Pakai cinta ... cintaiku aku seumur hidupku. Itu adalah harga yang harus kamu bayar untukku," balas Abraham.
Bisa-bisanya Abraham menggodai istrinya sedemikian rupa. Malam itu sampai Marsha terkekeh geli karena gombalan Abraham. Sungguh, jika hanya mengharapkan cinta, maka Marsha akan selalu mencintai pria hebat yang kini mendampinginya itu.