
Sukma mencoba menahan sesak di dada, seperti apapun sikap Afit lelaki itu tetap suaminya yang harus ia layani.
"Aku masih kenyang, dan hanya ingin tidur!Afif memunggungi istrinya yang menatapnya nelangsa.
"Apa yang membuatmu berubah kak?"batin Sukma.
Malam terus merangkak lamban, mata wanita cantik itu seperti enggan terpejam.Pikirannya terus bergelut mencari tahu perihal perubahan sikap suaminya.
Suara dengkuran yang lumayan keras membuat malam yang biasa sunyi bagi Sukma, menjadi sedikit berbeda.
"Sepertinya kak Afit memang lelah"gumannya dalam hati.
Wanita cantik itu menatap wajah tampan suaminya, lelaki yang telah membersamainya dan memberinya seorang putri.
"Tidak..tapi nyaris dua orang, besok saja aku ceritakan perihal keguguran itu pada kak Afit"
Sukma menatap wajah suaminya yang saat ini berhadapan dengannya, wajah tampan yang dulu begitu murah senyum dan selalu menatapnya penuh cinta.
Wanita cantik itu kembali mengingat awal mula hubungannya dengan sang suami, dimana kedua orangtuanya tak merestui dirinya menikah dengan Afit.
Menurut kedua orangtuanya Afit tak memiliki sikap baik, ia tak pernah membawa Sukma untuk berkenalan dengan keluarganya, namun Sukma berusaha membuat kedua orangtuanya mau menerima Afit.Sukma tak pernah bercerita perihal sikap orangtuannya pada Afit.
Tak terasa waktu menjelang subuh, udara dingin membuat wanita cantik itu merapatkan tubuhnya ketubuh sang suami.
"Apa sayangku kau ingin ya?"gumanan lirih dari bibir Afit membuat Sukma tersenyum.
Wanita cantik itu menatap suaminya yang masih terpejam, sepertinya Afit sedang bermimpi.
"Sayangku kau nikmat sekali, aku mencintaimu Neti"
"Deg!!!"
"Neti????"
Sukma menatap tajam wajah yang masih terpejam namun bibirnya beberapa kali mendesis dan berguman.
"Gila..dia bermimpi begituan dengan wanita bernama Neti?"batin Sukma.
Sukma segera beranjak dari tidurnya, dengan perasaan kesal dicubitnya lengan sang suami dan segera ia keluar kamar.
"Aaauuu!!"Afit tersentak dari lelapnya.Matanya memindai keadaan di hadapannya.Ia sendiri dan istrinya entah dimana.
"Aku sepertinya tidak bermimpi, cubitan dilengan ini terasa pedis"guman Afit
"Tapi aku juga merasakan nyata bersama Neti, wanitaku itu sangat bisa membuatku bahagia"guman Afit sembari tersenyum.
Afit kembali menarik selimutnya, ia malas untuk bangun pagi.Pikirnya jika ini di rumah sewaannya ia akan melewatkan subuh yang panas bersama Neti.Tapi disini ia malas untuk sekedar bangun, apalagi harus melihat sikap mertuanya yang tak acuh.
"Kau kerja nak?"
Mak Nah menatap heran pada putrinya yang terlihat sudah siap hendak berangkat bekerja.Padahal suaminya baru datang semalam, tidak seperti biasanya.
"Iya mak nanti kalau ayah Arum tanya katakan saja aku kerja"
Mak Nah hanya mengangguk kecil, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada putrinya.
Tak lama setelah Sukma berangkat mak Nah menuju kamarnya untuk mengecek cucunya sudah bangun atau belum. Wanita tua itu tersenyum melihat sang cucu yang sudah terjaga dan sedang asik bermain dengan bonekanya.
"Kita mandi yuk?"ajak mak Nah sembari mengendong cucunya menuju kamar mandi.
Mak Nah sedang asik menyuapi cucunya ketika Afit datang menanyakan istrinya.
"Ia kerja, ada yang harus ia selesaikan" mak Nah menjawab tanpa melihat wajah mantunya, ia asik menyuapi sang cucu, Arum pun seperti tak merasa rindu pada ayahnya, bocah itu tak jua mau mendekat atau minta gendong pada sosok ayah yang jarang ia lihat.
Mak Nah hanya geleng kepala melihat sang mantu yang kembali masuk ke kamar, tanpa menyentuh putrinya sama sekali.
"Ayah macam apa itu, tak ada rindu-rindunya pada anaknya!"guman mak Nah yang sepertinya tak terdengar ditelinga Afit.
Tak terasa waktu sudah menjelang magrib, Sukma sudah selesai mandi sebelum suara azan magrib berkumandang.Wanita cantik itu menggunakan baju kebesaran para emak, apalagi jika bukan daster.
Menu makan malam sudah siap di meja makan, Sukma menuju kamar memanggil suaminya untuk makan bersama, namun tanggapan lelaki itu diluar dugaannya.
"Bagus sekali sikapmu, suami datang kau malah pergi bekerja seharian, apa maumu?"Afit mencoba menekan suaranya agar tak terdengar oleh mertuanya.
Afit menatap tajam istrinya, wanita cantik yang terlihat tenang melihat kemarahan suaminya.Ya sejak subuh tadi ia berusaha membentengi dirinya untuk tidak terpengaruh pada perubahan sikap suaminya.Ia tahu suaminya telah menduakannya, ia yakin perasaannya benar.
"Kita makan dulu emak sudah menunggu"Sukma berucap lirih dan setelahnya ia berbalik meninggalkan suaminya.
"Aahh..!"
Suara Sukma tertahan oleh bekapan tangan suaminya.
"Makanlah sendiri aku tak sudi, besok pagi aku akan pergi!"Afit berbisik dengan suara yang terdengar mengancam, tapi hal itu tak membuat Sukma marah.
"Baiklah sekarang biarkan aku menyuapi anakmu.Ia rindu padaku yang seharian tak dilihatnya"guman Sukma lirih namun ucapan itu menohok bagi Afit.
Tangan lelaki itu perlahan mengendur, ia melupakan putrinya.Dan Sukma segera melepaskan diri dari cengkraman suaminya, gegas Sukma keluar kamar meninggalkan suaminya yang termanggu di atas kasur.
"Makanlah emak dan anakmu sudah makan"
Sukma menatap emaknya yang berlalu menuju kamarnya dengan mengendong putrinya, dilihatnya piring bekas makan emaknya dan wanita cantik itu tersenyum.
"Syukurlah emak tak mendengarnya" guman Sukma lirih.
Sukma makan dengan sangan pelan, sungguh hatinya sakit mendapat perlakuan seperti barusan dari suaminya.
Sukma menadahkan wajahnya, menatap wajah Afit yang duduk berseberangan dengannya.Wanita itu mengambilkan nasi lengkap dan menyorongkan piring itu dihadapan suaminya lalu ia meneruskan makannya.
Tak ada suara saat mereka makan. Sukma membawa piring bekas makannya dan suami ke pencucian.
Setelahnya ia membuatkan kopi suaminya dan membawanya menuju kamar. Dilihatnya sang suami duduk dikursi yang ada di dalam kamar itu dengan membawa tasnya.
"Ini uang gajiku, cukupkan sampai aku memberinya lagi!"suara Afit terdengar ketus.
Sukma hanya menerimanya dan gegas meletakannya di atas meja.Seperti biasa ia tak pernah menghitung pemberian suaminya.walau ia hafal berapa jatah gaji yang sampai ketangannya.Ia tak pernah bertanya atau mengeluh , karena slip gaji yang diberikan suaminya terpampang jelas mengenai rincian gaji itu walau sangat ganjil jika melihat slip yang menurut Sukma lebih mirip bon kantin.
"Besok aku balik"suara Afit terdengar melemah.Sukma hanya mengangguk.
Malam itu tak ada pembicaraan lagi setelah ucapan Afit, Sukma pun nampak tak perduli, ia sangat tahu suaminya telah berubah.
Beberapa puluh menit kemudian wanita cantik itu tidur membelakangi suaminya yang masih menikmati kopinya.Selang menit berikutnya Afit naik keranjang, dipandanginya wajah cantik istrinya.Dan seperti kebiasannya ia melakukan tugasnya sebagai suami disaat Sukma terlelap dan wanita cantik itu akan tersadar diujung permainannya.Namun Sukma kali ini berpura-pura tetap terlelap sampai suaminya selesai.
"Aku merindukan Netiku, ia yang bisa membuatku puas"guman Afit setelah selesai dengan hajatnya.
Tes..bulir bening itu mengiringi sesak di dada wanita yang masih berpakaian lengkap, hanya cd nya yang sudah teronggok di lantai.
"Kenapa ibu menangis?siapa lelaki itu yang sudah membuat ibuku menangis!"
BERSAMBUNG