
Hampir jam 20.00, Marsha baru tiba di Jakarta. Perjalanan udara dari Jogjakarta menuju Jakarta nyatanya bukan membuat Marsha bahagia karena bisa bertemu kembali dengan suaminya. Namun, kembali ke Jakarta justru membuat Marsha merasakan kehilangan kebahagiaan. Perasaan yang sangat aneh, tetapi inilah yang Marsha rasakan saat ini.
Perjalanan malam dari Bandara Internasional Soekarno - Hatta sampai ke kediaman Marsha membutuhkan waktu hampir satu jam. Begitu sampai di rumahnya, Marsha mendapati ART-nya yaitu Bibi Tini yang masih membersihkan dapur.
“Bibi Tini, kok malam-malam masih kerja sih?” tanya Marsha kepada ART-nya tersebut.
“Eh, Non Marsha sudah pulang yah? Gimana perjalanannya Non?” tanya Bibi Tini.
Terlihat Marsha yang tersenyum, “Capek Bi … pergi cuma tiga hari, tetapi capeknya gak hilang deh dalam seminggu,” balas Marsha.
“Mau Bibi buatkan Susu hangat, Non?” tawar Bibi Tini kepada Marsha.
“Boleh Bi … nanti anterkan ke kamar saja ya Bi. Aku mau mandi dan bersih-bersih dulu,” balas Marsha.
Marsha pun segera menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Kemudian Marsha memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Lagipula, usai perjalanan jauh dan berkeringat, mandi adalah pilihan terbaik untuk menyegarkan badan.
Hampir setengah jam Marsha berada di dalam kamar mandi, kini Marsha tampak duduk di depan cermin riasnya. Mengaplikasi serum di wajahnya agar kelembaban dan kekenyalan kulit wajahnya tetap terjaga. Sampai akhirnya, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Non Marsha … ini Bibi Tini,” teriak Bi Tini dari luar kamar Marsha.
“Masuk saja Bi, tidak dikunci kok,” sahut Marsha dengan sedikit berteriak.
Bibi Tini pun masuk dengan membawa segelas susu hangat untuk Marsha. “Silakan Non Marsha … susu hangatnya, biar capeknya hilang,” ucap Bibi Tini.
Marsha memang memiliki kebiasaan bahwa saat dirinya kecapekan, dia akan meminum segelas susu hangat kemudian tidur. Keesokan paginya, Marsha akan merasa bahwa tubuhnya lebih enakan dan capeknya pun hilang.
“Makasih Bi,” sahut Marsha.
Rupanya Bibi Tini tidak langsung keluar dari kamar Marsha. Wanita berusia kepala empat itu tampak memandang Marsha dengan tatapan yang sukar dijelaskan. “Non Marsha, untung selama tiga hari ini Non Marsha ada di luar kota. Beberapa hari ini, para pemburu berita memenuhi gerbang depan rumah ini. Selama tiga hari, Bibi tidak berani keluar. Hanya sekuriti saja yang berjaga dan terkadang memberi jawaban kalau Non Marsha dan Den Melvin tidak ada di rumah,” cerita Bibi Tini.
Ah, rupanya tujuan Bibi Tini tidak segera pergi dari kamar Marsha karena ada berita yang harus dia sampaikan kepada Nyonya rumah. Marsha pun mendengarkan semua cerita Bibi Tini itu. Dalam tiga hari dirinya memang berada di Jogjakarta, sehingga dia tidak tahu menahu tentang kondisi di rumah.
Tentu saja Marsha ingin tahu dalam tiga hari ini apakah suaminya itu pulang ke rumah atau tidak. Bibi Tini sebagai ART yang stand by di rumah, pasti melihat apakah Melvin pulang ke rumah atau tidak.
Bibi Tini pun perlahan menggelengkan kepalanya, “Den Melvin tidak pulang, Non. Sudah tiga hari ini,” balas Bibi Tini.
Mendengar jawaban Bibi Tini, nyatanya hati Marsha justru kian berkecamuk. Kemana perginya Melvin dalam tiga hari ini? Tempat mana yang disinggahi suaminya itu? Sebenarnya Marsha tak ingin berpikiran negatif. Hanya saja dengan pemberitaan yang menyeruak mengenai Melvin rasanya membuat Marsha pun lebih was-was.
“Ya sudah ya Non … istirahat saja. Bibi harap Non Marsha kuat dan sabar menghadapi semuanya,” ucap Bibi Tini.
Marsha tersenyum getir, “Makasih Bi,” ucapnya dengan menggigit bibir bagian dalamnya.
Jujur saja Marsha menjadi kepikiran kemana pulangnya Melvin dalam tiga hari ini. Mungkinkah Melvin memang lebih memilih pulang di apartemen milik Rido yang merupakan Asisten Pribadinya. Tangan Marsha bergerak dan meraih Smartphone-nya yang berada di atas nakas. Tujuannya sekarang adalah untuk menemui Rido. tetapi Marsha mengurungkan kembali niatnya karena dia ingin mendengarkan dan meminta penjelasan secara langsung dari suaminya.
Kini, Marsha lebih memilih meminum susu hangat yang dibuatkan Bibi Tini. Kemudian Marsha memilih tidur terlebih dahulu. Mengistirahatkan badannya. Namun, Marsha tetap akan berjaga dan menunggu sampai nanti waktunya Melvin pulang dari lokasi syuting.
***
Keesokan harinya …
Mungkin karena terlalu capek, semalam Marsha benar-benar tertidur pulas. Marsha meraba bagian ranjang di sebelahnya yang ternyata masih kosong. Tidak ada sosok Melvin yang berbaring di sisinya.
Bahkan semalam, kamu juga tidak pulang Yang?
Sebenarnya kamu pulang kemana? Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku akan pergi bekerja ke Jogjakarta hanya selama tiga hari. Selama tiga hari aku pergi, nyatanya kamu tidak pulang. Bahkan, di saat aku sudah kembali ke rumah kita, kamu juga tidak pulang.
Apakah sesibuk ini jadwal syutingmu? Sampai sekadar untuk pulang dan menyapa istri pun tidak bisa kamu lakukan. Aku kesepian, Yang … rumah tangga kita terasa hambar. Tidak ada kehangatan. Bukan rumah tangga seperti ini yang aku harapkan.
Alhasil, di pagi membuka mata saja hati Marsha sudah berkecamuk. Pagi ini, dirinya mendapati bahwa hanya dirinya saja yang tertidur di ranjang berukuran Super King Size itu. Di ranjang selebar itu, hanya Marsha sendiri yang menidurinya. Tidak ada sosok Melvin. Tidak ada pelukan, kecupan hangat, bahkan ungkapan cinta untuknya. Hatinya terasa perih bahkan saat baru saja membuka mata dan mendapati tidak ada suaminya yang berbaring di sampingnya. Suaminya yang tak pulang-pulang tanpa memberikan kabar dan pesan.
Ketika orang menyambut pagi dengan semangat yang baru, Marsha justru menyambut pagi hari ini dengan rasa gamang dan gelisah menyelimuti hatinya. Pikiran-pikiran buruk seakan mengisi pikirannya begitu saja. Bayang-bayang Melvin yang mungkin saja menjalin affair di luar sana membuat Marsha begitu gamang dan bersedih. Rumah tangga yang dingin dan tanpa kehangatan. Itulah yang dirasakan dan melingkup Marsha pagi ini.