Gadis Kekuatan Super

Gadis Kekuatan Super
drama si anak nakal


.


.


.


Al terpaksa kembali ke Kantor karna ditelfon Klien, Ia berlari keluar Mansion Asiantama.


Sean tidak heran lagi ditinggal kerja oleh Papanya itu, kalau di Rumah Sean sangat suntuk lebih baik punya mainan seperti saat ini.


Sean bisa melihat perhatian Dewi Par dan Endang yang memanjakan Crystal layaknya Tuan Putri, Ia ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya terasa kaku untuk sekedar berbicara perihal meminta perhatian, Ia sudah terbiasa berlagak sok kuat didepan siapapun termasuk Papanya sendiri yang tidak tau kesulitannya.


"terimakasih Mommy, di Rumah Ayah dan Ibunda selalu saja bertengkar gara-gara Ikan, boleh Crystal bawa pulang makanan Mommy?". tanya Crystal berbinar.


"boleh sayang..! tentu saja boleh". jawab Dewi Par lalu segera mengambil rantang nasi beberapa tingkat dan memasukkan semua hasil makanannya tadi.


"nak..! coba lihat?". Endang mengeluarkan sebuah kalung cantik dari saku bajunya.


Crystal menatapnya lama, "apa itu Oma?".


Crystal tau kalung tapi bentuk kalung yang ia tau selama Ia hidup hanya kalung Ibunda nya saja, tidak tau kalung bentuk lain.


"kalung, sini biar Oma pasangkan ya?". Endang.


"terimakasih Oma, kalungnya tidak bersinar". ucap Crystal dengan senyuman.


"iya sayang". jawab Endang dengan bahagia merapikan rambut Crystal.


"kemana manusia Alex Oma?". tanya Crystal penasaran.


"mungkin dia sedang ada urusan sama Daddynya, katanya masalah serius". jawab Endang.


Dewi Par kembali memberikan rantang makanan yang akan dibawa pulang oleh Crystal,


"terimakasih Mommy, Omaa". ucap Crystal dibalas senyuman oleh kedua wanita itu dan Crystal menghilang dari pandangan mereka.


Sean mengedarkan pandangannya, "Kakak Bodoh?? kakak bodoh...?". teriak Sean.


Endang dan Dewi Par memutar bola mata dengan malas, menghadapi anak tidak sopan adalah hal yang paling menjengkelkan apalagi berada di posisi paling tinggi, mereka bisa terkena skandal melukai seorang anak kecil.


Sean berlari memanggil Lina, Lina sampai kesal melihat Sean masih ada di Mansion ini.


"kenapa tidak pulang dengan Papamu ha?". sambar Lina dengan kesal.


"aku tidak mau pulang, kalau Mbak tidak mau menjadi Pengasuhku biar aku yang kesini, mbak harus mengasuhku kan dapat uang". jawab Sean dengan santai.


"tidak mau, pulang sana..! kamu pikir ini Rumahku hah?". geram Lina.


"asalkan masih Rumah Manusia, aku tidak akan takut". jawab Sean.


"besok aku akan bawa pakaianku kesini, Papaku banyak uang dan aku bisa bayar sewa sama Tante dan Nenek itu, percuma Rumah sebesar ini tidak ada kamar lebih". jawab Sean yang tidak tau malu.


Lina menjerit seketika membuat Sean menutup kedua telinganya, Lina benar-benar ingin mencekik Sean yang tidak tau cara menghormati orang lain itu.


.


.


ke esokan harinya,


Al mengantarkan Sean yang keras kepala akan tinggal di Mansion Alex, Al akan pergi ke Luar Negri selama 2 minggu karna sedang ada Proyek penting disana, Sean mengizinkan Al pergi sampai 1 atau 2 bulan sekalipun asalkan Al mengizinkan Sean tinggal di Mansion Asiantama.


"Nyonya maafkan saya !". ucap Lina berkali-kali menundukkan kepala pada Endang dan Dewi Par.


"saya akan bayar berapapun Nyonya Minta, maafkan saya Nyonya". ucap Al merasa tidak enak tapi Al sudah terbiasa memanjakan anaknya walau tau caranya tidak benar.


Dewi Par dan Endang kehabisan kata-kata mendengar perkataan Al,


"kau fikir aku kehabisan uang? aku tidak butuh uangmu itu". kata Dewi Par.


"Tante jangan marah-marah". Sean.


"anak kecil diam". Endang menunjuk wajah Sean dengan tatapan tajam.


"jangan berdebat dengan anak kecil Nenek". peringatan Sean membuat semua terdiam sambil memijit pelipis.


Sean selalu melawan sampai Lina membekap mulut Sean,


"jadi anak patuh sedikit! ". ancam Lina.


"kau yang mengantarnya kesini Tuan, berapa kali aku bilang kalau aku tidak terima anak ini tapi kau tetap membawanya kesini, terserah bagaimana caraku mendidiknya, dan kau silahkan pergi ke luar negri Tuan Al". tatap tajam Lina.


Al hendak bicara tapi tiba-tiba panggilan telfon mendesaknya, terpaksa ia berpamitan pada keluarga Alex dan pergi sambil berlari terburu-buru.


Lina melepaskan tangannya dari mulut Sean, "bisakah kau patuh sedikit? aku tidak mengerti dengan isi otakmu itu yang katanya anak jenius ha? kenapa kau bersikeras menginginkan aku sebagai pengasuhmu? banyak orang diluar sana yang bisa kau pekerjakan anak nakal". sambar Lina dengan geram.


Dewi Par dan Endang memilih pergi saja dari sana sambil menghela nafas berkali-kali.


"aku tidak mau pengasuh lain". jawab Sean dengan santai.


Lina menggeram marah, "Ya Tuhan..!! kenapa aku harus menghadapi anak iblis yang menyebalkan itu".


saking geramnya Lina menyebutnya Iblis.


.


.


"kenapa Mbak marah-marah terus sih? berikan ponselku! ". marah Sean.


"kau harus belajar..! cepat belajar". titah Lina.


Sean dengan kesal pun harus belajar walau dongkol ia menuruti Lina sebab Lina sendiri mengatakan akan menjadi Ibu tiri yang kejam untuk Sean, Sean yang tau makna Ibu Tiri pun tetap memilih Lina walau akan diperlakukan tidak baik.


"udah..! mana ponselku?". bentak Sean.


pletak..


"aduhh.. Mbak melukaiku?". marah Sean mengelus keningnya.


"sudah aku bilang kalau aku akan bertindak kejam padamu, kalau kau tidak terima silahkan pergi dari sini..! cari pengasuh lain". usir Lina sambil membuka pintu kamarnya mempersilahkan Sean keluar.


Sean mendengus karna semua yang Lina lakukan sama seperti yang dulu Sean lakukan dulu biar Lina pergi.


"sekarang tidur..!". titah Lina.


"hei.. Mbak ini masih jam 9 malam". protes Sean.


"tidur..!". titah Lina tegas dengan mata melotot galak.


Sean terpaksa tidur lalu beberapa bolak-balik Ia duduk dan bilang tidak bisa tidur, Lina menghela nafas lalu mendorong kepala Sean tidur dan menepuk-nepuk dada Sean yang anehnya langsung mengantuk.


Lina menatap Sean cukup lama, ia menjitak kening Sean beberapa kali.


"kenapa anak ini nakal sekali?". geram Lina lalu tersenyum tipis melihat wajah Sean yang tertidur seperti bayi.


.


Alex pulang ke Mansion bersama Indiro dan melihat Endang bersama Dewi Par tengah berbincang serius.


"Mom? Oma?". Alex mendekati kedua wanita yang berharga bagi Alex.


"ada apa sayang?". tanya Indiro.


"kalian bau amis". Endang menutup hidungnya.


"biasalah..! masalah manusia". jawab Indiro bangga sedangkan Alex terlihat tidak peduli sama sekali.


"ada apa Mom?". tanya Alex.


"Al? kamu kenal nak? dia Pengusaha juga". tanya Dewi Par.


"iya, kenapa dengannya?". tanya balik Alex yang kenal sosok Pengusaha itu termasuk saingan Alex juga tapi masih dibawah Alex.


"anaknya tinggal disini". jawab Endang.


"anaknya?". beo Alex dan Indiro tidak mengerti.


"ya". jawab Endang dan Dewi Par.


"tapi kenapa anaknya bisa disini? kita tidak ada sangkutan apapun dengannya? bahkan aku saja tidak dekat dengannya". cecar Alex tidak faham.


.


.


.