
.
.
.
"Dinda?". Putra memegang bahu Dinda dan membantu gadis itu berdiri.
"laptop aku bang". rengek Dinda.
"akan abang ganti". kata Putra sambil memegang dagu lancip Dinda dengan pandangan cemas melihat sudut bibir Dinda berdarah.
"tapi ada file penting disana". protes Dinda.
"akan abang pindahkan ke laptop barumu nanti". jawab Putra.
"emang bisa?". tanya Dinda dengan berbinar.
"mudah kalau punya uang". jawab Putra mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memakaikan Handiplast warna kulit ke sudut bibir Dinda yang sama sekali tidak protes.
semua yang melihat perlakukan Putra yang dikenal sebagai pemilik Hotel DeLLun pun terperangah, kawanan Boy sampai tercekat melihat hal itu.
Putra menarik Dinda dan kini ada dibelakangnya, "berani kalian menyakitinya". kata Putra dengan datar.
"siapa yang menyakitinya tadi?". tanya Putra dengan dingin.
"....?". tidak ada yang menjawab.
"baiklah..! aku habisi kalian semua". kata Putra yang tak kunjung dapat jawaban.
"bang sudah bang?". Dinda memegang lengan Putra.
"diam dan lihat saja!". titah Putra dengan serius melirik ke arah Dinda.
Dinda tak berani lagi melawan pun memilih berbalik dan mengutip kepingan laptopnya yang hancur.
"d.. dia Tuan! jangan sakiti saya". akhirnya mereka menunjuk si pelaku yang wajahnya kian memucat.
buugghh..
Putra tanpa berpikir meninju laki-laki itu dengan ganas sampai wajahnya bersimbah darah, "satu tetes darahnya hancurlah wajah kalian..! jika kalian berani menyakiti Dinda bukan hanya wajah kalian menjadi sasaranku tapi peluru akan bersarang di kepala kerabat dekat kalian". ancam Putra dengan kejam.
tak ada yang berani menjawab kata-kata Putra, mereka yang membuli Dinda seketika langsung lemas dengan kepala tertunduk juga keringat yang membanjiri pelipis serta punggung mereka, saat ini tidak ada matahari tapi mereka bisa berkeringat.
"kalian pikir aku main-main? jawaabbb! ". bentak Putra yang benar-benar geram pada tingkah anak curut itu (tikus) yang bisa saja menjadi ancaman terbesarnya sehingga di hukum oleh Crystal.
"ba.. baik Tuan". jawab mereka semua dengan tubuh gemetar.
Putra berbalik dan mendekati Dinda tanpa jijik membantu Dinda berdiri, "biar abang yang ambil tapi kamu mau berjanji memaafkan abang kan? abang minta maaf terlambat menjemputmu, kamu tidak akan mengadukan abang pada Nona kan?".
"iya bang, aku tidak akan mengadu pada kakak karna aku bukan anak-anak". jawab Dinda tersenyum lebar.
Putra menghela nafas lega karna Dinda gadis yang patuh tidak akan mengadukan keteledorannya pada Crystal sicantik kejam menurutnya, Putra memungut hal penting di laptop lama Dinda.
"yang dibutuhkan hanya ini saja, ayo pergi..!". Putra mengambil tas Dinda dan membawa Dinda persis seperti seorang pengawal menuju mobilnya ditambah membukakan pintu untuk Dinda.
glek...!
mereka memasang wajah bodoh melihat perlakuan Putra ke Dinda seperti tuan putri, siapa Dinda sehingga bisa membuat Putra begitu takut pada Dinda yang akan mengadu pada Nona? mereka penasaran siapa Nona yang dimaksud Putra.
Dinda tidak bermaksud pamer, Ia hanya menikmati hidupnya yang dilindungi oleh Crystal, Dinda tidak mau Crystal menyesal telah memberinya kesempatan bebas seperti sekarang.
.
.
sementara di Mansion Asiantama,
Alex tidak berani membangunkan Crystal yang tidur sudah 7 hari lamanya tanpa makan, minum atau sekedar buang air kecil, Ia menggunakan kesempatan selama 7 hari itu keluar Mansion dengan menghabisi siapa saja musuh-musuhnya yang bisa saja menjadi batu sandungan kecilnya untuk hidup bahagia dengan Crystal.
saat Crystal tertidur pun keluarga Alex masih memanjakan Crystal dengan rajin melakukan perawatan wajah untuk Crystal, menyisir rambut perak Crystal bahkan memotong kuku dan menghias kuku Crystal, Dewi Par juga rajin menyuapi minuman khas guna penambah tenaga untuk Crystal supaya gadis itu tidak lemah karna tidak makan berhari-hati.
"cepatlah bangun sayang? aku akan merayakan pesta pernikahan untuk kita berdua". bisik lemah Alex mencium punggung tangan Crystal sambil memejamkan mata yang berkaca-kaca dan air mata Alex jatuh mengenai punggung tangan Crystal menjadi cahaya yang meresap ke kulit Crystal.
Alex ternganga melihat rambut perak Crystal bercahaya, perlahan mata Crystal bergerak menandakan Crystal terbangun dari mimpi panjangnya.
"sayang? kamu bangun?". Alex yang tidak tau penyebab keajaiban itu pun langsung tersenyum bahagia melihat Crystal membuka mata Violetnya yang bercahaya ungu keperakan hingga redup menjadi warna mata aslinya yaitu Violet.
Crystal menoleh ke Alex dan tangannya terangkat mengelus rahang Alex, Alex mencium punggung tangan Crystal berkali-kali.
"kamu membuatku takut sayang..! aku benar-benar takut". Alex berkata dengan nada gemetar.
"sepertinya aku hamil Lex". kata Crystal mengelus perutnya.
"ha?". Alex terkesiap melihat perut datar Crystal lalu Crystal hendak duduk dan dengan cepat Alex membantu Crystal duduk.
"apa maksudmu sayang?". tanya Alex.
"dibawah alam sadarku, aku sedang bermain dengan seorang anak laki-laki kecil yang wajahnya sangat mirip denganmu Lex tapi warna matanya aku rasa Violet sepertiku". jawab Crystal tersenyum lembut mengelus perutnya.
"be.. benarkah? kamu hamil sayang?". tanya Alex tergagap memegang perut Crystal yang tertawa.
"aku terlalu bahagia bermain dengannya tapi kamu memanggilku jadi aku terbangun". jawab Crystal memegang punggung tangan Alex yang mengelus perutnya.
"ta. tapi bagaimana bisa secepat ini?". tanya Alex dengan takjub.
"aku bukan gadis biasa Lex, kamu mengerti maksudku kan?". tanya Crystal dengan senyuman.
"aku mengerti". jawab Alex sumringah bahagia segera meletakkan telinganya di perut Crystal tapi anehnya tidak mendengar apa-apa.
"kenapa aku tidak mendengarnya?". tanya Alex mendongak ke Crystal.
"Alex...! dia masih terlalu kecil". Crystal dengan sabar mengelus rambut Alex yang hitam membuat hatinya teriris karna dulu Alex punya rambut perak bukan hitam.
"kenapa kamu menangis sayang? apa aku menyakitimu?". tanya Alex khawatir segera bangkit memandang khawatir Crystal.
"Alex? sebenarnya rambutku ini milikmu, apa kamu tidak mau ingat masa lalumu?". tanya Crystal.
Alex menggeleng kepalanya, "aku tidak perlu mengingatnya sayang, aku tidak peduli dengan masa lalu tapi kita harus hidup untuk masa kini dan masa depan kita".
Crystal tersenyum haru lalu memeluk Alex dengan erat, "terimakasih..!". ucap Crystal lirih.
Alex mencium sisi kepala Crystal, "terimakasih sayang..! terimakasih banyak, aku mohon jaga anak kita dengan baik ya?". pinta Alex memelas.
Crystal melepaskan pelukannya dengan Alex lalu mengelus perut datarnya, "aku akan jaga benihmu dengan baik Alex, aku berjanji". kata Crystal dengan sangat serius.
Alex mengecup kening, pipi, bibir serta dagu lancip Crystal dengan penuh cinta. rasa cinta Alex pada Crystal semakin besar saat mendengar dari Crystal bahwa dia sedang hamil.
.
Alex keluar kamar memberi kabar bahagia itu, seketika mansion begitu heboh dan ramai gegara Crystal sedang hamil.
Indiro yang mendengar Crystal mengandung anak laki-laki pun segera memanggil dokter wanita, si dokter yang gugup memeriksa Crystal pun memeriksa Crystal layaknya pasien pada umumnya dan perkiraan Crystal memang benar.
"benar Tuan. Nyonya.. Nona Muda sedang hamil dan perkiraan saya umurnya masih 2 minggu". kata dokter wanita dengan ramah dan sopan.
"Cucu laki-laki ku". pekik Indiro memeluk Dewi Par yang tersenyum bahagia begitu juga Endang memeluk Alex yang lebih bahagia lagi.
"Cucu Laki-laki? bagaimana mereka tau kalau Nona Muda hamil anak laki-laki?". batin si Dokter menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan wajah bodoh, Ia sampai lupa kalau Crystal bukan gadis biasa padahal Crystal terkenal dimana-mana.
Crystal tersenyum saja mendengar pikiran dokter wanita itu.
.
.
.