
Di rumah mewah seorang David Arya Tama, tak lagi nampak aktivitas seperti sebelumnya.Karena beberapa art sudah tak lagi bekerja, mereka di rumahkan karena keadaan finansial David yang terpuruk.Hanya tinggal seorang yang setia, dan menolak di rumahkan.Ia bahkan bersedia tinggal tanpa bayaran.Tentu saja dia Susi.
Wanita yang bukan hanya sekedar art, namun juga teman ranjang seorang David.
"Aku tak akan mencegahmu jika kau memilih pergi, aku tahu kau butuh uang untuk keluargamu di kampung"guman David setelah selesai menikmati sarapan sederhana dari Susi.Nasi goreng plus telur mata sapi.
"Tolong tuanku, jangan katakan itu!..pemberianmu selama ini masih cukup untuk saya kirim ke kampung, saya tak bisa meninggalkan tuanku sendiri. Kecuali tuanku menemukan jodoh yang bisa mengurus tuan dengan baik"
"Jangan panggil saya tuan, sayang!"
David mengecup kening Susi dalam, setelahnya ia pamit ke kantor, karena ia tak bisa lagi seperti dulu, yang bisa datang terlambat atau bahkan tidak masuk kantor.David sekarang hanya karyawan dan kebetulan masih diberi jabatan kepala bagian.
Beberapa jam kemudian, David sudah disibukan dengan tugas-tugasnya yang baru.Kebetulan ia dan Emil mantan asistennya dulu, satu ruangan.
"Saya merasa aneh dengan bos baru kita, ia tak pernah menampakkan diri.Selalu asistennya yang menghadapi para pekerja atau pun klien"
"Tidak masalahkan Mil, setiap pemimpin memiliki cara sendiri dalam bekerja, mungkin ia ingin menjaga privasinya dari karyawan kepo sepertimu"
"Saya tak kepo pak, tapi gimana ya?sok misterius gitu"cibir Emil.
David menatap Emil intens, ia merasakan sesuatu dengan sikap mantan asistennya itu.Sedang Emil menjadi salah tingkah, karna tatapan David yang tak luput dari dirinya.
"Ada apa pak?"
"Jangan bilang, jika kau dulu selalu mengerutu tentangku"
Emil terkekeh mendengar ucapan mantan bosnya, ia pikir David akan memakinya atau berbicara yang lebih kasar, tapi ternyata.
"Ya begitulah pak, saat tak sesuai hati dan pikiran,saya mengerutu bahkan memaki anda"David melotot seraya melempar bolpoin ke arah Emil.
"Sakit pak"keluh Emil ketika bolpoin itu mendarat di dadanya.
"Cemen segitu saja sakit"cibir David yang dibalas kekehan oleh Emil.
"Mil!apakah kau tak punya niatan pindah dari kantor ini, terkait jabatanmu sekarang bukan lagi asisten CEO, tapi hanya staf HRD".
"Saya malah suka pekerjaan yang sekarang pak, kerjaan tak banyak.Tapi pembayarannya sama, peduli amat dengan tingginya jabatan, dulu buat bernafas saja sulit apalagi buat cari jodoh"Emil buru-buru keluar ruangan, sebelum ucapnya selesai.
"Dasar sonto^^^^ kau Mil!"ketus David, namun sesaat kemudian ia tersenyum samar.
"Maaf Mil, kau benar"guman David lirih.
David sadar benar atas semua yang ia lakukan pada Emil.Semasa menjadi asistennya nyaris semua tugasnya dilakukan oleh Emil, terlebih jika masalah pribadi tak bisa ditunda.Maka ruangan kerja Emil akan dipenuhi setumpuk berkas yang harusnya ia sebagai CEO yang menyelesaikan.
"Mungkin ini salah satu doa Emil yang terkabul, sekarang saya harus merasakan nikmatnya menjadi bawahan"guman David dengan senyum simpul.Tak ada rasa malu apa lagi sakit hati dengan jabatannya sekarang.Bagi David yang terpenting ia bisa bekerja menghasilkan uang untuk hidupnya dan tentu saja untuk art yang merangkap teman ranjangnya.
Di tempat berbeda, sosok gagah dengan pakaian kebesarannya duduk berdampingan dengan wanita cantik yang juga berpakaian kebesaran seorang ratu.
Ia raja Barca dan ratu Malini, dua pasangan yang saat ini sedang menjamu tamu agung.
"Bagaimana keadaan negaramu raja Barca?"
"Semua terkendali tuanku"
"Aman untuk hal itu, mereka hanya mendiami satu titik dan tak bisa bergerak bebas"
Sosok yang dipanggil tuanku terlihat mengangguk, sekilas ia menatap ke arah Malini.
"Lahirkan keturunan yang perkasa, untuk menjadi penerus Barca!"
"Baik yang mulia, saya mohon doanya"
"Aku selalu mendoakan kalian, sudah cukup lama aku berkunjung, aku permisi"
Seperginya penguasa agung, yang dipanggil tuanku, dua pasangan itu masuk ke kamar mereka.Malini sekejap sudah menganti pakaian kebesarannya dengan gaun tidur yang sangat sexy.Ia ingin malam ini menuntut benih kehidupan Barca dalam rahimnya.
Barca menatap intens sosok sexy ratunya dengan meneguk salivanya, semua orang di wilayah pemerintahannya menyanjung kecantikan ratunya, namun untuk kemolekan Malini, hanya Barca yang bisa melihatnya secara utuh.
Malini mendekat ke arah Barca yang hanya mengenakan celana kolor, tangan lentik nan halus itu mengelus dada telanjang suaminya.Barca mengeram menahan naf sunya yang mulai tersulut.
"Kita harus memenuhi keinginan tuanku, seorang penerus dari pernikahan kita.Izinkan aku menjadi wanita seutuhnya, melahirkan keturunan darimu rajaku"Malini segera memagut bi bir Barca , selesai berbicara.
Serangan itu membuat Barca terpancing.Malam itu Barca dan Malini melakukan perjalanan panjang meraih kenikmatan hakiki, dan harus Barca akui jika kepuas bercinta seorang Barca hanya bisa didapat dari Malini.Bukan dari Sukma yang sejatinya tak mampu mengimbangi Naf su besarnya sebagai sosok yang ditakdirkan berbeda dengan bangsa manusia.
Malini tersenyum puas, melihat suaminya terkulai lemas karena aksi liarnya.Entah sebanyak apa benih Barca memenuhi rahimnya, akhirnya lelaki itu tunduk di bawar pusarnya.
"Berkembanglah di rahim ibu nak, kau akan meraih tahta seperti ibumu"guman Malini dengan senyum lebar.
Hari ini Sukma keluar dari rumah mewahnya, yang bak istana.Sebuah mobil mewah sudah siap mengantarnya ke tempat yang ia rindukan.
"Mbak, mobil sudah siap"Sukma tersenyum mendengar ucapan Gayatri.Wanita muda yang selisih usianya terpaut lebih muda satu tahun dari Sukma, usia Gayatri saat memasuki 24 tahun.
"Ayo kamu ikut!"Sukma merengkuh bahu Tri dengan lembut.
Gayatri merasa nyaman bekerja dengan bos cantiknya yang sangat baik hati, wanita yang sudah seperti kakak baginya.Tak pernah sekalipun Sukma berlaku bossy padanya.
Mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah pemakaman umum.Dengan tenang Sukma keluar mobil dan berjalan ke arah makam."Kita ke makam ibuku Tri"
Gayatri yang sedari awal ingin bertanya, akhirnya mengurungkan niatnya.Sukma telah menjelaskan tanya di pikirannya.
Sukma tercenung melihat makam ibunya yang sangat terawat, masih ada bunga yang terlihat segar di makam ibunya.
"Siapa yang datang membersihkan makam ibu?"batin Sukma.
"Sepertinya ada yang rajin membersihkan makam ibu, mbak"ucap Gayatri lirih, Sukma mengangguk sekali.Ia menelisik sekitar makam.
"Siapa?apa pakde?"Sukma bertanya lirih, membuat Gayatri menatapnya.
"Mungkin keluarga aku dek, yang membersihkan makam ibu"praduga Sukma.
Setelah cukup lama melantunkan doa untuk sang ibu Sukma beranjak meninggalkan makam, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki yang mematung di hadapannya.
BERSAMBUNG😊