
.
.
.
Crystal menutup gendang telinganya mendengar teriakan Feny dan Ia dengan polosnya menoleh saat mendengar deru langkah kaki.
"ada apa..?". Polisi 1
"tahanan pingsan". Polisi 2
"coba... di bu...? a.. a..h.. h.. hantu". titah Polisi 3 seketika gemetaran melihat seorang gadis melayang dengan pakaian putih terlihat bersimbah darah dan wajah yang memerah darah.
"hantu?". seketika Polisi 2 yang melihat pun terbelalak.
kaki Polisi 1 gemetaran melihat Crystal.
"aah.. hai?". sapa Crystal dengan muka hantunya itu membuat Ketiga Polisi menjerit seperti perempuan karna saking takutnya dan pingsan massal.
"kok pingsan?". gumam Crystal menggaruk kepalanya lalu melihat ke tubuhnya sendiri.
"yaah.. kan aku jadi hantu sekarang, kenapa aku malah menyapa mereka". gerutu Crystal lalu segera menghilang.
salah satu Polisi yang datang mendengar teriakan rekannya tak sengaja melihat sosok itu pun membelalak lalu mendengar perkataan Crystal yang mengakui dirinya hantu dan menghilang pun langsung pingsan.
Ruang tahanan seketika menjadi kacau karna gadis usil itu, para polisi berhamburan melihat 4 Polisi pingsan dan tahanan didalam penjara juga tidak sadarkan diri, saat tersadar mereka mengatakan melihat hantu yang menyapa mereka, awalnya tidak ada yang percaya tapi 4 Polisi melihat hal itu bersamaan mana mungkin berbohong.
Feny yang sudah sadar langsung kehilangan kewarasannya, Ia tidak pernah melihat hantu jadi saat melihat hantu Crys yang Ia bunuh dan hantu itu mengajaknya untuk mati pun membuat kewarasannya terganggu malam itu juga.
sementara sosok yang membuat geger 1 tempat itu sedang menikmati pemandangan malam dengan terbang di udara, tidak ada yang melihat Crystal karna sudah larut malam kalaupun ada yang melihat pasti pada langsung kabur masuk Rumah.
.
.
di tempat lain, gang sempit dan sepi.
"jangan sakiti mbak ku..! jangaaannn". teriak Sean.
"lepaskan Sean..! lepaskan dia". teriak Lina.
"sepertinya sayang anak ini di bunuh Ketua, alangkah lebih baiknya di tid*r* dulu". sahut yang lainnya menatap lekuk tubuh Lina dengan lapar.
Lina menggeleng-geleng kepalanya, "siapa kaliaannnn? kenapa kalian menyerangkuu? kenapaa kalian menangkap Sean-Ku? kenapaaa?". jerit Lina histeris sampai terbatuk-batuk.
Sean yang mendengar perkataan Lina menangis, Ia bukan anak yang cengeng tapi mendengar perkataan Lina yang langsung datang saat dirinya ditangkap preman sampai rela mempertaruhkan nyawanya membuatnya menangis, Ia ingin Lina tetap hidup dan akan menjadikan Lina mama nya dengan menikahi Papanya (Al).
"Bibimu?? Oups..! kenapa aku keceplosan". kekeh si Ketua.
"Bibiku? kenapa dengan Bibiku? bukankah aku sudah TF uang padanya? kenapa dia mengutus kalian?". tanya Lina dengan marah.
"lama-lama Bos kami ingin juga menjadi ART di Mansion Asiantama, dia dan anaknya ingin memasuki Mansion itu mendapatkan gaji yang besar".
"hahaha".
"kalau begitu lepaskan Sean-Ku..! dia tidak ada masalah dengan Bibiku, lepaskan dia". teriak Lina memohon.
"bagaimana ketua?". tanya bawahan lainnya.
"kau gila? kalau dia dilepas sudah jelas cari bantuan untuk menyelamatkan perempuan ini". jawab si ketua dengan marah.
"Mbakk?". teriak Sean dengan sesegukan.
Lina menginjak kaki salah satu preman di sisi kirinya dan menggigit tangan Preman disisi kanannya, segera Ia berlari ke arah Sean yang juga melakukan hal yang sama untuk melepaskan diri dari pegangan para preman itu dan ikut berlari ke Lina lalu mereka berpelukan dengan erat.
"jangan takut Sean..! Mbak akan menyelamatkanmu ya? Sean..! jangan takut sayang". Lina menangis memeluk Sean untuk menenangkan anak luar biasa jahatnya dan dulu dibencinya kini sangat disayangi oleh Lina.
"tidak Mbak..! kenapa mbak datang kesini? aku membuat masalah, hiks. hiks.. hiks. maafkan aku Mbak..! maafkan aku". isak tangis Sean.
Lina mencium kening Sean, "tidak Sean..! kamu harus rajin belajar sayang, buka hatimu untuk mencari pengasuh baru ya? maaf Mbak tidak tau apakah bisa menjadi Pengasuhmu lagi". Lina berkaca-kaca, Sean menggeleng-geleng kepalanya.
"dramatis sekali mereka". sungut Preman lainnya.
"cepat pisahkan mereka, kita bunuh dulu perempuan ini baru kita lepas anak itu". sahut yang lainnya.
"pisahkan...! ". titah si Ketua.
"aaaaaaahhh!!! Tidaaaakkk!! jangan sakiti Sean-Ku... jangaaaannn! ". jerit Lina melihat Sean ditarik kasar oleh preman itu.
plakkk...
Lina ditampar hingga tersungkur dengan sudut bibir berdarah dan Sean yang ditarik berteriak meminta tolong.
"Toloooongggg! ". jerit Sean yang suaranya sudah serak.
di langit malam,
"waaahh.. sudah lama aku tidak terbang". senyum lebar Crystal.
"yuhuuuu". girang Crystal mengedarkan pandangannya hingga Ia terhenti di udara saat mendengar teriakan minta tolong.
"suara apa itu?". gumam Crystal lalu mengikuti arah suara itu.
"Linaaa?". pekik Crystal melihat dari kejauhan Lina sedang tahan oleh orang berpakaian ada rantai-rantainya yang Crystal tebak orang jahat (preman), Ia juga melihat Sean berteriak meminta tolong.
"manusia jahat ini". geram Crystal seketika berapi-api karna marah.
Crystal langsung melayang ke arah gang sempit itu, "lepaskan diaaa...!!". kata Crystal dengan marah.
"jangan ikutt cam..?". para preman mendengar suara itu pun berbalik namun melihat seorang gadis berpakaian serba putih bersimbah darah dengan wajah yang penuh luka lebam membuat mereka membeku ditempat.
"ha.. hantu". gumam mereka semua terbelalak.
Sean awalnya takut tapi mengingat situasinya lebih menakutkan dari pada hantu, Ia merangkak ke arah Lina dan mereka berpelukan dengan diiringi isak tangis.
Crystal menatap nyalang mereka semua, "kalian akan matii...!". marah Crystal dengan mata kian memerah.
selama ini Crystal tidak pernah melihat kejahatan secara langsung, jadi saat Crystal melihatnya seperti sekarang pasti marah terlebih lagi temannya disakiti.
"lariiii! ". teriak mereka menggema.
Crystal mengayunkan tangannya, seketika angin topan menerpa tubuh mereka dan menggulung tubuh semua para preman itu, Crystal mengangkat para preman itu tinggi-tinggi tanpa Crystal disentuh dengan tangan melainkan dengan kekuatannya saja, Ia mudah sekali mencekik mereka semua sekaligus dengan kekuatannya itu.
"aah.. sa.. sakit".
"ma.. maafkan kami hantuu". ucap mereka dengan sekuat tenaga.
Crystal mendekati mereka semua dengan kaki melayang persis seperti hantu, "menjadi temanku tidak mudah, mari aku antar kalian ke neraka".
para preman menggeleng-geleng kepalanya, Crystal melihat Lina dan Sean yang menangis dengan tubuh gemetar ketakutan pun membuatnya semakin marah.
Crystal mengibaskan tangannya, seketika para preman itu terlempar ke Udara dan saat mereka mendarat sudah pasti meninggal, karna siapa yang bisa bertahan jatuh dari langit tanpa pengaman.
Crystal menatap Lina dan Sean yang masih menangis, "Lina? Sean? kalian tidak apa-apa?". tanya Crystal perlahan menginjakkan kakinya di tanah.
Lina dan Sean pun sontak menoleh, mereka berpelukan semakin erat bahkan Lina memohon jangan ambil Seannya.
Crystal menggeleng mendengar celotehan mereka, awalnya Crystal khawatir tapi mereka malah saling melindungi satu sama lain seolah Crystal vampir yang akan menghisap darah salah satu dari mereka berdua.
"Aku Crystal". kesal Crystal membuat Lina dan Sean membelalak.
"Kak Crystal?". beo Sean cegukan.
Lina menatap lama penampilan Crystal.
"aaaaah..! aku tadi sedang mengerjai orang jahat dengan berpura-pura menjadi hantu". cengir Crystal menjelaskan penampilannya.
"hiks.. hiks.. ". Lina menangis haru.
"Violeeett?". Lina
"eehh? kok nangis?". Crystal mendekati Lina dengan cemas.
.
.
.