
Tidak terasa sudah hampir sepuluh bulan lamanya, Melvin mendekam di balik jeruji besi. Semua kegiatan keartisan sang aktor pun dihentikan. Jadwal untuk beberapa miniseries yang seharusnya dilakonkan olehnya pun, pada akhirnya harus digantikan oleh aktor lainnya.
Dengan duduk beralaskan lantai, Melvin tampak bersandar di dinginnya dinding penjara, dengan mengusap wajah hingga rambutnya dengan kasar.
"Marsha sialan! Semua ini terjadi gara-gara Marsha," gumamnya dalam hati.
Waktu memang berlalu, berbulan-bulan, tetapi di dalam hatinya, Melvin masih beranggapan bahwa dirinya bisa sampai menghuni jeruji besi karena Marsha. Jika saja, Marsha tidak melakukan visum untuk semua kekerasan yang dia alami, maka Melvin masih bisa bebas dan menghirup udara segar. Akan tetapi, karena surat keterangan hasil visum yang menjelaskan bahwa Marsha adalah korban kekerasan dalam rumah tangga, maka Melvin pun terbukti bersalah dan harus menerima kurungan penjara.
Dalam masa hukumannya, ada kalanya Melvin merindukan untuk kembali berakting di depan kamera, mempelajari naskah demi naskah yang harus dihafalkan, dan kini di dalam jeruji besi praktis yang dia lakukan hanya mengikuti kegiatan di lembaga permasyarakatan seperti membersihkan secara piket, beribadah, rehabilitasi dengan konselor, dan juga olahraga.
Sepuluh bulan terakhir, Melvin juga hanya menerima beberapa kali kunjungan dari orang tuanya dan juga Lista yang beberapa kali juga datang untuk mengunjunginya.
Sama seperti hari ini, Melvin tengah menerima kunjungan dari Lista. Pria berparas tampan itu, tampak tersenyum menatap Lista.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Melvin kepada Lista.
"Baik," sahut Lista.
Wanita datang dengan membawakan beberapa makanan kesukaan Melvin. Untuk pria yang rutin memberikan uang bulanan, maka tidak masalah jika mengunjungi Melvin dan Lista membawakan makanan untuk prianya itu.
"Kamu masih berapa lama lagi harus tinggal di sini?" tanya Lista.
"Setengah tahun lagi mungkin," balas Melvin.
Melvin memang hanya dijatuhi masa tahanan 18 bulan. Jika sudah terlampaui 10 bulan, maka Melvin tinggal menjalani sisanya saja. Itu sudah dipotong dengan amnesti yang diberikan dan berperilaku baik selama di dalam lapas.
"Masih lama," balas Lista dengan helaan nafas yang berat.
Melvin pun tersenyum melihat Lista, "Kenapa sudah kangen? Sudah pengen melakukan yang enak sama aku?" tanyanya dengan mengedipkan satu matanya.
"Kamu bisa saja ... selama di dalam sini, kamu bagaimana?" tanya Lista.
Sungguh, Lista tidak menyangka bahwa Melvin melakukan permainan sendiri dengan membayangkannya. Lista tersenyum, kemudian wanita itu terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Melvin, kira-kira sampai kapan aku hanya akan menjadi simpananmu?" tanyanya.
Sudah cukup lama, Lista menjalani hubungan yang saling menguntungkan layaknya simbiosis mutualisme dengan Melvin. Mengingat Melvin yang sekarang juga sudah menduda, maka Lista pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Melvin.
Mendengar Lista yang menanyakan perihal statusnya, Melvin hanya diam. Tak bisa memberikan jawaban kepada Lista. Sebagai seorang pria sepenuhnya Melvin tahu bahwa Lista membutuhkan kejelasan darinya. Namun, usai pernikahannya dengan Marsha berakhir, rasanya Melvin enggan untuk kembali terikat dalam pernikahan.
Bukan karena Marsha masih menghuni isi hatinya, tetapi karena Melvin enggan terlibat dalam pernikahan yang mengikat. Jika bisa menikmati surga dunia tanpa harus menikah, kenapa harus memerangkap diri sendiri dalam sebuah pernikahan yang mengikat.
"Maaf Lista, rasanya aku masih belum siap untuk kembali menikah," jawabnya dengan jujur.
Lista yang mendengar jawaban yang diberikan Melvin merasa sangat kecewa. Sebab, pikirnya dia bisa menggantikan posisi Marsha sebagai pendamping Melvin dan mengakhiri statusnya hanya sebatas simpanan.
"Kenapa Vin? Sampai kapan kamu akan terus menyimpanku. Padahal mantan istrimu sudah menikah lagi, dia bahkan sudah hamil sekarang," ucap Lista.
Wanita itu menunjukkan ponsel miliknya dan membuka media sosial sebuah waralaba kopi, crufflee, dan toast yang menunjukkan Marsha sebagai brand ambassadornya. Melvin cukup kaget, bahkan waralaba yang cukup besar itu menjadikan Marsha sebagai brand ambassadornya. Melvin pikir, usai perceraiannya karier modelling Marsha akan berakhir.
"Dia Marsha? Sekarang, Marsha hamil?" tanya Melvin.
Lista pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... kamu tidak lihat betapa besarnya perutnya," ucap Lista.
Wanita itu kini menghela nafas dan menatap Melvin dengan pandangan yang berkaca-kaca, "Jadi, walau semua sudah berubah, kamu tidak ingin menghalali aku, Vin? Apa aku selamanya akan menjadi wanita yang memuaskan nafsumu?"
Sebuah pertanyaan jujur dari seorang wanita yang selama ini hanya dipergunakan seorang pria untuk memuaskan nafsunya belaka. Untuk semuanya itu, Lista sangat terluka dan berharap kali ini Melvin akan menjadikannya miliknya yang sah secara hukum dan juga agama.
Air mata pun berlinang begitu saja dari sudut mata Lista. "Apa cuma dia yang bisa menjadi istrimu yang sah? Sementara aku hanya kamu pergunakan untuk memenuhi hasrat dan nafsu gilamu?" tanya Lista dengan terisak.
Sebenarnya Lista tak ingin menangis, tetapi sebagai wanita Lista juga ingin mendapatkan pengakuan dari khalayak luar bahwa dia adalah wanitanya Melvin Andrian. Lista ingin juga masyarakat tahu bahwa dirinya pemilik hati seorang Melvin Andrian. Sayangnya, Melvin tidak berani berkomitmen. Melvin tidak ingin menjalani sebuah pernikahan lagi dalam jangka waktu yang hanya sepuluh bulan. Melvin merencanakan untuk membangun kembali karier keartisannya usai keluar dari hotel prodeo nanti.