Dia Ibuku

Dia Ibuku
Pengakuan Barca


Sukma tercenung melihat makam ibunya yang sangat terawat, masih ada bunga yang terlihat segar di makam ibunya.


"Siapa yang datang membersihkan makam ibu?"batin Sukma.


"Sepertinya ada yang rajin membersihkan makam ibu, mbak"ucap Gayatri lirih, Sukma mengangguk sekali.Ia menelisik sekitar makam.


"Siapa?apa pakde?"Sukma bertanya lirih, membuat Gayatri menatapnya.


"Mungkin keluarga aku dek, yang membersihkan makam ibu"praduga Sukma.


Setelah cukup lama melantunkan doa untuk sang ibu Sukma beranjak meninggalkan makam, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki yang mematung di hadapannya.


"Dek Sukma?"lirih Zain.


Sukma melihat mantan suaminya itu mendekap seikat bunga yang sama seperti bunga yang ada di pusara ibunya, sedang tangan satunya menjinjing sebuah kresek.


"Kapan datang dek, eh sebentar mas sapa ibu dulu"


Zain melalui Sukma yang membeku di hadapannya, ia menuju makam mak Nah.Seperti biasa perlakuannya pada makam.Selesai membersihkan makam yang sudah bersih itu.Zain mengganti bunga di pusara itu dengan yang baru.


"Maaf mak, hari ini saya agak kesiangan.Resto ramai pengunjung yang makan siang, jadi mak harus nunggu".


Sukma tercekat mendengar ucapan mantan suaminya, lelaki itu terus berceloteh seolah-olah mak Nah masih hidup.


"Ya Tuhan, jadi mas Zain yang kerap merawat makam emak, sedang aku setahun lebih baru datang ke makam emakku"batin Sukma ngilu.


"Dek mampir ke rumah mas ya, kita ngobrol di rumah saja lebih santai"


Entah mengapa Sukma yang awalnya membenci Zain, berubah menjadi patuh.


Beberapa menit kemudian, Sukma dan Gayatri berada di lantai dua sebuah resto yang nampak asri. Sopir yang mengantar mereka tak ikut naik, karena ia orang dari bangsa Barca.


Gayatri duduk sendiri di meja yang berbeda, karena ia memberikan ruang untuk Sukma berbicara dengan mantan suaminya.


"Mas bersyukur akhirnya bisa bertemu denganmu, mas sudah bertemu putti kita, Arum"


"Deeg"Sukma menatap Zain intens.


"Maaf, mas nggak izin kamu, karena mas rindu dengan putri cantik kita"guman Zain membuang pandangannya dari wajah Sukma.Ada sesak yang ia rasakan di dadanya.Sungguh ia menyesali kebodohannya.


Sukma melihat mata Zain yang berkaca, wajah lelaki itu terlihat memerah.Entah kenapa ia jadi tertular melow, dadanya mendadak sesak, dan bulir bening di sudut matanya jatuh ke pipi.


"Maafkan atas dosa mas dek, maaaf"lirih Zain dengan suara parau.Sukma hanya mematung mendengar semua ucapan maaf dari mantan suaminya.


Zain adalah mantu yang sangat disayang emaknya, begitu juga dengan Zain, ia sangat menyayangi mak Nah dan Arum putrinya.Zain selalu menganggap Arum sebagai putri kandungnya, hingga bocah cantik itu menganggap Zain adalah ayahnya.


"Kenapa mas berhenti dari perusahaan?"


Zain menatap sendu wanita yang semakin cantik di hadapannya.


"Mas tak sanggup melihatmu dengannya"


"Deg"


Sukma merasa tercubit atas ucapan Zain, sekilas ia mengingat sikapnya pada bosnya saat itu, hubungan mesum yang tak seharusnya, namun seperti sulit ia tolak.Ia tak sadari jika suaminya mengetahui semua itu.


Sukma tercekat mendengar ucapan Zain, ia yang berdosa pada sang suami dari awal, memiliki hubungan atas nama janji pada lelaki bersuami.Ia memaknai hubungan terlarang itu sebagai bayaran atas janji, namun yang lebih salah ia menggunakan perasaannya.


"Maafkan aku, hingga akhirnya aku kembali terpedaya oleh cinta masa laluku, yang ternyata mengelabuhi dan membuat pernikahan kita jadi hancur"Sukma mendengar isak tangis lelaki di hadapannya.


Kenapa justru Zain yang sangat merasa berdosa disini, ia pun punya andil besar atas kehancuran rumah tangganya, hingga emaknya harys pergi dengan perasaan kecewa.Sukma menatap pilu lelaki di hadapannya.Tangan lembutnya terulur mengelus tangan Zain, membuat lelaki itu menegadah menatap matanya.


Zain beranjak dari duduknya, ia merengkuh tubuh wanita cantik itu dalam pelukannya, isak tangis terdengar pilu dari keduanya.Gayatri yang kebetulan ada di situ ikut merasakan haru.sudut matanya mengembun mendengar isak tangis mereka.


"Sayang, maafkan atas kesalahan mas.Mas tahu semua sulit bagimu.Tapi mas mohon ampuni kesalahanku"


"Saya juga mas, saya yang salah disini.Maafkan atas kesalah saya"Zain mengangguk-angguk, menyatakan pintu maaf buat Sukma terbuka darinya.Sukma kembali terisak melihat ketulusan lelaki yang sangat menyayangi almarhumah emak dan anaknya itu.


Semenjak pertemuan itu Zain kerap menemani Sukma menengok sang putri, tentu saja Arum sangat senang melihat ayah dan ibunya.


"Dek kenapa kau tidak mengambil Arum kembali, aku bersedia menjaganya jika kau sibuk"ucap Zain saat mereka baru tiba dari rumah orangtua almarhum Afit.


"Arum itu obat bagi mama dan papa mas Afit, aku tak tega mengambilnya, dan lagi mereka tulus menyayangi Arum, dan putriku suka berada di sana".


"Ya aku dapat melihatnya, aku bahkan sempat mengantarnya ke sekolah waktu itu, ia begitu senang mengenalkan teman-temannya padaku".


Zain tersenyum mengingat saat ia mengantar putri cantiknya ke sekolah, betapa antusiasnya Arum mengenalkan dirinya pada teman-temannya.Sukma tersenyum melihat Zain yang seperti membayangkan saat bersama sang putri.


Malam menjelang, Sukma sudah ada di dalam kamar khususnya.Kamar dimana ia menemui Barca.Tepat tengah malam pukul 2 dini hari, sosok Barca datang menemui dirinya dalam wujud manusia yang tampan dengan wajah blasteran. Sekalipun sosoknya berwujud manusia, namun hanya Sukma yang dapat melihatnya.


Barca mengelus lembut pipi Sukma, hingga wanita cantik itu terjaga.


"Kau datang suamiku?"


Barca tersenyum, seraya merengkuh tubuh Sukma dalam pelukannya.Saat ini perasaan Barca sedang tak nyaman.


"Ada apa?"


Barca menghela nafasnya kasar.Matanya yang tajam meredup ketika bersirobok dengan wanita cantik di hadapannya.


"Sayang, maukah kau mendengar ceritaku?"Sukma mengeryitkan keningnya.Ucapan Barca diluar pemikirannya, tak biasanya lelaki itu menggunakan lisannya.Biasanya ia datang dengan naf sunya.Melewati malam bersama tanpa banyak kata.


Sukma akhirnya mengangguk, ia dan Barca duduk bersandar di kepala ranjang.


"Diwilayahku sebagai seorang raja, aku dituntut banyak untuk wargaku, dan aku harus tunduk pada ketentuan penguasa alamku.Jika melawan akan bukan hanya kehancuran wilayahku, namun juga kematian untuk kami semua(Barca menghela nafasnya panjang).Karena itu aku HARUS mengikuti aturan yang berlaku sebagai seirang raja di wilayahku.Aku harus menikah dengan wanita dari bangsaku"


Barca menatap perubahan wajah dari istrinya dari arah kanan, wanita itu terlihat terkejut atas pengakuannya, namun sekejap ia mampu menyamarkan perasaannya, namun Barca tahu jika wanitanya sedang dibalut amarah karrna pengakuannya.Barca harus meneruskan ucapannya.Sukma akhitmrnya hanya diam menanggapi ucapannya.


"Aku terpaksa menikahi wanita dari bangsaku, dan menjadikan ia ratu di istanaku, maafkan aku"


Sukma menghela nafasnya kasar, ia menatap tajam lelaki di hadapannya.Ia mencoba menghargai pernikahan aneh ini, tapi mirisnya ia malah diduakan.Sekilas Sukma mengingat pernikahannya dengan Zain, ia menduakan lelaki itu atas nama janji dan cinta.Mungkinkah semua ini balasan dari perbuatannya.Yang tak bisa menghargai sebuah ikatan suci pernikahan.aPengakuan Barca ini membuat Sukma didera rasa amarah.


"Lalu?"singkat Sukma yang membuat Barca menposisikan dirinya di hadapan sang istri.Mata lelaki tampan itu terlihat sendu menatap bola mata indah istrinya yang berkilat tajam, ada amarah tersirat disana.


"Aku iklaskan jika kau ingin menjalin pernikahan dengan laki-laki dari bangsamu!"


"DEG"


BERSAMBUNG😊