Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Membalut Setiap Luka


Dengan berlari, Marsha kembali ke parkiran. Dengan penampilan yang kacau, Marsha kembali ke mobilnya. Wanita itu mengetuk jendela kaca Abraham di sana.


“Bram, tolong bukakan,” pintanya dengan nafas yang terengah-engah. Antara takut, malu, dan keinginan untuk segera melarikan diri.


Dengan sigap, Abraham pun membukakan pintu mobil di samping kursi kemudi itu untuk Marsha. Kemudian Abraham menatap Marsha.


“Sha, kamu?” tanya Abraham dengan cukup panik.


Tadi dia menurunkan Marsha dalam keadaan baik, dan sekarang Marsha kembali dengan luka di sudut bibirnya. Abraham tidak mengira dan juga semakin geram rasanya dengan Melvin. Ingin rasanya Abraham turun dan menghadiahi bogem mentah ke Melvin sekarang ini.


“Jalan saja dulu, Bram … nanti aku bisa jelaskan semua,” balas Marsha.


Abraham menganggukkan kepalanya. Pria itu segera menginjak gas dan mengemudikan mobil itu menjauh dari apartemen tersebut. Sepanjang perjalanan, Marsha berlinangan air mata tanpa suara, sakit sesak rasanya. Tidak mengira kembali bertemu Melvin justru hanya luka yang lagi-lagi dia dapatkan.


“Mau ke suatu tempat?” tanya Abraham sembari mengemudikan mobilnya.


“Tidak, ke apartemen saja,” balas Marsha.


Kali ini, Marsha membutuhkan tempat untuk pulang dan beristirahat. Pikiranya terlalu penuh. Hatinya terlalu sakit, yang Marsha inginkan sekarang hanyalah tidur saja.


“Baiklah,” sahut Abraham.


Tidak banyak bicara, Abraham membawa mobil itu kembali lagi ke apartemen. Untung saja lalu lintas sore itu tidak begitu ramai, sehingga mereka bisa sampai di apartemen dengan lebih cepat. Abraham memarkir mobil Marsha ke basement, dan kemudian membuka pintu bagi Marsha.


“Ayo, Sha,” ucapnya.


“Makasih,” sahut Marsha yang mulai berjalan dan mengekori Abraham itu.


Namun Abraham tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Pria itu sedikit menoleh ke belakang dan mengulur tangannya kepada Marsha.


“Pegang tanganku, Sha,” ucap Abraham.


Akan tetapi, Marsha masih mematung di tempatnya. Ragu untuk memegang tangan Abraham yang terulur kepadanya itu. Merasa tidak ada respons dari Marsha, Abraham yang akhirnya memegang tangan Marsha di sana. Menggenggamnya dan kemudian berjalan perlahan memasuki koridor apartemen, menaiki lift dan angka yang dia pencet sekarang adalah nomor 12. 


Detik demi detik berlalu, sampai akhirnya lift berhenti di lantai 12. Kemudian Abraham membawa Marsha memasuki unit apartemennya. Marsha ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Abraham, tetapi agaknya Abraham tidak akan melepaskan tangan Marsha.


“Ikuti aku dulu, Sha … lukamu harus dibersihkan,” ucap Abraham kali ini.


Ah, rupanya Abraham membawa Marsha masuk ke unit apartemennya untuk membersihkan luka yang ada di sudut bibirnya itu. Memahami untuk alasan itulah Abraham membawanya, Marsha memilih mengikuti Abraham memasuki unit apartemen itu.


Marsha pun akhirnya memilih duduk di sudut sofa, masih tidak banyak yang Marsha ucapkan. Marsha masih merasakan guncangan di dalam hatinya. Sampai akhirnya Abraham kembali mendekat dan membawa kotak obat di sana. Pria itu dengan pelan-pelan menarik dagu Marsha, dan kemudian membersihkan dulu bekas luka yang ada di sudut bibir Marsha itu dengan hati-hati, kemudian Abraham mengoleskan sebuah salep dengan menggunakan cotton bud di sudut bibir itu. 


Mata Abraham berkaca-kaca, wajahnya memerah karena begitu geram dengan perlakuan Melvin kepada istrinya itu. Rasanya sampai Abraham ingin menghajar pria itu dengan tangannya sendiri.


Menyadari bahwa Abraham memperlakukannya dengan lembut, nyatanya justru air mata Marsha berlinangan di sana. Ketika suaminya memperlakukannya dengan begitu buruk, tetapi ada pria lain yang memperlakukannya dengan begitu lembut. Sungguh ironis, tetapi ini memang faktanya. 


“Kalau mau menangis … menangis saja,” balas Abraham pada akhirnya.


Ada helaan nafas dari Marsha, wanita itu akhirnya bahu bergetar dan menangis pilu. Abraham pun segera merangkul bahu Marsha dan membenamkan wajahnya ke dadanya. Memberikan usapan yang lembut di puncak kepala hingga ke lengan Marsha.


“Menangis saja jika itu membuatmu lega, ada aku di sini,” ucap Abraham.


Rasanya sungguh getir, ada yang menyakitinya dan menorehkan luka di tubuhnya, tetapi ada pria lain yang membalut lukanya. Dalam dekapan Abraham, dalam perlakuan lembut pria itu. Tumpah ruah semua air mata Marsha. 


“Ada aku, Marsha … kamu tidak perlu takut,” ucap Abraham lagi.


Kedua tangan Marsha pun bergerak dan melingkari pinggang Abraham, untuk sejenak Marsha ingin memeluk pria itu. Mencari tempat bersandar sementara. Biarlah semua duka ini larut, biarlah semua luka ini sembuh dengan sendirinya. Sekaligus Marsha tersadar, memang bukan waktunya untuk menemui Melvin lagi. Kian cepat untuk berpisah dengan pria itu akan semakin baik untuknya. Akhir pekan segeralah tiba, dan Marsha ingin menyudahi pernikahan yang penuh pilu itu di meja hijau. 


Beberapa waktu berlalu, Marsha lantas menarik wajahnya dari dada Abraham. Wanita itu kemudian beringsut, duduk mengambil sedikit jarak dari Abraham di sana. 


"Maaf Bram, aku terlalu emosional," ucap Marsha. 


"Tidak apa-apa, Sha. Semua ini karena Melvin?" tanya pria itu kepada Marsha. Tentu saja pertanyaan itu sudah memiliki jawaban yang pasti. Tidak ada pelaku lainnya selain Melvin.


Marsha menganggukkan kepalanya secara samar, "Iya, dia melukaiku lagi, dia memaksaku tadi, Bram," ucapnya dengan nada yang begitu getir. 


Kembali terlintas Melvin menamparnya, menjambak rambutnya, dan menciumnya secara paksa. Diperlakukan dengan buruk oleh suami sendiri menggoreskan luka yang sangat dalam di hati Marsha.


"Laporkan saja dia ke pihak berwajib, Sha … jangan hanya diam. Sampai kapan kamu mau terluka seperti ini?" balas Abraham. 


Bagi Abraham sendiri, semua yang Melvin lakukan adalah tindak kekerasan. Sudah sepantasnya Marsha berani membela dirinya dan juga memperjuangkan haknya sebagai perempuan. Korban harus berani bersuara dan membela dirinya. Tidak perlu berkoar-koar berbicara melalui media sosial, tapi bisa langsung menempuh jalur hukum.


"Iya, Bram … aku akan melaporkan semuanya," balas Marsha pada akhirnya. 


Hati Marsha lebih siap sekarang karena juga Melvin sudah menganiayanya untuk kesekian kali. Waktunya untuk berani dan memberikan pembalasan kepada Melvin. Korban harus berani bersuara. Melawan melalui jalur hukum.


"Kita visum dan buat laporan yah, supaya kita mendapatkan bukti yang tepat dan autentik," balas Abraham. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu, visum harus dilakukan dengan segera. Abraham pun tidak keberatan untuk mengantar Marsha ke Rumah Sakit sekarang juga.


"Iya Bram, sekarang?" tanya Marsha. 


"Iya, 1 x 24 jam Marsha," jawab Abraham. 


Tidak ingin menunda-nunda waktu, Abraham akan membawa Marsha melakukan visum terlebih dahulu dan membuat pengaduan ke kepolisian. Keduanya kembali keluar dari unit apartemen itu, dan hendak menuju ke Rumah Sakit sekarang juga.