Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Bekerja dengan Passion


Usai pemotretan selesai, Marsha dan Abraham juga kembali pulang. Rasanya ini hari yang begitu panjang untuk Marsha, kembali bergaya di depan kamera yang membuat wanita cantik itu beberapa kali tampak tersenyum. Abraham pun tahu bahwa Marsha bahagia sekarang. Kerinduan untuk kembali berpose di depan kamera dan lighting yang akhirnya terobati juga.


“Seneng Shayang?” tanya Abraham kepada istrinya itu.


“Seneng banget, Mas … dari hamil sampai Mira sudah mau dua tahun, baru kali ini berlaga di depan kamera dan lighting,” balasnya.


Abraham sebenarnya sangat tahu dengan perasaan Marsha sekarang ini. Akan tetapi, Abraham juga ingin Marsha bisa bercerita dan juga mengungkapkan perasaannya. Walau pun sudah terlihat dengan jelas bahwa Marsha pun terlihat begitu bahagia sekarang ini.


“Pengen kembali ke dunia modelling enggak Sayang?” tanya Abraham kemudian kepada Marsha.


Walau memang dunia modelling sebelumnya sudah membesarkan namanya, dan juga membuat nama Marsha cukup banyak dikenal banyak orang. Akan tetapi, Marsha agaknya perlu mempertimbangkan matang-matang dengan apa yang hendak dia ambil di masa yang akan datang.


“Uhm, kelihatannya enggak deh Mas … tadi aku menemukan sisi diriku yang tersembunyi selama bertahun-tahun ini. Aku juga merasakan kali ini aku bekerja dengan passion yang kumiliki sebagai seorang model. Cuma, orientasiku sekarang tidak ke sana deh … aku pengen mengasuh Mira dan menjadi Ibu dari anak-anakmu,” balas Marsha.


Abraham pun tersenyum bahagia di sana. Semula Abraham pikir bahwa Marsha akan kembali ke dunia modelling usai melakukan pemotretan yang Abraham sangat yakin bahwa memang passion Marsha ada di dunia modelling. Akan tetapi, setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Marsha membuat Abraham pun justru kian bangga dengan istrinya itu.


“Mulia banget Shayang,” balasnya.


“Enggak juga … aku hanya sebatas ingin melakukan apa yang menjadi keinginan terbesarku. Malahan, pengen tambah baby deh Mas,” balas Marsha dengan tertawa.


Agaknya tadi ketika pemotretan, ucapan dan ajakan untuk hamil bersama dari Bu Sara membuat Marsha terpikirkan untuk menambah momong. Mumpung dirinya juga masih muda, sehingga masih kuat dan sehat untuk mengurus dan mengasuh baby. Akan tetapi, itu pun jika Abraham setuju dengannya.


“Boleh Shayang … aku sih hayuk aja,” balas Abraham dengan melirik istrinya dan menaikan satu alis matanya, hingga Marsha pun tertawa.


“Tadi itu seolah obat saja Mas … kerinduanku untuk berpose di depan kamera dan juga lighting. Rasa haus itu menjadi lega. Hanya saja, keinginanku tidak lagi berpose di depan kamera. Ya, itu untuk saat ini sih, tetapi di masa depan nanti ketika Mira sudah jauh lebih besar, aku tidak tahu. Kan keinginan dan harapan manusia bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu,” balas Marsha lagi.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya Shayang ... lakukan saja apa yang menurut kamu baik dan apa yang kamu senangi. Sebab, apa pun itu aku selalu mendukungmu. Kalau kamu mau menjelajahi, dunia Youtube, aku juga tidak masalah dan akan mendukungmu," balas Abraham.


Menurut Abraham dengan skill dan juga kemampuan yang dia miliki, dia bisa mensupport apa yang menjadi keinginan dari Marsha. Selama dia bisa, sudah pasti Abraham akan selalu mendukung Marsha. Termasuk jika istrinya itu ingin menjadi seorang Youtuber. Abraham siap mensupport.


“Belum tahu sih, Mas … aku terlalu bahagia dengan kehidupan rumah tangga kita, Mas. Memang kita tidak melimpah dengan harta kekayaan, tetapi rasa cukup dan rasa syukur yang membuatku selalu bahagia. Passionku menjadi seorang istri dan seorang Ibu juga rasanya kian diasah setiap harinya,” balas Marsha.


Menggantung mimpi dan pekerjaan sebagai seorang model dan kini menjadi istri dan seorang ibu nyatanya justru membuat Marsha menemukan kembali kebahagiaannya. Menyadari bahwa hidup tidak melulu tentang materi, menyadari bahwa banyak hal yang mendatangkan kebahagiaan dalam hidup ini.


"Jujur, aku serasa melihat Marsha beberapa tahun yang lalu ketika kamu di depan kamera tadi," ucap Abraham dengan tiba-tiba.


"Malu ah, Mas ... sudah banyak yang berubah dari diriku. Ini juga pertama kali aku make-up cetar setelah beberapa tahun berlalu. Parfum saja sekarang jadi irit, cukup bau minyak telon dan parfumnya Mira," balas Marsha dengan terkekeh geli.


"Justru sedap kok Shayang ... aku justru senang karena kamu menikmati peranmu sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Masa kecil Mira tidak akan terulang dan dia mendapatkan pengasuhan yang tepat dari Mamanya sendiri," balas Abraham.


Lantas Abraham melirik kepada Marsha, "Jujur ya Shayang ... tadi itu kamu cantik banget. Aku sampai heran, rupanya aku memiliki istri secantik itu. Serius, cantik banget ...."


Abraham pun turut tertawa, "Enggaklah ... mau tahu kamu paling cantik waktu apa?" tanya Abraham kepada istrinya.


"Hmm, waktu apa?" tanya Marsha kemudian.


"Pertama waktu kamu menggendong Mira, dan kedua waktu kamu ada di bawah aku. Itu benar-benar cantik," balas Abraham.


Ah, begitu malunya Marsha mendengar jawaban dari suaminya yang begitu absurd itu. Rasanya sampai Marsha ingin mencubitin lengan atau pinggang suaminya itu. Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa dirinya begitu cantik ketika berada di bawahnya.


"Ah, bikin malu aja sih Mas," balas Marsha.


"Serius ... aku enggak bohong. Kamu cantik banget, pemandangan yang akan selalu tersimpan di dalam memori kepalaku," balas Abraham dengan menyentuh dagu Marsha.


Hingga akhirnya kini Marsha dan Abraham sudah tiba di rumah. Mira yang kala itu diasuh Mama Diah pun tampak bahagia ketika Mama dan Papanya sudah datang.


"Papa ... Pa," teriak Mira melihat Papanya.


Marsha pun melirik ke suaminya, "Sedih gak sih, kita datang berdua dan yang dipanggil Mira cuma Papanya saja. Sedih," balas Marsha.


"Jangan sedih ... katanya mau punya anak lagi, jadi ya nanti satunya kata pertamanya Mama ... bukan Papa," balas Abraham.


"Yah, masih lama," balas Marsha kemudian.


"Ma ... Ma ...."


Akhirnya kini Mira memanggil Mamanya, yang tentu membuat Marsha pun tersenyum, begitu senang rasanya ketika dipanggil oleh putri kecilnya itu.


"Tuh, sudah dipanggil Mira ... dia akan panggil Mamanya juga," balas Abraham.


"Iya, senengnya ... akhirnya," balas Marsha.


"Nanti malam ya Shayang," ucap Abraham dengan berbisik lirih di telinga Marsha.


"Hmm, apa Mas?" tanya Marsha kemudian.


"Bikin baby untuk adiknya Mira," balas Abraham dengan berbisik di telinga istrinya.


Ah, agaknya suaminya itu menganggap serius ucapannya dan benar-benar menginginkan baby. Semoga saja kali ini keduanya akan diberikan buah hati oleh Tuhan, sehingga Mira pun juga akan mendapatkan adik sebagai temannya bermain di rumah.