
.
.
.
"Alex tunggu... uhuk.. uhukkk". Erlan memegang lutut Alex yang menekan dadanya hingga Ia sulit bernafas.
"ke.. kenapa kau menyerangku dengan cara pengecut seperti ini?". tanya Erlan terbatuk-batuk.
"kenapa? karna aku tidak mau kau menjadi batu sandunganku untuk bersama Istriku, Bunga Violetku sekarang sudah menjadi Istriku, kau fikir aku tidak tau apa yang kau fikirkan hah? aku tau otakmu ini selalu ingin memiliki apa yang aku miliki, kau fikir aku tidak tau selama ini kau mengincar Viola yang saat itu aku fikir dia adalah gadis yang aku cari?". kata Alex tersenyum sinis.
"aku tau kau kembali ke negara ini ingin memiliki Istriku kan? aku akan mengadakan pesta besar untuk Istri kesayanganku, tapi sebelum itu aku harus binasakan kalian satu persatu". sambung Alex lagi memainkan pisau nya yang sangat tajam.
Erlan menggeleng-geleng kepalanya, bahkan Ia tidak bisa lari saat ini, sebenarnya Ia cukup kaget saat Alex mengatakan Crystal istri Alex.
"dulu kau bisa hidup padahal aku sudah berkali-kali menembakmu, sekarang aku harus mengambil jant*ngmu dengan tanganku sendiri supaya aku yakin kalau kau memang sudah mati..! ini adalah balasan atas orang-orang tidak bersalah yang kau habisi didalam pesawat saat itu". kata Alex lalu menancapkan pisaunya ke jantung Erlan yang terbelalak.
Alex seperti seorang psikopat gila yang mengincar sesuatu dalam tubuh mangsanya untuk di jadikan mainan, Ia tanpa hati mencab*k-cab*k tulang dad* Erlan dengan alat seadanya juga Alex meninjunya sampai retak, Alex benar-benar monster mematikan demi untuk mendapatkan j*nt*ng Erlan, Alex seperti hewan buas yang kelaparan saja seolah ada hawa membunuh yang begitu pekat didalam dirinya, Alex merasa puas menghabisi Erlan entah apa yang salah dengannya.
"Tuann?". Botak, Patung, Cepak, Cupu berlari ke arah Alex yang ada di belakang Markas besar Erlan yang sudah binasa dan rata dengan tanah.
Putra sudah izin kembali karna Ia harus menjemput Dinda, Ia sebagai pengawal Pribadi Dinda saat ini karna takut dengan Crystal, rekan kerja Putra mengizinkan Putra pergi dan tidak perlu mengkhawatirkan penyerangan itu sebab mereka bisa mengatasinya.
ke empat orang setia Alex membelalak melihat Alex yang berlumuran dar*h dengan tangan memegang jant*ng Erlan, Alex mengelap wajahnya dengan siku bajunya sebab wajahnya terkena cipratan dar*h Erlan.
"T.Tuan?". cicit Cepak yang tidak percaya betapa kejamnya Alex.
"aku tidak tau kenapa aku ingin sekali membunuhnya". jawab Alex saat sudah sadar dan melempar jant*ng Erlan ke Cupu yang gelagapan menangkapnya.
"berikan pada anj*ng-anj*ng ku". titah Alex.
"ba..baik Tuan". jawab Cupu dengan gemetar memegang inti dari kehidupan manusia yaitu jant*ng.
"apa kalian sudah habisi semuanya?". tanya Alex.
"semua sudah saya habisi tanpa tersisa Tuan". kata Patung dengan serius.
Alex mengedarkan pandangannya, "dimana Putra?". tanya Alex dengan datar sambil menyeka pipinya yang bau am*s.
"Tuan, Putra sudah pergi karna harus menjemput Nona Dinda, adiknya Nona Muda". jawab Patung.
"benar Tuan..! dia sudah izin pada kami katanya takut digantung oleh Nona Muda". sahut Botak.
"biarkan saja..! ayo kita kembali". ajak Alex.
"baik Tuan". jawab mereka semua serentak.
Alex bertemu dengan Indiro yang tersenyum bangga karna menang namun alisnya bertaut melihat benda tak biasa di tangan Cupu, si Cupu dengan gagap menjawabnya hingga Indiro menganga tapi takjub dengan ide berlian Alex mengambil jant*ng musuh untuk memastikan kematiannya supaya tidak memberi celah untuk balas dendam kedepannya.
semua orang setia Alex pun kembali ke Markas dengan kemenangan telak, mereka berpesta bersama-sama tapi Alex tidak ikut sebab Ia lebih senang menghabiskan waktu dengan Istrinya.
.
sore harinya, kepulangan Alex membuat Dewi Par dan Endang bahagia yang sudah menebak bahwa Alex berhasil mengalahkan mereka semua.
"ha? Crystal masih tidur?". tanya Indiro tak percaya.
"iya.. aku yang khawatir mendatangi dewi Keramat kita dan katanya Crystal kelelahan karna menghabisi raja kegelapan yang berada didalam tubuh Erlan". jawab Dewi Par.
Alex melebarkan mata mendengarnya, "a.. apa Mom?".
"Crystal mengingat masa lalunya cucuku, di masa lalu dia mati karna Raja kegelapan itu dan tadi malam dia menghabisi Raja kegelapan itu maka nya dia kelelahan, kami tidak boleh mengganggunya". sahut Endang.
"menantuku sangat hebat". gumam Indiro mengacungkan 2 ibu jari tangannya.
Alex terpaku, "itu sebabnya Erlan lemah tadi? penyebab kematian Crystal dimasa lalu adalah kekuatan jahat itu?". batin Alex.
"Dewi kita mengatakan bahwa kamu akan menang Lex, itu sebabnya Mommy sudah siapkan makanan kesukaanmu". Dewi Par membawa Alex masuk mansion.
Alex tak bisa berkata-kata, Ia merasa Crystal sekali lagi menyelamatkannya walau tidak membunuh Erlan tapi Crystal membinasakan kekuatan jahat itu sehingga Crystal yang punya kekuatan super saja bisa lelah apalagi Alex dan kawanannya bisa mati sia-sia, Alex tidak takut mati tapi para bawahannya terluka saja maka itulah yang Ia takuti.
.
di tempat lain,
Dinda masih menjadi bahan bulian karna tidak miskin lagi tapi teman kampus Dinda selalu bertanya-tanya dari mana Dinda mendapat baju-baju mahal itu, Dinda tidak tau baju-bajunya sangat mahal karna Crystal memerintahkan Belle membelikan baju anak kuliahan yang trend untuk Dinda.
"mungkin saja dia punya Daddy Sugar". celutuk seorang wanita sebaya Dinda yang iri dengan baju-baju Dinda yang sebelumnya Ia incar tapi kehabisan stok namun Dinda berhasil memilikinya.
Dinda diam saja sambil menunggu jemputan hingga senyumnya terbit seketika melihat sebuah mobil Lamborghini merah memasuki kawasan Kampusnya, semua mahasiswa begitu heboh melihat mobil itu dan mereka bertanya-tanya siapakah yang dijemput mobil itu.
Dinda berlari kecil ke arah mobil itu tapi tiba-tiba ada kaki laki-laki yang mencekal kaki Dinda hingga gadis itu tersungkur dan laptopnya pecah.
"aaah.. tidak...? laptopku". pekik Dinda dengan nanar.
"hahaa". laki-laki itu menghina Dinda yang sok kaya hingga dikatai muka tembok.
mereka semua adalah kawanan Boy yang dendam pada Dinda menolak pacaran dengan salah satu dari mereka, Putra keluar dari mobil itu sambil membuka kacamata hitamnya namun melihat Dinda terduduk dengan sudut bibir berdarah memandang laptop yang sudah hancur membuat matanya terbelalak.
"mati aku". gumam Putra berlari dengan langkah lebar karna Ia takut Dinda mengadu pada Crystal yang terlambat menjemputnya di hari pertama dan sekarang Dinda terluka.
Putra takut digantung oleh Crystal.
.
.
.