
Kerinduan bukan sekadar merasa kangen karena beberapa waktu lamanya tidak bertemu denga kekasih hati. Akan tetapi, merindu adalah perasaan yang indah di hati. Tidak perlu berlama-lama, nyatanya kerinduan juga bisa dirasakan Abraham dan Marsha yang baru beberapa jam lamanya berpisah.
"Astaga, Shayang … nikmat. Kamu senikmat ini," geram Abraham.
Ketika Marsha bergerak begitu kacau, bahkan naik dan turun di pangkuannya. Begitu juga dengan Abraham yang menggerakkan pinggulnya memberi tusukan dari bawah. Geliat sensual tubuh Marsha, bersatu dengan de-sahan dari dua bibir seakan menjadi pelecut keduanya menapaki Taman Surgawi. Sungguh, indah … sungguh erat. Walau, terengah-engah, tapi yang mereka rasakan adalah nikmat.
"Uh, Mas!"
Marsha memekik, tangannya mencengkeram bahu suaminya. Ada kalanya Marsha mencerukkan wajahnya di batas antara leher dan dada suaminya. Oh, luar biasa. Hanya beberapa jam saja mereka berpisah, dan sekarang keduanya meledak dalam pusara yang penuh cinta.
Hujaman Abraham berpadu dengan gerakan sensual Marsha membuat kedua pasang bola mata saling berselimuti kabut gairah. Terlebih di pangkuan Abraham seperti ini, Abraham sangat yakin bahwa posisi seperti ini adalah posisi yang sangat aman untuk Marsha dan juga tidak akan menekan perut Marsha.
Hingga di batas akhir pergerakannya, keduanya meledak dan pecah. Tanpa sisa. Hingga des-ahan kian tak tertahan dan keduanya menggapai Taman Surgawi yang nikmat dan syarat akan kerinduan.
Masih di dalam pangkuan Abraham, Marsha terengah-engah dalam nafas yang terasa begitu berat. Luar biasa indah. Rasanya sampai Marsha merasakan petualangan bercinta yang sungguh luar biasa.
"Kangen kamu banget, Shayang," ucap Abraham dengan mendekap erat tubuh Marsha, dengan Lingga yang masih berada di dalam cengkeraman erat cawan Surgawi.
"Aku juga kangen kamu, Mas," balas Marsha dengan menghela nafas yang rasanya begitu berat.
Hingga perlahan pusaka Lingga keluar dengan sendirinya dari rongga cawan Surgawi, dan Marsha mengakui dirinya kehilangan, rasa hangat dan juga penuh dalam dirinya perlahan menghilang. Akan tetapi, Marsha belum beranjak dalam pangkuan Abraham.
"Ini posisi yang aman untuk Ibu hamil, Shayang. Soalnya tidak menekan perut kamu. Nikmat enggak?" tanya Abraham.
"Hmm, retoris banget sih. Pertanyaan kamu enggak ada jawabannya, Mas. Sudah pasti jawabannya itu bernilai mutlak. Kamu juga bisa melihat bagaimana reaksiku," balas Marsha.
Abraham tersenyum di sana, "Jadi, nikmat?"
"Hmm, iya," balasnya.
"Makasih Sayang, kapan pun kamu mau, aku siap," balasnya.
"Kapan pun kamu mau, aku juga siap. Selalu jadikan aku ladang pahala untukmu. Aku siap, cuma nanti usai persalinan. Maaf, Papa Abraham harus puasa panjang," ucapnya.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Kalau itu sudah pasti Shayang. Aku siap puasa dan bersabar. Sampai 40 hari yah. Cuma kalau pusing-pusing sedikit, kasih penawarnya ya Shayang."
Marsha dan Abraham sama-sama tertawa. Hingga kemudian Marsha beringsut untuk turun dari pangkuan Abraham. Sebab, usai bercinta yang ingin dilakukan Marsha adalah mandi. Bagaimanapun dengan peluh yang menempel dan dengan sisa-sisa percintaan yang terasa begitu lengket.
"Yuk, bareng yah. Aku mandiin," balas Abraham dengan semangat 45.
"Nanti kamu serang lagi, aku udah kehabisan tenaga loh Mas," balas Marsha.
Abraham pun tertawa di sana, "Cuma mandi aja Shayang. Sering-sering kasihan Bumil juga, sekali juga sudah mantap banget Shayang. Aku sampai tidak bisa berkata-kata," balas Abraham.
Marsha akhirnya mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, dan di dalam kamar mandi, Abraham benar-benar memandikan Marsha. Dia begitu telaten menggosok punggung Marsha dengan menggunakan shower puff dan busa mandi yang melimpah. Selain itu, juga tangan beberapa kali meraba tubuh Marsha yang basah.
Kurang lebih setengah jam berlalu dan sekarang mereka sudah kembali ke dalam kamar dalam keadaan sudah sama-sama bersih dan juga Abraham tersenyum lebar, setidaknya kerinduannya sudah berbalas, dan juga tubuhnya lebih sehat rasanya, semua capeknya hilang usai bercinta dengan istrinya.
"Mau minum sesuatu? Biar aku buatkan?" tawar Abraham kepada istrinya itu.
"Enggak ... sudah Mas, sudah kenyang dan enggak haus juga kok," balasnya.
Abraham kemudian merangkul bahu istrinya itu. Seakan si Papa muda itu juga selalu senang melakukan kontak fisik dengan istrinya entah itu hanya sebatas merangkul, menggenggam tangan, mencium pipi, atau mengusapi rambut Marsha. Dia adalah pria yang suka menyentuh wanitanya, memberikan sentuhan dan usapan yang hangat dan tentunya penuh dengan cinta.
"Maternity shoot lagi yuk Shayang," ajak Abraham kali ini kepada Marsha.
"Boleh ... dulu kan maternity shoot cuma berdua, nanti bertiga ya Mas ... sama Mira juga," balasnya.
"Iya, tentu Shayang ... sama Kakak Mira. Lucu kok, ada beberapa konsep foto maternity dengan anak sulungnya. Bakalan lucu dan seru banget," balas Abraham.
Marsha pun terkekeh di sana, "Apalagi gratis ya Mas ... lebih seru dan lucu," balasnya.
"Iya, lha wong suami kamu yang punya studionya, jadi juga gratis dong. Nanti aku masih ada projek buat memfoto babynya Pak Belva dan Bu Sara, Yang ... foto bayi yang lucu-lucu itu. Didampingi penata gaya sih yang bisa memposisikan bayi dengan benar," balas Abraham.
"New born foto ya Mas?" tanyanya.
"Iya ... dari Pak Belva saja kita selalu mendampingi berkah, Yang," balas Abraham.
"Benar Mas ... kita mendapatkan keluarga dari keluarga Agastya. Bersyukur ya Mas," balasnya.
Ya, dari keluarga Agastya sendiri untuk urusan pekerjaan dan job mengenai fotografi sudah pasti Abraham yang akan selalu menjadi pilihan pertama Belva Agastya. Tentu keberadaan keluarga Agastya seakan menjadi pintu berkah untuk Abraham dan keluarganya.