Gadis Kekuatan Super

Gadis Kekuatan Super
mengadu


.


.


.


"semua baik-baik saja Daddy". ucap Alex lega ke Indiro.


"entah ketegangan macam apa yang dilakukan olehmu nak? kenapa malah bermain-main dengan kami? Daddy khawatir denganmu". omel Indiro.


Crystal tersenyum lebar, "Daddy pasti bisa melakukannya kan? yang sudah berlalu biarkan berlalu yang penting kami baik-baik saja".


Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal begitu juga Botak tidak mengerti perkataan Crystal, awalnya Botak tadi ingin melajukan mobilnya supaya tidak di derek tapi Crystal memaksanya untuk tidak berbuat apa-apa, alhasil Botak pasrah saat Mobilnya di derek sambil menatap nanar ke arah Alex yang mengejar mereka tadi.


.


sesampainya di Mansion Asiantama,


Dewi Par memekik lega melihat Alex kembali dalam keadaan baik-baik saja lalu Ia semakin senang melihat Crystal keluar dari mobil Alex dengan wujud aslinya.


"semua berkat Crystal sayang". ucap Indiro ke Dewi Par.


Endang mengelus pipi Crystal yang tersenyum lebar, Alex menyembunyikan tangannya yang luka sementara Crystal sudah tau namun pura-pura tidak tau, Crystal tidak mau meremehkan Alex walau hanya manusia biasa karna Crystal sudah mengingat segalanya.


"dimana Lina Mom?". tanya Crystal celingukan.


"Sean semakin lengket dengan Mbak Lina nya, sepertinya Sean ingin menjodohkan Papanya dengan Lina". jawab Dewi Par membuat Crystal tersenyum lebar akan perubahan anak nakal itu.


Alex langsung pergi ke kamarnya untuk membalut lukanya, Ia tidak mau Crystal melihatnya lalu mengobatinya padahal Crystal sudah tau itu.


Endang dan Dewi Par menangis haru mendengar cerita Indiro, mereka memeluk Crystal dengan erat sehingga Crystal tertawa cekikikan.


"aku sudah ingat semuanya mommy, Oma". ujar Crystal dengan senyuman.


"ingat apa nak?". tanya Dewi Par.


"Alex..? Alex adalah pahlawan Crystal dahulu, ingatan yang Dewi Keramat kalian katakan memang benar, kami terhubung satu sama lain". jawab Crystal tersenyum cerah.


"sudah jangan dibahas lagi! lebih baik kalian makan". Endang memutus pembicaraan.


Endang pernah dengar dari dewi keramat keluarganya bahwa masa lalu Crystal dan Alex tidak berakhir bahagia, Endang tidak mau Crystal sedih dengan menceritakan hal itu.


dihari Crystal menghilang selama beberapa hari pasti karna sedang mencoba berdamai dengan kenangan itu.


"dimana Alex?". tanya Dewi Par.


"biar Crystal yang panggil. .biar Crystal saja". jawab Crystal tunjuk tangan dengan senyum cerianya.


"silahkan nak". Endang dan Indiro memberi izin.


Crystal terbang ke arah kamar Alex, Ia sekarang sangat menyukai Alex apalagi ingatannya yang dulu sebagai Aurora masih begitu membekas di pikiran juga hatinya.


"ada apa nak? kenapa Crystal berbeda?". tanya Endang.


"Crystal mengingat masa lalunya dengan Alex, tadi Crystal minta Alex menyebut nama Aurora dan Alex menurutinya, aku rasa Crystal tidak akan mau melepaskan Alex bahkan tadi terjadi hal tidak terduga". Indiro menceritakan hal yang Ia lalui tadi.


awalnya Endang dan Dewi Par marah tapi mendengar alasan Crystal katakan melalui Indiro sampai mereka berdua tak bisa berkata-kata, entah ingatan apa yang bisa membuat Crystal bisa segitu percaya nya dengan Alex.


.


Crystal memegang gagang pintu kamar Alex tapi tidak bisa dibuka, "di kunci?". gumam Crystal lalu tersenyum misterius.


Crystal menghilang tiba-tiba muncul di dalam kamar Alex, "kamu tidak akan bisa bersembunyi dariku Lex". senyum manis Crystal.


"Alex?". panggil Crystal.


Crystal terus melihat kamar Alex tapi tidak ada Alex hingga Ia mendengar suara gemericik air, "Alex mandi". tebak Crystal.


Crystal duduk di ranjang Alex, Ia tau bahwa dirinya di istimewakan di Mansion ini, keluarga Alex sangat menyayanginya berkat Kakak cantiknya (leluhur Jessica).


Alex keluar dari kamar mandi sambil meringis memegang tangannya.


Alex terbelalak, "C. Crystal? a.. aku mandi kamu ngapain disini?". tanya Alex dengan penampilan seksinya itu.


Alex hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawahnya, sementara badannya basah karna habis mandi begitu juga kepalanya.


"Alex..? kamu memang sangat tampan, oh... Pangeranku, Rajaku, Kekasihku". senyum cerah Crystal memegang dada bidang Alex dengan pipi meronanya.


Alex yang awalnya tegang dengan keberanian Crystal seketika tersenyum melihat pipi Crystal dengan mata Violetnya berkedip-kedip lucu.


"ternyata gadis polosku ini juga bisa berpikir mesum ya?". seringai Alex mengelus pipi Crystal.


"apa tanganmu sudah di perban?". tanya Crystal dengan wajah merona nya itu.


"aa.. belum". jawab Alex menyembunyikan tangannya yang terluka itu.


Crystal melihatnya hanya tersenyum pasrah, "cepatlah pakai bajumu". pinta Crystal.


"kenapa kamu disini? apa kamu mau melihatku berganti pakaian?". tanya Alex memicingkan matanya tapi anggukan polos Crystal membuat Alex tersedak hingga terbatuk-batuk seketika.


"Alex? kamu kenapa?". tanya Crystal memegang lengan berotot Alex yang tidak memakai baju.


"Crystal? a.. aku belum terbiasa dengan sifatmu ini, bisa beri aku ruang untuk berganti pakaian?". tanya Alex dengan raut wajah kikuknya.


Crystal mendengus, "bahkan dimasa lalu kamu pernah melihatku tidak berpakaian, memang kamu hanya ingin menyelamatkanku karna pakaianku basah oleh badai es tapi tetap saja kamu melihat tubuhku". gerutu Crystal sambil menghentak-hentakkan kakinya berbalik meninggalkan Alex yang semakin memerah saja mendengar perkataan Crystal yang tak biasa.


"apa kamu tidak takut padaku Crystal?". gemas Alex memegang kedua rahangnya yang merah.


.


Crystal pergi ke meja makan sambil mengerucutkan bibirnya seperti seorang anak kecil yang tidak diizinkan main oleh Ibunya.


"ada apa nak? kenapa dengan wajah cantik mu ini di tekuk hmm?". tanya Dewi Par khawatir.


Crystal teringat kalau Dewi Par sangat menyayanginya melebihi Alex, seketika senyum tipisnya terbit yang sangat misterius tidak ada yang melihat senyuman itu.


"Alex Mom..! dia mengusirku". rengek Crystal mengadu pada Dewi Par.


"hah?". Endang dan Indiro bangkit sambil memukul meja.


"aku pulang aja..! hiks.. hiks". Crystal membuang muka sambil menutupi wajahnya seperti sedang menangis membuat Dewi Par mengepalkan tangannya dengan wajah memerah.


"kamu tenang sayang..! Mommy akan jewer anak nakal itu". jawab Dewi Par dengan lembut ke Crystal.


"tidak usah Mom..! aku pergi aja, semoga kalian baik-baik saja". pinta Crystal tersenyum menyedihkan lalu menghilang dari pandangan mereka semua.


"dimana Crystal?". tanya Indiro.


"anak kurang ajar itu..? berani-beraninya mengusir menantu emasku". teriak Dewi Par menggelegar.


"aku akan beri hukuman setimpal". jawab Endang dengan tatapan geram.


"tunggu..! tunggu..? kenapa kalian jadi salah faham? bisa saja ada alasan mengapa Crystal diusir oleh Alex kan? kalian tidak boleh membunuh satu-satunya penerusku". pinta Indiro memelas.


Endang dan Dewi Par mengabaikan Indiro berjalan ke arah kamar Alex, Indiro berusaha menghalangi kedua wanita yang tengah menunjukkan taring dan cakarnya itu,


"minggir..! ". usir Dewi Par, tepis Dewi Par pada tubuh Indiro dengan sangat kuat.


buggh...


Indiro terduduk dilantai sambil menghela nafas berat berkali-kali, "semoga kamu selamat Lex..! siapa suruh kamu mengusir Crystal". gumam Indiro pasrah.


Dewi Par semakin berang saja saat pintu kamar Alex di kunci yang artinya perkataan Crystal tadi memang benar.


"dimana kuncinya ma?". tanya Dewi Par mengulurkan tangannya dan Endang tengah sibuk memilah-milah kunci Mansion Asiantama di pinggangnya.


.


.


.