
David menuntun tas koper mereka berdua menuju mess yang diperuntukan seorang direktur, keadaan mess yang hampir mirip sebuah aparteman mewah.
"Ah leganya"Sukma menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu.David tersenyum melihat perubahan sikap Sukma yang sudah bisa menerima kebersamaan dengannya.
"Kita tinggal berdua disini?"David mengangguk dan tersenyum.
"Nggak bisa ya! aku mau tinggal sendirilah"telunjuk Sukma bergerak di depan mata seolah memberi peringatan pada David.
"Yakin berani?"David menaik turunkan alisnya mengoda Sukma.Sebenarnya wanita cantik itu tidak benaran berani ia hanya berpura-pura saja, demi menjaga gengsi.
"Sukma beranjak meninggalkan David ia hendak mandi, karna tubuhnya terasa gerah.
"Mas kamar mandinya yang mana?" Sukma bertanya dengan tangan sibuk mencari pakaian ganti.
David beranjak menuju kamar mandi, lelaki dewasa itu menyiapkan keperluan mandi Sukma dengan sangat teliti.
"Aahhh" Sukma tersentak, tubuhnya bergetar merasakan dekapan tubuh gagah David.
"Jangan peluk-peluk sembarangan ya" ketus Sukma dengan mata melotot, tapi hal itu makin membuat David gemas. Diangkatnya tubuh semampai itu masuk ke kamar mandi.
"Aaahhh..turunkan!"teriakan Sukma malah dibalas kekehan oleh David.
"Mandi sendiri atau mas mandikan" Sukma menarik lengan David dan menariknya menuju pintu.
"Keluar!"Sukma mengunci pintu kamar mandi begitu tubuh David keluar, dan ia mulai menikmati mandinya yang terkesan mewah dibanding kesehariannya.Sukma merasa harinya luar biasa begitu dirinya bertemu David.
Entah ia harus berterima kasih karena dapat melupakan rasa sakitnya atau curiga akan sikap bosnya yang berbeda terhadapnya.
Menjelang pukul 7 malam, mereka keluar dari mess menuju pusat keramaian di wilayah mess karyawan.
"Apa ia tinggal di mess?"
Sukma menggeleng, ia tahu maksud David pasti suaminya.David mengambil benda pipih dari kantongnya.Benda yang tergolong mewah pada saat itu.
"Coba kau cek, infokan segera aku menunggu!"
David kembali memasukan benda pipih itu ke dalam sakunya.Ia meraih tangan wanita di sampingnya, mengenggamnya erat dan menariknya untuk dikecup.
"Kita kemana?"David menatap wanita cantik di sampingnya begitu ia menepikan mobilnya.
"Tunggu sebentar ya"David mencoba menghubungi seseorang lewat benda pipih itu kembali.
"Ok baik"terlihat David menarik nafasnya kasar begitu selesai melakukan pembicaraan.
"Kau ingin melihat lelaki itu, ia tidak tinggal di mess, tapi menyewa di luar"
Sukma mendengar penjelasan itu dengan wajah acuh, walau ia tak peduli rasa penasaran akan sosok Neti membuatnya ingin melihat rumah sewaan suaminya.
"Aku ingin melihatnya, tapi aku tak mau ia melihatku"David mengerutkan keningnya kemudian tersenyum.
David dan Sukma masih berada di dalam mobil, ketika mata mereka melihat pintu rumah sewaan itu terbuka.
"Deg"
Sukma bergetar melihat sosok yang keluar dari pintu rumah sewaan itu, sosok lelaki itu memang Afit suaminya dan lihat seorang wanita menemaninya keluar dan kembali masuk menutup pintu begitu Afit berlalu.
Dada Sukma terasa sesak, ia tak tahu mengapa suaminya menduakannya begini.Tapi benarkan hanya karena hal itu.Kenapa tidak membicarakan padanya?agar ia bisa memperbaiki diri.Ucapan suaminya malam itu yang memuji Neti yang dapat memuaskan hasratnya, membuat dirinya sakit.
"Kalau kau tak kuat kita pulang"David menarik kembali safety belt, namun tangan Sukma mencegahnya.
"Tanggung sudah sampai sini, aku tak akan dua kali melihat bukti perselingkuhannya"
Sukma turun perlahan menuju rumah kecil dihadapannya, dengan berani ia mengetuk pintu rumah itu.Dan David hanya diperbolehkan melihatnya dari mobil.
"Siapa?"seorang wanita yang terlihat putih montok dengan pakaian minim semacam daster dengan tali spagetty. Daster yang panjangnya hanya sebatas paha.
"Maaf mbak boleh saya masuk, saya menawarkan produk wanita"
Wanita itu nampak mengamati Sukma, ia melihat penampilan Sukma yang ellegan dan tak biasa, akhirnya menyuruh Sukma masuk.
"Silahkan duduk mbak, apa yang mbak tawarkan?"
Tatapan Sukma terus memindai wanita di hadapannya, ada rasa ingin memaki dan menabok wanita dihadapannya, tapi akal sehatnya masih mendominasi.
"Apa yang menarik dari wanita ini, dari usianya masih muda diriku, soal cantik.. aku tak kalah cantik, apa tubuhnya yang montok itu yang membuat mas Afit gila"
"Maaf mbak, jadi nggak menawarkan barangnya"
Sukma kembali tersentak dan tiba-tiba saja izin ke belakang.
"Bisa numpang ke belakang mbak?"
"Silahkan mbak ke belakang"Neti menatap bingung wanita cantik yang datang malam hari menawarkan sesuatu yang ia sendiri belum tahu apa.
Beberapa menit Sukma masuk ke kamar mandi, Afit datang dan langsung mendekap tubuh Neti dari belakang. Lelaki itu menciumi tengkuk Neti dengan penuh nafsu.
"Kak sabar kenapa"
"Nggak bisa sayang, aku mau shif malam kau harus memuaskan suamimu ini"
Neti terkekeh melihat sikap Afit yang tak sabaran, ia lupa jika masih ada tamu yang menumpang di kamar kecil.
Lutut Sukma terasa lemah begitu keluar dari kamar mandi, mendengar percakapan mereka bahkan kini terdengar suara-suara menjijikan.
BERSAMBUNG