Dia Ibuku

Dia Ibuku
Perjalanan


Sukma terpaku di hadapan lelaki yang sama sepertinya.Terpaku dan saling tatap.Cukup lama mereka saling diam, hingga akhirnya Sukma mundur dan berbalik menuju meja kerjanya.


"Sayang..."hati Sukma mendadak melow mendengar suara lembut dan sedikit serak itu.


"Maafkan aku, bisakah kita saling bicara?".pinta David memberanikan diri.Sungguh ia tak bisa menahan diri lagi.Hatinya berdenyut sakit melihat wanita yang ia cintai ada dihadapannya namun ia tak mampu mengapainya.


Sukma menahan bulir bening yang sudah membayang di mata indahnya.Hati Sukma sama sakitnya seperti David.Ia pernah merasa direndahkan, tak dianggap, bahkan ia pernah berpikir karena kondisinya sebagai orang susahlah maka David lebih memilih menikahi wanita yang sebanding dengannya.


"Semua sudah berakhir mas, tak ada lagi yang harus kita bicarakan".ucap Sukma tanpa berbalik menghadap David.


Hati David begitu sakit karena diacuhkan, tapi ia sadar dirinya pernah bersikap seperti Sukma, bahkan lebih parah karena ada wanita lain diantara mereka.Yang lebih David pikirkan saat itu.Tapi sungguh ia melakukan hal itu bukan karena Renata, tapi untuk Sukma dan juga anak di dalam rahim wanita itu.Ia tak mau Renata membully Sukma, karena ia tahu sifat licik istri kedua itu.


"Sayang, aku tahu aku bersalah padamu..sangat! tapi apa yang terjadi waktu itu bukan kehendakku, aku bahkan mengejarmu saat itu, tapi aku terlambat kau sudah menghilang!".suara parau itu berubah menjadi isakan.


Hati Sukma menjadi ngilu mendengar suara isak tangis lelaki di belakangnya, jujur ternyata hatinya masih menyimpan rasa karena ia ikut sakit mendengar isak tangis David.


"Sudahlah mas toh mas sudah memiliki dia, bahkan seorang anak hasil cinta kalian!"ucapan Sukma membuat hati kecilnya sendiri tercubit.


David tersentak, ia sadar wanita pujaannya sedang cemburu.David bergerak mendekat ke arah Sukma yang masih memunggunginya.


"Dia sudah tiada bersama bayiku, karena aku tak bisa lagi bersikap baik padanya setelah kau keluar dari ruangan ini!".


Jantung Sukma berdetak, tubuhnya terasa lemah.Perlahan ia berbalik menatap David yang hanya sejengkal langkah darinya.


"Tiada?".gumam Sukma lirih.David mengangguk perlahan.


"Aku bagai orang gila mencarimu, tak perduli keberadaannya, bahkan aku tak perduli dengan diriku sendiri.Aku sakit parah selepas kau pergi, hingga tak sanggup mengurusi perusahaan ini dan akhirnya bangkrut!".


Perasaan Sukma makin tak tentu, Sesakit itukah David ketika ia tinggalkan.Ia hancur bersama kejayaannya.Haruskah aku bahagia karena cintanya padaku ternyata lebih besar ketimbang pada wanita itu, batin Sukma bermonolog.


"Aku menikahinya karena desakan Danis, istri tuaku itu tahu hubungan kita dan Renata sebagai sepupunya mempengaruhi dirinya, ia mengambil kesempatan atas kemarahan Danis yang merasa kuselingkuhi".


Sukma masih mematung di hadapan David, tapi perasaan wanita itu merasa miris.


"Aku bukan hanya menyakiti istri mas David tapi juga suamiku sendiri".batin Sukma nyeri.


"Apakah kau masih ingin menghukumku, dengan mendiamkan aku seperti tak pernah mengenalku, apa salah jika rasa cintaku begitu besar padamu hingga menghancurkan banyak hati!".


"Iya, cinta kita menghancurkan banyak hati!".lirih Sukma seperti bergumam.


Sukma tersentak ketika David berlutut memeluk dan menciumi lututnya.Ia tak menyangka lelaki yang dulu begitu berkharisma dengan kehebatannya menjatuhkan diri di bawah kakinya.


"Mas jangan begini, bangunlah!".


"Aku akan terus berlutut jika kau tak mengampuniku sayang, aku rela jika saat ini harus berakhir di tanganmu, puaskan marah dan bencimu padaku.Aku iklas!".


Sukma keteteran membantu David berdiri, hingga ia berucap sudah memaafkan David sejak lama.


"Benarkah sayang, kau memaafkanku!".


David menatap Sukma dengan mata berbinar ketika wanita pujaannya mengangguk, tangan lelaki itu reflek menarik tubuh Sukma dalam pelukannya. Menghirup dalam dan rakus aroma tubuh Sukma yang menenangkan hatinya.


"Aku sangat mencintamu sayang, sangat!"


"Apakah status mas saat ini single?".


"DEG!".


Jantung David seakan dipaksa berhenti, rasa takut menyeruak dalam pikirannya, takut kembali kehilangan wanita tercinta yang mampu dikalahkan oleh naf sunya.


"Mmmas sendiri sejak kepergian mereka dek".Sukma melihat ada keraguan di mata lelaki itu.


"Sendiri?".


"Sejak kematian anak mas yang sangat menyakitkan itu, mas tak berniat menikah lagi!".mata David berkaca-kaca mengingat kepergian bayinya yang tragis.


Sukma tersentak, apa ia salah melihat keraguan di mata David?, apa itu karena hal menyakitkan kembali harus diingat lelaki di hadapannya, hingga ada sesuatu yang terasa aneh menurut Sukma.


"Maafkan aku dek, itu balasan dari perbuatanku padamu".elak David yang merasakan jika Sukma mencurigai kesetiaannya.


Sukma menghela nafasnya kasar.Ia berusaha melepas pelukan David, tapi sepertinya lelaki itu masih tak ingin melepas pelukannya pada wanita pujaannya.


"Aku harus pulang mas".


David mengurai pelukannya pada tubuh Sukma, ia menatap dalam mata indah wanita yang masih merajai hatinya.Sukma membuang tatapannya ke arah Iain, ia masih menyakinkan hatinya.Apakah laki-laki dihadapannya ini layak untuk dimaafkan.


"Beri aku kesempatan dek".Sukma hanya tersenyum tipis dan bergerak meninggalkan David setelah mengambil tasnya.


"Aku janji akan membuatmu mencintaiku seperti dulu, aku janji sayang! walau sekarang aku tak bisa membahagiakanmu dengan materi tapi aku akan membuatmu berlimpahan cinta dariku!".batin David menyakinkan hatinya.


Waktu terlewati dengan cepat, saat ini Sukma sudah sampai di rumahnya.Ia tersenyum melihat putrinya yang sedang bermain puzzle dengan Zain.Terkadang terdengar suara tawa ceria dari putrinya.


"Kita siap-siap!"


"Eh ibu sudah pulang".Zain tersenyum melihat Sukma yang berjalan ke arahnya.


"Bu kata papa, Alum boleh tinggal disini. Nanti papa yang bicara sama nenek dan kakek".


Sukma tersenyum dan menganggukan kepala.Sebenarnya ia tak sampai hati pada mantan mertuanya.Mereka begitu menyayangi Arum, tapi jika ini sudah keinginan putrinya Sukma tak bisa mengabaikannya.


"Kami sudah siap, adek bersiap sana! kami tunggu di sini".


Sukma mengangguk dan gegas menuju kamarnya, tak banyak yang ia siapkan, karena semua keperluan sudah ia packing di dalam tas sebelumnya.


Beberapa jam kemudian Zain sudah melajukan mobilnya menuju ke kota di mana nenek Arum tinggal.


Selama perjalanan Zain tak henti bercanda dengan Arum.Sesekali mereka bernyanyi bersama lalu tertawa, hingga suasana di dalam mobil itu tak pernah sunyi.Sampai Arum tertidur di pangkuan Sukma.Suasana mendadak sunyi.


"Kalau kau lelah kita bisa istirahat dulu".tawar Zain saat melihat Sukma yang nyaris terhantuk kaca samping mobil, karena mengantuk.


"Aku sedikit ngantuk mas, kita mampir di restoran terdekat dulu".


"Tak ingin mencari penginapan, ngantuk sedikit atau banyak sama saja dek, sama-sama mengantuk".


"Aku bisa tidur sambil duduk mas".elak Sukma.


"Tapi kau memangku Arum sayang, dia itu berat loh".kekeh Zain seraya mengacak lembut rambut Arum yang terlelap di pangkuan Sukma.


"Iya dia tambah berat saja, neneknya mengurusnya dengan sangat baik".aku Sukma dengan senyum merekah.


Zain mengangguk membenarkan ucapan Sukma.Seorang nenek atau kakek katanya akan lebih sayang pada cucunya ketimbang anaknya, dan kadar sayangnya bisa seratus kali lipat.Mungkin seperti itulah mantan mertua Sukma pada Arum.


"Resto ini ya dek?".Zain menatap Sukma sekilas dan kembali focus ke depan.


"Iya mas, sepertinya aku harus minum yang segar biar kantukku hilang".


Zain hanya menggeleng mendengar ucapan Sukma, ia tak mau memaksa wanita itu jika sudah bilang tak mau mencari penginapan.


"Pesan apa mbak?".Seorang pramusaji mendatangi meja mereka ketika mereka sudah menempati satu meja dengan duduk lesehan.


"Es campur satu mbak, mas apa?".


"Kopi hitam saja mbak".


Zain memangku Arum yang masih terlelap, Sukma mencuri lihat ketika lelaki itu dengan lembut mengelus rambut putrinya.Wanita cantik itu tersenyum samar.


BERSAMBUNG😊