Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Fase Growth Spurt


Tidak terasa sudah dua minggu waktu berlalu. Keseharian Marsha tentu banyak dihabiskan dengan keluarganya. Terlebih dengan Marvel yang sekarang sedang fase Growth Spurt. Grow Spurt sendiri adalah lonjakan pertumbuhan yang pesat pada bayi yang bisa ditandai dengan bayi yang merasa lapar terus sehingga lebih rewel. Lonjakan pertumbuhan ini bukan hanya tentang ukuran bayi seperti berat badan, tinggi badan, atau lingkar kepalanya, tetapi juga tentang perkembangannya.


Abraham sendiri sampai heran karena Marvel merasa hanya mau terus meminum ASI dan seakan tidak mau lepas. Untung sekarang adalah adalah akhir pekan, sehingga Abraham bisa bergantian dengan Marsha.


"Kenapa Marvel jadi rewel sih Sayang?" tanya Abraham dengan bingung.


"Mungkin Growth Spurt dia, Mas ... Katanya memang fase seperti ini membuat tubuh bayi sedang tumbuh pesat, membutuhkan lebih banyak nutrisi dan enerti. Ini yang membuat bayi seakan lapar terus," balas Marsha.


"Sini, biar aku gendong Marvelnya, Sayang ... kamu istirahat dulu saja, kamu pucet gitu," balas Abraham lagi.


Tampak Marsha menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Mas ... dia baru bobok sebentar, nanti kebangun lagi," balasnya dengan lirih.


Abraham menghela nafas yang terasa berat dan kemudian mengusapi kepala Marsha, "Kamu sambil makan ya Sayang ... aku suapin. Mau apa aku belikan," tawar Abraham kepada istrinya itu.


"Buatkan Es Coklat saja, Mas ... ada coklat di lemari es. Dikasih air dingin dan sedikit es batu," pinta Marsha kepada suaminya.


"Oke Sayangku ... tunggu dulu yah aku buatin," balas Abraham.


Tidak menunggu lama, Abraham pun segera turun ke dapur dan dia membuatkan sendiri es coklat. Dia membuka lemari es dan ada bubuk coklat dan susu di sana, kemudian memberinya dengan air dingin dan beberapa balok kecil es batu saja. Saking seriusnya sampai Abraham tidak melihat jika ada Mama Diah ada di belakang putranya itu.


"Serius amat, Bram ... buat apaan?" tanya Mama Diah dengan tiba-tiba bertanya kepada putranya itu.


"Eh, Ma ... kaget, Ma ... tadi sepi kok tiba-tiba ada suara. Ngapain Ma?" tanya Abraham.


"Kamu itu baru ngapain? Serius banget," tanya Mama Diah.


"Buatin es coklat buat Marsha, Ma ... kasihan pucet dia. Udah gitu Marvel enggak mau lepas ASI. Ng-ASI terus Ma, kasihan Ma," balas Abraham.


Mama Diah mencoba memahami kondisi menantunya. Kemudian, Mama Diah mengambil piring dan mengisinya nasi putih dan sayur serta lauk. Kemudian dia menaruhnya di nampan dan memberikannya kepada Abraham.


"Bram, istrinya sambil disuapin kasihan Marsha. Tadi siang, dia belum makan siang loh, sekarang disuapin dulu yah ... perutnya biar ke isi. Kalau ASI-nya diminum terus, sementara tidak ada asupan yang masuk, nanti yang diminum Marvel apa?"


Abraham mengerti maksud dari Mamanya itu, dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya Ma ... Bram akan suapin Marsha sekalian," balasnya.


"Iya Ma ... Bram akan lebih peka kok sama Marsha. Ya sudah, Bram naik ke atas lagi ya Ma," pamitnya.


"Iya-iya ... hati-hati."


Dengan hati-hati, Abraham menaiki anak tangga dan kemudian masuk ke dalam kamar. Di sana, Marsha terlihat benar-benar lemas sekarang, dan juga bayi Marvel masih nyaman tanpa melepaskan sumber ASi yang terus-menerus dia minum. Abraham, mengambil kursi kecil dan duduk di hadapan Marsha.


"Sambil makan ya Shayangku ... kamu melewatkan makan siang tadi. Jangan sampai sakit karena telat makan. Bagaimana pun kamu membutuhkan asupan makanan sehat supaya ASI-nya juga sehat, dan Marvel yang meminumnya juga sehat. Ibu yang sehat kunci seluruh keluarga sehat," ucapnya.


Marsha pun tersenyum tipis, "Aku sebenarnya juga lapar Mas ... tapi bagaimana lagi kalau aku tidak punya waktu untuk makan," balasnya.


Abraham kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya sudah ... yuk, buka mulutnya. Aku suapin ya Shayang. Akkhh ... makan yang banyak Mama Marsha," ucapnya.


Satu suap demi satu suap, Abraham suapkan dengan telaten untuk Marsha. Bahkan Abraham merasa kasihan kepada istrinya itu. Terlebih dengan Marvel yang justru lebih kuat dalam meminum ASI dan juga kegiatan Marsha tak jarang tidak jauh-jauh dari tempat tidurnya saja.


"Lain kali bilang aku saja, Shayang ... sudah pasti aku akan melayani kamu. Tidak akan membiarkan kamu kelaparan seperti ini," ucap Abraham.


"Iya Mas ... ya ampun, sayurnya enak banget. Nasi putih dan Tempe Orek buatan Mama Diah juara banget," balas Marsha sembari terus mengunyah makanannya.


Abraham pun tersenyum, "Dimasukkan dulu tamu ... ada nasi di sudut bibir kamu," balasnya.


Tangan Abraham sudah bergerak dan kemudian menyeka butiran nasi yang masih menempel di sudut bibir Marsha itu, kemudian mengusapi sisi wajah Marsha. "Kalau kamu ada apa-apa, aku merasa bersalah banget Shayang. Aku tidak mau menjadi pria yang tidak peka. Jadi, ya ... butuh apa pun bilang kepadaku. Aku akan berusaha untuk melakukan yang terbuat untuk kamu dan anak-anak kita."


"Iya Mas ... aku juga akan berusaha bilang kok. Makasih ya sudah nyuapin aku,"balas Marsha.


"Sama-sama Shayang ... habis makan baru minum es cokelatnya, ini aku berikan susu segar juga, kan bagus untuk kamu," ucap Abraham lagi.


"Makasih Papa Bram," balas Marsha dengan tertawa.


Sungguh, ada kalanya seorang ibu seakan membutuhkan lebih banyak tangan untuk bisa melakukan aktivitas rumah yang lain. Sama seperti sekarang ini, di saat Marsha hanya bisa menggunakan kedua tangannya untuk bisa meng-ASI-hi Marvel. Selebihnya, dia tidak bisa melakukan yang lain. Fase growth spurt yang membuat Marvel lebih rewel, maunya minum ASI, dan juga nempel dengan Mamanya membuat Marsha kepayahan.