Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Tidak Marah tapi Kecewa?


Semalam dilalui Marsha dan Abraham dengan sama-sama tidur bersama. Mungkin karena seharian beraktivitas, akhirnya Marsha memang benar-benar tertidur. Terlebih tidur dengan dipeluk Abraham sepanjang malam membuat tidur Marsha kian nyenyak saja rasanya.


Pagi hari, saat matahari pun belum terbit, Marsha sudah terbangun terlebih dahulu. Wanita itu mengurai pelukan Abraham yang melingkari perutnya, kemudian mengerjap, setelahnya Marsha bersandar di headboard dan menguncir rambutnya dengan asal. Rupanya sedikit pergerakan Marsha saja sudah membuat Abraham mengerjap. Pria itu pun tidak membutuhkan waktu lama juga turut terbangun.


“Shayang … kamu sudah bangun?” sapanya dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur dan juga dengan mata yang masih setengah terpejam.


“Iya Mas … sudah jam 05.00,” balas Marsha dengan menengok analog yang ada di atas nakasnya.


“Masih bisa tidur sebentar,” balas Abraham. Pria itu seolah menepuk-nepuk bagian tempat tidur yang biasanya ditempati Marsha, meminta istrinya untuk kembali tertidur untuk sejenak.


Akan tetapi, Marsha justru menggelengkan kepalanya, “Kalau sudah bangun … enggak bisa tidur lagi, Mas,” jawabnya dengan jujur.


Rasanya Marsha jika sudah terbangun di pagi hari, dirinya akan kesusahan untuk kembali tertidur. Oleh karena itu, Marsha biasanya menggunakan waktu di pagi untuk mandi dan menyiapkan sarapan. Bahkan ada kalanya Marsha menyetrika beberapa baju jika memang sudah tidak bisa tidur lagi.


“Ya sudah, aku tidur lagi sebentar yah,” balas Abraham.


Marsha menganggukkan kepalanya, tidak masalah jika suaminya itu tertidur untuk sebentar lagi. Sementara itu, Marsha memilih untuk mandi saja. Pagi-pagi sudah segar agaknya lebih enak, dan nanti tinggal membuat sarapan dan mencuci pakaian kotor dengan mesin cuci saja.


Marsha memilih ke kamar mandi, dan dia mengisi bathup dengan air hangat, sedikit berendam saja untuk merilekskan tubuhnya. Kendati demikian, Marsha juga tidak akan berendam terlalu lama karena Ibu hamil tidak diperbolehkan untuk terlalu lama berendam. Sebab, terlalu lama berendam di air hangat bisa menyebabkan suhu tubuh Ibu hamil meningkat. Selain itu, bakteri yang ada di dalam air rendaman tersebut juga bisa menyebabkan alergi pada kulit. Oleh karena itulah, Marsha hanya akan berendam sebentar saja. Tidak akan berlama-lama.


Wanita itu memilih menggosok giginya terlebih dahulu, dan kemudian mencuci wajahnya dengan menggunakan facial foam. Setelahnya, Marsha membuka pakaiannya sendiri dan segera memasuki bath up. Membiarkan air hangat dan juga busa beraroma Sea Butter yang lembut dan terkesan manis itu menyapa indera penciumannya. Baru juga tiga menit, Marsha menikmati waktu berendam di bath up, Abraham sudah menyusul istrinya itu. Tanpa banyak berbicara, pria itu mencuci mukanya dan menggosok gigi, kemudian bergabung dengan Marsha di dalam bath up.


“Berendam juga Mas?” tanya Marsha dengan kebingungan.


“Hmm, iya … kenapa?” tanya Abraham.


“Enggak … cuma kan tadi Mas kan masih tidur,” balasnya.


Abraham tersenyum, pria itu kemudian mengambil duduk di belakang Marsha. Tangan Abraham bergerak menyentuh bahu Marsha dari belakang, dan mendekatkan tubuh istrinya itu hingga menempel di dadanya. Beberapa kali tangan Abraham tampak meraba punggung hingga lengan Marsha.


Sensasi yang luar biasa, hangat air, wanginya busa mandi, dan sentuhan Abraham seolah menghasilkan gelenyar sendiri bagi Marsha. Terlebih Marsha yang dalam posisi hamil kali ini juga merasakan bahwa sebatas ciuman atau sentuhan dari suaminya saja bisa membuatnya benar-benar tersulut.


“Mas,” ucap Marsha saat tangan suaminya yang pertama mengusap perutnya kemudian bergerak naik dan memberikan usapan dan sedikit remasan dengan tekanan di area dadanya.


“Hmm,” sahut Abraham dengan cepat.


“Mau pagi ini enggak Shayang?” tanya Abraham dengan menyibak rambut Marsha yang sudah basah, dan mengecup bahu istrinya yang polos dan basah karena air itu.


“Udah nagih?” tanya Marsha.


“Iya, semalam pengen banget sebenarnya,” balas Abraham dengan jujur.


“Lalu, berarti semalam marah dong karena enggak dapat yang dimau?” tanya Marsha kepada suaminya itu.


“Enggak marah … mana mungkin aku marah sama kamu. Cuma kecewa saja sih … kecewa dikit,” aku Abraham dengan jujur.


Marsha kemudian sedikit menoleh ke belakang guna menatap wajah suaminya itu, wanita itu tersenyum dan memberanikan diri untuk mengecup bibir Abraham untuk sejenak.


“Maaf yah … udah bikin kamu kecewa. Cuma semalam aku kecapekan juga setelah maternity shoot, nongkrong sore, terus ngobrol sama Mama. Maafkan aku ya Mas,” ucap Marsha meminta maaf kepada suaminya.


“Iya enggak apa-apa … makanya kemarin aku juga nyusul untuk tidur. Aku tahu kamu juga kecapekan. So, boleh pagi ini?” tanya Abraham.


“Di mana?” tanya Marsha dengan menggigit bibir bagian dalamnya.


“Di sini,” balas Abraham menatap ke bath up yang mereka gunakan bersama.


“Cuma Ibu hamil gak boleh berendam lama-lama,” balas Marsha.


“Cepat saja, aku juga gak mau kamu masuk angin,” balas Abraham.


Ketika dada bidangnya bergesekan dengan punggung Marsha. Pria itu mendekap Marsha dari belakang, bahkan sekarang Abraham menyampirkan rambut Marsha di satu sisi, dan kemudian mendaratkan kecupan-kecupan di bahu Marsha. Tangannya bergerak memberikan usapan di perut Marsha yang sudah membuncit.


Perpaduan kecupan bibir di bahu, tengkuk, hingga punggung Marsha berpadu dengan belaian tangan pria yang memberi usapan di perut Marsha membangkitkan sensasi yang membuat bulu roma wanita itu berdiri, terasa begitu merinding jadinya.


"Mas," ucap Marsha diiringi de-sahan, saat tangan Abraham kian naik dan memberikan remasan di area dadanya.


Remasan tangan yang memberikan tekanan, bahkan ibu jari dan jari telunjuk Abraham yang memilin puncak buah persik itu, berpadu dengan percikan air di dalam bath up yang hangat membuat Marsha terengah-engah, bahkan wanita itu tak segan untuk mende-sah saat tangan-tangan suaminya bergerak kian liar dan memberikan sentuhan, belaian, remasan, dan memilin di area buah persiknya. Abraham kemudian membalikkan tubuh Marsha membuat wanita itu kini berhadap-hadapan dengannnya.


Tanpa banyak berbicara, Abraham meraih dagu Marsha dan melabuhkan bibirnya untuk menyapa bibir Marsha. Dengan cepat, tapi penuh dengan kelembutan Abraham mencium bibir Marsha. Pria itu memberikan lu-matan yang dalam dan hisapan di lipatan bibir bawah Marsha. Bibir yang bertemu dengan bibir, lidah yang saling menyapa dan memberikan usapan yang basah dan hangat, dan juga pertukaran saliva yang tidak bisa dihindari lagi membuat Abraham dan Marsha sama–sama tersulut di dalam bath up itu.


De-sahan Marsha kian menjadi-jadi, saat Abraham sedikit menunduk dan pria itu kini memberikan godaan dengan bibir dan lidah di buah persiknya. Permainan lidah di puncak dada itu yang membakar tubuh Marsha. Wanita itu memejamkan matanya dan membawa wajah Abraham untuk kian dekat dan erat ke dadanya. Godaan yang diberikan Abraham benar-benar membuat dirinya kehilangan akal.


Sementara Abraham dengan lihainya justru terus memberi godaan dan gigitan-gigitan kecil di puncak dada itu, hingga tidak membutuhkan waktu lama puncak buah persik itu pun menegang dengan sempurna. Pria itu kini kembali menegakkan punggungnya, kemudian membuka sedikit kedua paha Marsha. Dalam satu hentakan, Abraham menyatukan dirinya dengan Marsha. Sesuatu yang keras, tegang, dan hangat bisa Marsha rasakan, hingga wanita itu meremas bahu Abraham.


“Mas,” ucap Marsha lagi.


“Hmm, apa Shayang,” balas Abraham dengan menggerakkan pinggulnya perlahan.


Rasanya Marsha kian kepayahan untuk bernafas.


Gesekan yang terjadi kian menimbulkan suara-suara yang menggelitik, tetapi sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suara yang indah. Itu adalah suara yang menyulut keduanya untuk mereguk nektar cinta yang hanya bisa dinikmati oleh keduanya. Hujaman Abraham kian menguat, tetapi pria itu segera melembutkan hujamannya, saat melihat perut istrinya yang sudah membulat dengan sempurna.


Cengkeraman cawan surgawi milik istrinya, seakan menenggelamkan Abraham dalam lembah berisi madu yang manis. Lembah yang membawanya menikmati seribu kenikmatan yang tidak bisa definisikan. Yang bisa dilakukan adalah Abraham terus menghujam, terus menghentak, terus memberikan tusukan keluar dan masuk dengan gerakan yang seirama. Gerakan seduktif yang membuat istrinya kian mende-sah, tidak kuasa dengan gelombang yang berkali-kali menghantamnya.


Hingga di batas, Abraham menggeram. Pria itu sampai menengadahkan wajahnya merasakan perasaan yang indah. Perasaan yang bahkan tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata. Pria itu lantas mendekap tubuh Marsha dengan begitu eratnya saat keduanya sama-sama merasakan pelepasan di pagi itu.


Nafas keduanya yang terengah-engah. Dua tubuh yang bersatu tanpa ada pembatas satu helai benang pun, menciptakan sensasi panas dan sekaligus indah. Abraham lantas mengangkat pinggul Abraham, sehingga terlihat seperti anak koala dalam gendongan induknya, kemudian Abraham memeluk tubuh Marsha dengan begitu eratnya.


“Thanks Shayang, pagi yang sangat indah,” ucapnya dengan mengecupi bibir Marsha.


Wanita itu memberikan usapan dengan jari-jemarinya yang lentik di dada Abraham. Meraba sisi wajah suaminya. Satu tindakan yang membuat Abraham pun tersenyum dan menikmati sentuhan istrinya itu. Akan tetapi, Abraham akan menahan hasratnya. Sudah cukup satu ronde untuk menghabiskan momen berbalut kenikmatan bersama dengan Marsha. Pagi yang indah dan penuh cinta untuk Marsha dan juga Abraham.