
Malam yang kelam diterangi bulan purnama di angkasa yang begitu petang. Seakan menjadi peraduan malam yang indah bagi Marsha dan Abraham memadu kasih.
"Shayang, boleh aku meminta hakku sebagai suamimu?"
Abraham berbicara dengan suaranya yang terdengar rendah dan dalam. Untuk kali pertama, Abraham meminta haknya sebagai suami.
Mata Marsha perlahan membuka, Marsha menatap wajah Abraham yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Lantas, Marsha pun menganggukkan kepalanya secara sama.
"Boleh, silakan," sahut Marsha dengan memeluk Abraham.
Marsha berani menjawab, tetapi dia sama sekali tidak berani menatap kedua mata Abraham. Jantung berdebar-debar. Telapak tangannya tiba-tiba menjadi dingin.
Abraham tersenyum, pria itu menelisipkan untaian rambut Marsha di belakang telinganya, lantas pandangannya kini jatuh pada bibir Marsha yang sudah membengkak bagian bawahnya. Ibu jari tangannya bergerak dan mengusap lipatan bibir Marsha bagian bawah.
Wajah Abraham mendekat, dan dia segera membawa bibirnya kembali menyapa bibir Marsha. Kali ini Abraham dengan nafasnya yang memburu, Abraham kembali menyapa bibir Marsha. Abraham berharap bahwa caranya menyentuh Marsha benar-benar membuktikan cintanya yang besar untuk Marsha.
Abraham sedikit mengangkat dagu Marsha dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dia lantas menyesap lipatan bibir atas dan lipatan bibir bawah Marsha secara bergantian. Lantas dia sedikit menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu bibir Marsha yang manis. Sungguh, rasanya Abraham menjadi candu dan selalu ingin mengecupi bibir Marsha itu.
"Ahh, Bram," de-sah Marsha saat Abraham kian memperdalam ciumannya.
Telapak tangan Abraham bahkan mulai membelai sisi wajah Marsha dengan begitu lembut. Sementara tangan yang lain tampak melingkari pinggang Marsha.
Meninggalkan sejenak bibir Marsha, Abraham kemudian melabuhkan penjelajahan bibirnya ke area leher Marsha. Menyapa leher itu dengan kecupan-kecupan basah di sana.
Ya Tuhan, Marsha tampaknya harus menahan nafas, karena saat ini dirinya benar-benar seperti bola lampu pijar yang dipadamkan. Bibir Abraham di sana benar-benar mengecupi dan meninggalkan jejak-jejak basah. Tidak berhenti di situ, Abraham pun sedikit membuka mulutnya, dan menggigit kecil area leher itu, menyesapnya dalam-dalam. Rasa perih yang dihasilkan membuat Marsha mencengkeram bahu Abraham, "Ah, astaga," racau Marsha dengan kian memejamkan matanya.
Abraham tersenyum menatap berkas kemerahan di leher Marsha. Pria itu lantas kembali mencium bibir Marsha, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan dalam.
Tangannya bergerak untuk meraba bagian punggung, paha, dan semua lekuk-lekuk feminitas di tubuh Marsha. Bahkan satu tangan itu berani untuk meraba dan memberi remasan di area dada Marsha.
Ah, Marsha benar-benar limbung saat ini. Sensasi sentuhan Abraham di area dadanya benar-benar membuatnya men de-sah.
"Hhh, Bram," de-sahan yang lagi-lagi keluar dari bibir Marsha.
"Jangan ditahan Shayangku, teruskan saja," ucap Abraham kali ini dengan berusaha membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakan Marsha.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Abraham telah berhasil melepaskan piyama itu. Pria itu lantas tersenyum melihat bagian atas tubuh Marsha, dengan sisa kain berenda berwarna hitam yang membungkus buah persik yang begitu ranum itu. Abraham kembali mencumbu Marsha dan meremas area buah persik itu dengan kedua tangannya. Kanan dan kiri bergantian, hingga akhirnya Abraham membawa keluar buah persik yang lembut dan kenyal dari wadahnya. Wajahnya kian turun dan menciumi area buah persik itu. Kecupan demi kecupan, lu-matan demi lu-matan, sampai gigitan di puncak buah persik itu yang kian membuat puncaknya kian tegang, basah, dan mengkilap.
Ketika bibir menghisap, tangannya meraba, memilih, dan mempermainkan buah persik itu hingga membuat Marsha men de-sah dan kian membusungkan dadanya.
"Bram …."
Nafas Marsha seakan tertahan, bagaimana bisa Abraham membuainya dengan begitu lembutnya, hingga membuat Marsha limbung. Batas kesadaran hilang.
Merasa Marsha tak mampu bertahan, Abraham membopong tubuh Marsha dengan area atas yang sudah tak berbusana itu ke atas ranjang pengantin. Dengan perlahan Abraham menidurkan Marsha. Abraham lantas membuka piyama yang dia kebaikan. Dilanjutkan dengan meloloskan pakaian keduanya yang tersisa.
Pemandangan yang begitu indah di mata Abraham. Kulit putih bersih, dengan setiap sisi feminist yang terpampang di sana. Abraham lantas membuka kedua paha Marsha, dia mendekatkan wajahnya dan menyapu lembah di bawah sana dengan lidah.
Sapuan lidah yang memporak-porandakan kesadaran Marsha. Wanita itu bergerak kacau dengan nafas terengah-engah, de-sah disertai racauan yang membuat Marsha benar-benar melayang.
"Astaga, Bram," racaunya berusaha menjauhkan wajah Abraham dari inti sari tubuhnya
Akan tetapi, Abraham justru menghalau tangan Marsha, "Nikmati Shayang …."
Tubuh Marsha menggelinjang, saat dia merasakan sesuatu yang keluar dari inti sari tubuhnya.
Melihat Marsha sudah mendapatkan pelepasannya, Abraham lantas membuka kembali kedua paha Marsha. Dia menghunuskan pusakanya di inti tubuh Marsha.
"Marsha," panggil Abraham dengan memejamkan matanya.
Sensasi penyatuan untuk kali kedua yang benar-benar dahsyat bagi Abraham. Rematan dan cengkeraman cawan surgawi milik Marsha yang membuatnya terselimuti kabut hasrat.
Abraham memegangi kedua pinggang Marsha dan bergerak lembut. Gerakan seduktif yang seolah keluar dan masuk, menghunus dan menghujam membuat Marsha berkali-kali menjerit dan mendesak. Kakinya terasa lemas, tetapi Abraham masih bersemangat untuk menghentakkan pinggangnya. Menghujam dalam.
"Oh, Marsha …," racau Abraham kali ini.
Sensasi yang benar-benar membuatnya gelap mata. Untuk kali ini, Abraham menambah kecepatannya. Kian cepat dan cepat, hingga tubuhnya berpeluh hebat. Menciptakan sensasi liat dan basah.
"Ah, Shayang … astaga," racau Abraham lagi
Merasakan gerakan seduktif Abraham yang benar-benar memabukkan, Marsha justru membawa kedua kakinya melingkari pinggang Abraham, nyatanya posisi ini justru membuat Abraham menghujam dalam. Dia kian merapatkan tubuhnya dengan tubuh Marsha. Abraham menundukkan wajahnya dan memberikan godaan di buah persik milik Marsha. Seolah Abraham benar-benar menabur candu kali ini.
"Ah, Marsha," ucap Abraham disertai geraman di sana.
Seolah tak mampu lagi bertahan, Abraham pun akhirnya menyemburkan cairan dari pusakanya ke dalam cawan surgawi milik Marsha. Tubuh keduanya bergetar hebat.
Pengalaman kedua yang memabukkan. Kali ini tidak ada hasrat terlarang. Kali ini yang ada hanya sepasang kekasih yang memadu asmara menuju puncak di balik sinar bulan purnama yang berbalut ke-nik-ma-tan.
"Aku cinta kamu, Marsha ... sangat cinta kamu," ucap Abraham dengan menindih tubuh Marsha.
Bersatu padu dalam harmoni yang indah. Itu adalah sebuah ceremony resmi dari keduanya yang telah mengesahkan hubungan dalam satu paragraf kalimat akad yang mengikat Marsha dan Abraham dalam pernikahan. Sebab, tak ada lagi ceremony yang lebih indah daripada beradu padu, dalam harmoni dengan pesona rembulan yang seakan menjadi saksi percintaan mereka.