
Selang tiga hari berlalu. Marsha masih mengurung dirinya di apartemennya. Kali ini, Marsha seakan tengah mengisolasi dirinya sendiri. Tidak melakukan kontak dengan orang lain, termasuk Abraham. Menikmati kesendirian dengan lukanya, menikmati kesendirian dengan air mata yang kadang masih mengalir dengan sendirinya.
Benarlah pemikiran Marsha bahwa perselingkuhan itu seperti angin, dia tidak terlihat, tetapi meninggalkan jejak. Sama halnya dengan Melvin yang tidak pernah tahu bahwa Marsha tahu bagaimana pria yang masih berstatus sebagai suaminya tengah berhubungan badan dengan wanita lain. Sepandai apa pun Melvin bersembunyi, bermain aman, tetapi tetap saja ada jejak yang dilihat oleh Marsha.
Udara yang bergerak yang disebut angin itu gerakannya memang tidak terlihat oleh mata. Akan tetapi, hembusannya, dan daun-daun yang berterbangan boleh menjadi bukti bahwa angin itu aja. Sama halnya dengan perselingkuhan, ditutup-tutupi mati-matian supaya tidak terlihat orang lain, tetapi suatu ketika terlihat juga. Tidak akan selamanya orang menyimpan bangkai, akan hilang bau. Kian bertambahnya hari, aroma bangkai itu akan tercium juga.
Dalam tiga hari ini, banyak yang Marsha pikirkan mengenai masa depannya, mengenai rumah tangganya, dan juga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Marsha berniat usai urusannya selesai, dia akan memilih untuk kembali ke Semarang. Benar-benar menjauh dari dunia modelling dan hiburan. Sebab, Jakarta sudah memberikan banyak luka untuknya. Siang itu, ketika Marsha sedang merenung, wanita itu dikagetkan dengan bunyi deringan di handphonenya.
Serasa lebih terkesiap setelah melihat siapa yang menghubunginya sekarang. Setelah sepekan berlalu, baru sekarang ada panggilan dari Melvin. Marsha memejamkan matanya dengan dramatis dan berusaha untuk menerima panggilan telepon itu.
Dengan enggan, Marsha pun menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Halo,” ucap Marsha dengan lirih.
“Halo, Sha … kamu di mana?” tanya Melvin begitu panggilan telepon mereka berdua saling terhubung.
“Kamu tidak perlu tahu,” sahut Marsha. Nada suaranya terdengar ketus di telinga Melvin. Namun, Marsha juga enggan untuk memberitahu di mana posisinya sekarang. Marsha tidak membutuhkan orang lain mengetahui keberadaannya sekarang ini.
“Kita harus bertemu sebelum persidangan perdana pekan depan, Sha,” ucap Melvin pada akhirnya.
Dalam pikiran Melvin, dia perlu bertemu sekali dengan Marsha sebelum persidangan perdana digelar pekan depan. Setidaknya Melvin ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Marsha dan tujuan dari wanita yang masih menjadi istrinya itu.
“Untuk apa bertemu? Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan? Lebih baik kita bertemu di persidangan nanti,” balas Marsha.
Ya, bagi Marsha semua tentangnya dan Melvin sudah berakhir. Untuk apa meminta waktu bertemu setelah sepekan berlalu. Di mana Melvin sepekan terakhir. Untuk bercinta dengan Lista saja pria itu bisa, tetapi untuk sekadar bertanya di mana Marsha berada tidak dilakukan oleh Melvin, dan sekarang barulah Melvin meminta untuk bertemu. Bagi Marsha, semuanya sudah terlambat.
“Sekali lagi, Sha … usai ini aku tidak akan menemuimu lagi. Aku yang harus kusampaikan kepadamu secara langsung,” ucap Melvin.
Terlihat Marsha yang memijat keningnya sendiri. Terasa ragu dan dilema untuk menyetujui ajakan Melvin. Namun, Marsha yakin apa yang akan disampaikan Melvin tentu sungguh serius sampai pria itu mengajaknya bertemu.
“Baiklah,” ucap Marsha pada akhirnya.
Seringai terbit begitu saja di wajah Melvin. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya, “Temui aku di apartemen milik Riko,” pinta Melvin.
“Hmm, iya,” balas Marsha.
Walau sebenarnya tidak ingin lagi bertemu, tetapi Marsha pada akhirnya merasa memang harus bertemu untuk kali terakhir sebelum sidang perdana gugatan cerainya digelar pekan depan. Namun, ada ketakutan yang Marsha rasakan. Ya, ada rasa takut jika Melvin akan menganiayanya lagi. Terbersitlah sebuah pikiran bahwa Marsha ingin meminta tolong kepada Abraham kali ini.
Tok … Tok … Tok …
Tidak menunggu lama, Abraham pun membukakan pintu, pria itu cukup terkejut mendapati Marsha berada di depan pintu unitnya. Abraham menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keadaan aman, kemudian pria itu mempersilakan Marsha untuk masuk ke dalam unit apartemennya.
“Masuk, Sha,” ucapnya.
Marsha menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengekori Abraham memasuki unit milik pria itu. Ragu, tetapi membutuhkan bantuan dari Abraham saat dirinya akan menemui Melvin esok hari.
“Duduk dulu,” ucap Abraham kepada Marsha.
“Aku cuma sebentar, Bram,” balas Marsha yang saat itu menunduk dan tidak berani untuk menatap wajah Abraham.
“Bram, aku akan bertemu dengan Melvin. Dia meminta untuk bertemu sebelum persidangan perdana digelar pekan depan. Hanya saja, aku takut jika bertemu dengan Melvin, aku akan disakiti dan dianiaya lagi. Jadi, bolehkah aku minta tolong kepadamu untuk mengantarku?” tanya Marsha kali ini.
Bahkan Marsha juga mengatakan ketakutannya. Seakan ada rasa trauma yang muncul. Bayang-bayang Melvin melemparkan remote kontrol televisi dan mengenai keningnya, juga dengan saat Melvin menjambak rambutnya dan menampar wajahnya. Untuk kembali bertemu dengan Melvin, Marsha merasa membutuhkan orang lain yang akan menemaninya. Berjaga-jaga jika Melvin bertindak kelewat batas.
“Di mana?” tanya Abraham kali ini.
“Di apartemen milik Riko, tidak jauh dari sini … mau Bram?” tanya Marsha lagi kepada Abraham.
Mungkin orang akan mengira bahwa Marsha adalah wanita yang tidak tahu diri. Namun, apa yang akan dilakukan Melvin nanti, tidak ada yang tahu. Jika pria itu menyakiti Marsha lagi, akan ada sosok yang akan menolongnya. Marsha tak ingin mengambil risiko untuk merasakan sakit secara fisik lagi.
“Maafkan aku, Bram … secara jujur aku berkata kepadamu, aku takut bertemu dengan Melvin. Aku takut dianiaya lagi,” ucap Marsha dengan jujur.
Abraham menatap Marsha dengan pandangan yang sendu. Ingin rasanya membawa wanita itu ke dalam pelukannya, menenangkan Marsha dengan pelukannya yang hangat. Namun, Abraham tidak ingin Marsha salah sangka kepadanya.
“Baiklah,” balas Abraham pada akhirnya.
Mendengar bahwa Abraham mau untuk menemaninya, Marsha perlahan tersenyum. Merasa begitu lega karena Abraham sekali lagi mau menolongnya.
“Makasih banyak, Bram … thanks sudah mau bantuin aku,” ucap Marsha.
“Apa pun buat kamu akan kulakukan, Sha,” balas Abraham dengan sungguh-sungguh.
Ya, bagi Abraham apa pun bisa dia lakukan untuk Marsha. Jika hanya sekadar menemani, sudah pasti Abraham akan menemani Marsha. Abraham akan ada dan memberikan perlindungan untuk Marsha. Perasaannya yang begitu besar untuk Marsha cukup menjadi bukti bahwa di situasi apa pun, Abraham akan selalu ada di sisi wanita itu.
Ketika cinta memang tak harus selamanya memiliki, tetapi Abraham cukup hanya bahagia jika berada di sisi. Di sisi Marsha sudah cukup bagi Abraham selama ini. Melihat wanita yang dia cintai dari dekat. Memandang wajahnya, mengulurkan tangan untuk membantunya, adalah bukti cinta dan perasaannya yang sangat dalam untuk Marsha.