Gadis Kekuatan Super

Gadis Kekuatan Super
hewan berbulu


.


.


.


ke esokan harinya,


pagi-pagi buta, Alex sudah meninggalkan Mansion Asiantama.


"dimana anakku Ma?". tanya Dewi Par sejak tadi mencari keberadaan Putranya.


"biarkan saja, dia sedang menancapkan duri di hati wanita yang mengkhianatinya itu". jawab Endang.


"Viola? kenapa dia masih hidup juga? kenapa Alex tidak membunuhnya saja?". tanya Dewi Par.


"entahlah, tapi bukannya kamu sangat menyayanginya saat itu?". tanya Endang terkekeh,


"kenapa Mama membahas itu? aku salah mempercayai rubah betina itu". sesal Dewi Par.


kebencian Dewi Par sudah mendarah daging pada keluarga Viola, Ia sampai menjatuhkan harga diri meminta maaf karna dulu memang keluarganya membunuh saudara nya Ola tapi tanpa Dewi Par ketahui Wanita iblis itu sudah merencanakan kejahatan itu, bodohnya Dewi Par mempercayai semua itu.


Dewi Par sudah memastikan kebenarannya dengan mencari tempat Viola pernah belajar dan mereka mengatakan kalau Viola memang punya mata ungu, seharusnya saat Dewi Par melihat ada yang aneh dengan mata Viola hari itu sudah menyadarinya tapi Ia malah berpikir positif seolah dirinya itu salah.


.


Alex mendatangi panti jompo, Ia memakai topi dan masker untuk menutupi identitasnya.


Alex berjalan tanpa mengeluarkan suara, Ia menghentikan langkah kakinya untuk mendengarkan percakapan komplotan orang yang Alex tebak adalah pemilik panti jompo dan para pekerjanya.


"bagaimana cara kita mengurus wanita lumpuh itu?". tanya Ibu Pemilik panti jompo.


"apa kalian mau mengurusnya? dia bisu, lemah jantung dan tidak bisa berjalan bukan? bagaimana cara kita merawatnya? tidak ada keluarga yang mau mengeluarkan biaya untuk mengurusnya". cecar yang lainnya juga pada rekan-rekannya.


"apa kita harus mengusirnya juga Bu? kasihan wanita itu, walaupun dia penghianat Tuan Muda Alex tapi kita manusia kan? kita hanya bisa membantunya".


Alex mendengar percakapan itu menarik sebelah sudut bibirnya, Ia tau kalau mereka membahas Viola.


"lalu dimana wanita itu? ". tanya Ibu Pemilik panti Jompo.


Alex mendengar alamat itu pun langsung pergi ke lorong ujung, Ia melangkahkan kaki dengan tenang namun juga berhati-hati karna beberapa suster dan orang tua seperti sakit jiwa ada disetiap jalan yang Alex tempuh.


Alex menemukan Viola yang duduk dikursi roda dengan pandangan kosong menatap ke arah luar, sepertinya Viola membayangkan ingin segera bebas dari penderitaan itu.


"kau mau bebas?". tanya Alex


Viola memutar kepalanya dan matanya melotot sempurna, tubuhnya seketika gemetaran, Viola seperti melihat hantu yang haus darah saat ini, namun sekian detiknya Viola berubah tenang.


"mau bunuh aku? ". tanya Viola tanpa mengeluarkan suara.


"terlalu mudah bagimu, aku tidak akan membunuhmu". jawab Alex bersidakap dada menatap remeh Viola saat ini.


Alex dorong saja Viola pasti sudah meninggal tapi Ia tidak mau membuat Viola merasa bebas.


"lalu mau apa? bagaimana kau masih bisa hidup? kalau kau hidup seharusnya kau membunuhku kan? kau sudah menghancurkan hidupku, kedua orangtuaku sudah meninggalkan ku seperti sampah yang tidak berguna, sekarang kau bunuh saja aku". Viola berbicara tanpa bisa mengeluarkan suara persis seperti perempuan bisu.


Alex tertawa, "kau mau mati? ". tanya Alex.


Viola menganggukkan kepalanya, "aku mau mati".


"tidak semudah itu, nikmati siksaanmu itu jika saja kau tidak menghianatiku saat itu, maka aku akan memberimu penawarnya, tapi nasi sudah menjadi bubur semua sudah terlambat dan tidak akan kembali seperti semula, kau yang membuat dirimu seperti ini, aku bahkan hanya membela diriku saja". kata Alex tanpa beban dan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Alex diam memikirkan, "jika aku menyelamatkanmu apa kau mau menjadi bonekaku? kau mau membunuh kedua orangtuamu? jika kau ingin hidup bebas maka aku akan membebaskanmu tapi sebagai gantinya beri nyawa kedua orangtuamu".


Alex seperti punya mainan baru, entah kenapa Ia merasa itu sangat asik dan menyenangkan.


Viola mengerjabkan matanya, "apa aku bisa sembuh?". tanya Viola tak ada suara.


"aku bisa memberi penawarnya padamu, aku yang memberi racun itu aku juga bisa memberi penawarnya padamu". jawab Alex dengan santai.


Viola menganggukkan kepalanya, "aku akan lakukan apapun asalkan aku bebas dan sebagai gantinya aku akan berikan nyawa kedua orangtua itu".


Alex bisa melihat mata Viola berkaca-kaca namun tersirat dendam dimatanya, Viola seperti ini karna kedua orangtuanya bahkan demi menyelamatkan diri mereka meninggalkan Viola, jika Kedua orangtua bisa membuang anak maka jangan salahkan takdir jika anak bisa membunuh kedua orangtua.


"kau harus aku beri racun dalam jangka waktu 6 bulan, jika kau gagal membunuh kedua orangtuamu jangan harap aku bisa memberimu penawar itu". Alex berkata dengan serius.


"aku terima". jawab Viola dengan penuh keyakinan.


Alex melihat gerakan bibir Viola berbicara tapi Ia tidak tergiur ingin mencium Viola karna dirinya sudah membenci Viola namun tidak bisa juga menyalahkan Viola karna bagaimanapun Viola hanya dijadikan senjata oleh kedua orangtuanya maka Alex menjadikan senjata itu untuk membunuh Tuannya.


"balas dendam yang mengagumkan". batin Alex menyeringai.


"kau diamlah disini, aku akan urus semua biayamu disini jangan pergi kemana-mana sampai aku datang padamu karna aku butuh waktu membuat ramuan itu untukmu". peringatan Alex.


Viola menganggukkan kepalanya lalu Alex pergi tanpa melihat ke arah Viola lagi, Viola melihat ke arah langit lalu menghapus air matanya.


"itu lebih baik, aku akan bunuh mereka berdua lalu hidup bebas di negara lain, setidaknya aku bisa menikmati hidupku, kalian lah yang membuatku menjadi iblis". batin Viola menatap penuh kebencian ke arah langit.


saat Ola bersujud pada Alex demi menyelamatkannya hati Viola memang terenyuh tapi setelah dicampakkan begitu saja, itu sangat menyakitkan.


.


di tengah jalan.


Alex tertegun melihat sebuah toko ada menjual hewan berbulu, Ia teringat pada Crystal yang ingin diberikan hewan berbulu tapi bukan monyet.


"aku belikan saja hewan itu". gumam Alex segera menepi dan memarkirkan mobilnya.


Alex memasuki toko hewan itu, pemilik Toko cukup terkejut melihat Alex sebab Alex sedang terkenal saat ini karna kembali dari alam kematian.


"ada yang bisa saya bantu Tuan? ". tanya ibu pemilik toko berusaha bersikap ramah dan sesopan mungkin.


"berapa harga hewan berbulu ini? ". tanya Alex menunjuk hewan berbulu yang tengah menatapnya.


"Tuan, Anda memilih kucing yang terbaik dari semua kucing yang ada disini Tuan Muda, kucing ini adalah jenis kucing Munckin dan hewan ini sangat pintar dan lincah Tuan Muda tapi harganya juga termahal".


"jangan berbelit-belit cepat bungkuskan hewan berbulu ini !". titah Alex dengan dingin.


"baik Tuan Muda, apa perlu saya berikan kandang, tempat makanan serta tempat minum dan kebutuhannya Tuan, seperti pasir, susu, dodot kucing dan keperluan lainnya". tanya Ibu pemilik


"iya.. iya siapkan saja, aku tidak mau hewan berbulu ini nanti mati di Mansionku, aku akan bayar berapapun siapkan semuanya". titah Alex.


Si Ibu pemilik Toko dengan cepat membungkuk hormat lalu membuka kandang hewan berbulu yang di inginkan Alex, Alex menatap dingin hewan berbulu itu yang juga tengah melototinya.


Alex tidak peduli, ia membeli hewan berbulu itu untuk hadiah nya pada Crystal.


.


.


.