Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Tempat Bersandar


Malam hari pun tiba, di kala Mira sudah terlelap, Marsha segera mendatangi suaminya itu. Marsha tahu bahwa suaminya sedang berduka dan juga banyak pikiran. Oleh karena itulah, Marsha kini duduk di samping suaminya. Marsha memilih tidak banyak bicara, tetapi Marsha membuka kedua tangannya, meminta suaminya itu untuk memeluknya. Pelukan yang hangat jauh lebih bermakna bagi suaminya yang sekarang sedang kalut.


Melihat reaksi yang ditunjukkan Marsha, Abraham pun menganggukkan kepalanya. Tanpa banyak bicara, Abraham beringsut, pria itu memeluk Marsha, dan mencerukkan wajahnya di area dada Marsha. Pria itu memejamkan matanya dengan mendekap erat tubuh istrinya.


Ada tangan Marsha yang memberikan usapan di rambut suaminya, bahkan Marsha menunduk dan mencium kening suaminya. Berkali-kali bibirnya yang hangat berlabuh di puncak kepala suaminya.


"Sabar, kuat, dan ikhlas ya Mas," ucap Marsha pada akhirnya.


Marsha teringat dengan pesan yang diberikan oleh Bu Sara untuk berbicara dari hati ke hati dengan suaminya. Memberi waktu tenang layaknya jeda untuk Abraham supaya bisa menata hatinya dengan lebih baik. Wanita itu kini justru memejamkan matanya dan terus mengusapi kepala suaminya itu.


"Shayang ...."


Abraham yang semula diam pun akhirnya berbicara. Pria itu menghela nafas dan kian mencerukkan wajahnya di dada Marsha.


"Hmm, iya Mas ... aku ada di sini, denganmu," balas Marsha.


"Kenapa jadi seperti ini? Awalnya aku mengira bahwa semuanya baik-baik saja, sampai kemarin fakta mengenai diriku tersingkap. Aku adalah kakak tiri Melvin. Maafkan aku," balas Abraham.


Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak usah meminta maaf. Aku cinta kamu, Mas ... melebihi apa pun. Aku cinta kamu dan tidak memandang latar belakang kamu. Sebab, aku yakin bahwa kamu adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab," balasnya.


"Cuma ... di darahku dan Melvin mengalir darah yang sama, Shayang," balas Abraham.


"Ada kalanya darah tidak menentukan apa pun, Mas ... aku cinta kamu apa adanya, tanpa melihat masa lalu kamu," balas Marsha.


Abraham diam. Pria itu kian memejamkan matanya di sana. Banyak hal yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Sejak kemarin memang Abraham irit berbicara, hanya sekarang Abraham harus bisa berdamai dengan keadaan, menata hatinya dengan lebih baik lagi.


"Tidak kukira kurang dari 24 jam aku bertemu dengannya, dan juga dia pergi lagi meninggalkanku. Tentu kamu tahu, Shayang ... aku tumbuh tanpa kasih sayangnya. Aku tumbuh dengan menyimpan kebencian yang menjadi akar yang pahit di dalam hatiku. Hingga kebencian itu membuatku merasa tidak yakin apakah aku bisa menjadi seorang ayah yang baik nanti," ucapnya.


Lagi Marsha memberikan usapan di rambut suaminya, "Kamu adalah Ayah terbaik untuk Mira. Kalian Ayah dan Anak, tetapi jalan yang kalian ambil bisa berbeda, Mas. Tidak selamanya akan mengikuti jalan yang sudah dilalui orang tua. Tuhan memberikan kita kehendak untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, terus lakukan yang terbaik. Terus menjadi Papa yang hebat buat Mira," balas Marsha.


Itu adalah kata-kata penguatan yang Marsha ucapkan. Sebab, dia juga ingin suaminya itu kembali bangkit. Tidak dalam waktu sekejab, tetapi percayalah bahwa Marsha akan selalu ada untuk suaminya. Mereka sudah sama-sama berjanji untuk saling mendampingi sampai tua nanti.


"Nanti di hari ketujuh, datanglah ke rumahnya Mas ... ikuti tahlilan yang diadakan. Bagaimana pun Papa Wisesa adalah Ayah kandungmu," ucap Marsha.


"Apa aku diterima di sana?" balas Abraham.


"Diterima, niatanmu baik untuk turut mendoakan. Juga, lepaskan pengampuni kepada Papamu. Tidak ada gunanya menyimpan dendam kepada mereka yang telah tiada. Biarkan maafmu akan melapangkan kuburnya," balas Marsha.


"Baiklah ... aku akan berusaha," balas Abraham.


"Tuh, kamu adalah pria yang baik dan pemaaf. Doaku Allah selalu menguatkan hatimu, menaruh kebaikan demi kebaikan di dalam hidupmu, menjadi sosok yang pemaaf," balas Marsha.


Sungguh lega rasanya, Abraham juga merasakan ketulusan yang diucapkan Marsha benar-benar menyentuh hatinya. Abraham merasakan bahwa doa yang Marsha ucapkan memang sebuah doa yang tulus.


"Makasih Shayang ... bagaimana pun aku kehilangan. Namun, air mata itu tidak bisa jatuh. Luka, kesal, amarah, bercampur menjadi satu, ditambah kehilangan. Dada sesak banget, Shayang."


Kali ini Abraham mengakui bagaimana perasaannya. Abraham mengakui dirinya juga kehilangan, tetapi air matanya tidak bisa mengalir. Entah, hanya saja semua rasa seolah menyumbat air matanya untuk tidak terjatuh.


Marsha menganggukkan kepalanya, "Sekarang kalau kamu mau menangis boleh Suamiku ... aku akan menampung air matamu. Sama seperti kamu yang membalut lukamu, menyeka air mataku, aku akan melakukan hal yang sama untukmu," balas Marsha.


Kini usapan tangan Marsha kian lembut, bibirnya turun dan mengecupi puncak kepala Abraham, ada usapan juga di bahu hingga punggung suaminya itu. Entah apakah Marsha yang menyentuhnya dengan penuh dengan perasaan, akhirnya air mata itu lolos juga.


Abraham terisak, merintih, dalam pelukan Marsha. Meluapkan semua rasa yang memenuhi dadanya hingga rasanya begitu sesak. Marsha pun larut, turut berderai air matanya bersama suaminya itu. Marsha tahu tidak mudah bagi Abraham, tetapi bagaimana lagi garis takdir sudah diberikan Sang Khalik. Tak bisa lagi untuk mengelak, hanya sebatas menjalani.


Cukup lama Abraham terisak, sampai di batas pria itu menarik wajahnya dari dada Marsha, lantas Abraham tersenyum di sana.


"Terima kasih sudah memberikanku tempat dan waktu untuk mengeluarkan semua air mata ini. Terus dampingi aku ya Sha ... kuatkan aku di saat aku rapuh seperti ini," ucap Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... seumur hidupku aku akan mendampingi kamu. Seumur hidupku akan aku dedikasikan untukmu. Aku benar-benar cinta kamu, Mas," balasnya.


Kini Abraham yang merengkuh tubuh Marsha dalam pelukannya. Keduanya berpelukan dengan berlinangan air mata di sana. Setidaknya di kala air mata itu turun dan jatuh, hati merasa sedikit lebih lega. Abraham merasa Marsha memang tempat untuknya pulang, tempat untuknya bersandar, tempat untuknya menunjukkan sisi terlemahnya. Tidak ada lagi yang bisa Tama tutupi dari Marsha. Bentuk terpahitnya, kerapuhannya, amarahnya, bahkan dendamnya dia kepada sang Ayah semuanya Abraham tunjukkan kepada Marsha.


"Aku juga cinta kamu Shayang ... di hari ketujuh nanti, dampingi aku ke rumah Melvin mau?" tanya Abraham kemudian.


"Mau," balas Marsha.


"Dampingi aku ke makam juga ya Shayang ... tabur bunga di makam Papa yah," ajak Abraham lagi.


"Tentu Mas ... aku akan selalu mendampingimu," balas Marsha lagi.


Sebisa mungkin Marsha akan selalu mendampingi suaminya itu. Apa yang bisa Marsha lakukan akan selalu Marsha lakukan untuk suaminya. Mendampingi suaminya adalah hal yang akan selalu Marsha lakukan.