
David bergerak perlahan masuk ke kamar yang saat ini ditempati Renata,sungguh jantung lelaki itu berdebar kencang.Ia lelaki normal yang haus belaian.Melihat tampilan mengoda dari seorang wanita cantik membuatnya panas dingin.
"Kak....!"sentuhan di tubuh liat nan gagah itu membuat pikir Renata seketika membeku.
"Masuk kak, nggak enak kalau ada pembantu yang lihat"Renata menarik tangan David dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.David hanya menurut saja ketika Renata mendudukan bokong David di pinggir ranjang king size di lantai dua rumah mewah itu.
Renata duduk di samping David, ia duduk bersila, nampak pa ha mulus itu sangat dekat di depan David.
"Rr rre..kau tahu rencana kakakmu untuk kita?"suara David terdengar berat.
"Rencana?..rencana apa kak?"
"Syukurlah Re belum tahu, jadi aku bisa membujuknya?"batin David senang.
"Kau mau membatalkan rencana kak Danis kak, maaf jika aku akan membuatmu tak bisa lagi menolak"wanita cantik itu senyum-senyum sendiri.
"Re..."
"kak!!!"David tak melanjutkan ucapannya ketika Renata tiba-tiba berteriak dan sudah duduk di pangkuannya dengan bergerak liar ingin membuka gaunnya.
"Kak tolong ada cecak jatuh di bajuku..geli kak!"suara Renata terdengar panik.
"Mana Re..mana!"tangan David tanpa sadar mengerayangi tubuh Renata dan..
"Kak..aahh"Mata mereka bersirobok, Renata mende sah ketika tanpa sadar tangan hangat David meremas lembut bukit kembarnya.Lelaki itu mendadak bleng, tangannya tak lepas dari bukit lembut yang terasa kenyal di telapak tangannya.
Senyum smirk Renata seakan mendapat ide, dengan gerak cepat ia melu mat bi bor David lembut.Setan sudah menjadi yang ketiga di kamar temaram itu.Hingga David membalas perlakuan Renata dengan buas.
"Re kau..?"
"Iya kak ini yang pertama, lakukan kak aku tak akan menyesal melakukan dengan kakak"bisik lembut Renata sembari mengulum daun telinga David.
David menghentak kuat dan ia merasa kuku-kuku cantik Renata bersemayam di pundaknya.Malam itu menjadi malam panas bagi mereka.David lupa niatnya mendatangi Renata, sunguhan yang diberikan oleh wanita perawan itu membuat akalnya menguar.
"Re maafkan aku"
"Jangan minta maaf kak, itu membuatku sedih, setelah kita mengayuh nikmat berkali-kali kakak bilang maaf"rajuk Renata manja.David tersenyum kikuk.Ia mengelus lembut pipi adik sepupu istrinya.
"Kau cantik Re"suara lembut David membuat pipi Renata merona.
"Tapi tak ada yang mau padaku"rengek Renata manja.David tersenyum.ia menarik tubuh wanita cantik itu dalam pelukannya.
"Kau yang terlalu memilih Re, hingga akhirnya jatuh kepelukan lelaki tua sepertiku"kekeh David.
"Aku tak akan menyesal kak jatuh kepelukan lelaki tua seperti kakak"Renata mengeratkan pelukannya.bibirnya mengulum pucuk berwarna hitam di dada David.
"Re jangan mengodaku, kau tak akan bisa jalan dalam seminggu nanti"David meringis ketika merasa ada yang berkedut di bawah sana.Renata malah semakin mengoda dengan mengapai kojek David.
"Aah..Re..aaahhh..eemmm"David menikmati perlakuan Renata yang membuatnya makin mengila.
"Re..Renata!!!"suara David terdengar nyaring dan membuat wanita cantik dengan tubuh mengoda itu terkesiap.
"Eeh..iya kak!"Renata mengutuk pikirannya yang jauh berkelana bersama lelaki yang saat ini menatapnya bingung.
*****
"Bi kenapa saudaraku belum turun?"
"Maaf bu mbak Re tadi sudah berangkat, ia pesan jangan membangunkan ibu".
"Anak itu memang, sampai saat ini ia tak mengabariku"
Denis meraih hapenya di saku bajunya, ia mencoba menghubungi saudara sepupunya itu.
"Re koq pergi nggak membangunkan kakak?"cerca Denis dengan tanya yang membuat wanita di seberang sana meringis.
"Maaf Jika aku tak membangunkanmu kak, (aku malu jika bertemu muka dengan kakak ipar batin Renata)" peristiwa semalam terbayang, Renata menutup matanya lalu membuka sekejap.
"Gila ..aku nggak nyangka bisa seberani itu!" Renata menatap spion di hadapannya.
"Kak aku dapat telepon mendadak subuh tadi dari rekan kerja, jadi aku harus kembali dulu, aku usahakan 3 hari saja disana".
"Baiklah..bersiaplah disaat kau kembali kau sudah siap jadi maduku"tegas Denis.
"Siap kak..apapun perintahmu"Renata terkekeh.Sungguh ia merasa sangat bahagia jika mimpinya menjadi istri David terwujud.
Di ruang kerjanya David hanya diam memainkan bolpoinnya, ia masih tak percaya telah melakukan percintaan panas dengan istrinya semalam, setelah keluar dari kamar Renata yang membuat gerah karena tampilan sexy gadis cantik itu, membuat ia sampai lupa jika istrinya sedang sakit parah.Dan anehnya sang istri pun tampak liar melayaninya.
"Bukan aku tak bahagia dengan kegiatan semalam, tapi haruskah aku menuruti permintaan Danisku karena libidoku bisa membahayakan kesehatannya?"
"Bagaimana jika Denis makin parah?"
Batin David terus bergolak dengan tanya, hingga suara ketukan pintu membuat lelaki itu tersadar.
"Masuk!"
Emil masuk membawa setumpuk berkas yang harus dicek dan ditanda tangani oleh David.Setelah meletakkan berkas di meja bosnya, Emil permisi untuk keluar.
"Aneh dia tak menyuruhku mencari bu Sukma lagi"batin Emil sembari keluar dari ruangan bosnya.
Getaran hape di saku hemnya menganggu konsentrasi David, ia mengeluarkan hape yang terus bergetar itu.Panggilan dari istrinya, lelaki itu segera mengeser naik icon telpon berwarna hijau.
"Ada apa sa...?"suara lembut itu tiba-tiba tertelan, ketika terdengar perkataan diseberang sana.Tubuh gagah itu melemah, namun beberapa detik kemudian ia tersadar.
"Aku akan segera menyusul!"David keluar dari ruangannya dengan tergesa.
"Mil handle semuanya dan minta bantuan Zain jika ada yang tak beres, aku harus ke rumah sakit!"suara David cukup membuat tubuh Emil tersentak karna lelaki itu asik mengerjakan laporan yang harus ia periksa dengan teliti.
Di tempat berbeda Zain tak focus dengan pekerjaannya, kegiatan semalam dengan sang istri terus terulang dalam pikirannya.
"Sayang malam ini.."Zain menghentikan ucapannya saat ia melihat istrinya mengangguk.Tangan Sukma mengelus lembut pipi sang suami.
"Maafkan aku mas..baru malam ini aku siap melaksanakan kewajibanku"Zain menggeleng pelan, tangannya mengelus rambut istrinya yang hitam lebat.
Malam itu ia melakukan penyatuan batin dengan istri yang sangat ia cintai, ia berjanji akan menjaga istrinya lahir batin dan melupakan semua kekurangan istrinya semenjak malam penyatuan.
"Aku mencintamu sayangku"bisik Zain ketika mereka bersama mengapai puncak.
"Aku sayang padamu mas"lirih suara Sukma dibarengi de sahan.
Zain tersenyum mengingat keganasannya pada sang istri malam itu, sungguh ia sangat bahagia walau istrinya belum menyatakan cinta padanya.
"Pak Zain...paaak!"
"Eh ..iya ada apa Mil?"Zain tersentak ketika asisten sepupunya itu sudah berdiri menjulang di hadapannya.
"Pak tolong bantu saya menemui klien, saya sedang ngecek berkas!"mohon Emil dengan meletakan berkas penting yang harus dipelajari Zain untuk bertemu dengan klien setelah makan siang.
"David mana ?"
"Bapak tadi bergegas pulang setelah dapat telpon dari rumah"
"Hufff..wanita itu masih juga menyetirnya"
"Baiklah....saya akan temui klien itu, jangan khawatir aku akan menyelesaikannya"
"Trims bro..I love you!!!"Emil terbahak sembari gegas meninggalkan ruangan itu, sebelum ada benda yang mengenai tubuhnya.
"Dasar sinting lu..gue nggak butuh love you mu!!!"Zain melempar bolpoinnya ke arah Emil yang terbahak menjauhinya.
Di tempat berbeda David baru saja turun dari mobilnya, lelaki itu tampak berjalan cepat menuju UGD dimana sang istri dikabarkan berada oleh ART yang mengantarkan Danis ke rumah sakit.
"Pak..."David mengangguk mendengar panggilan art nya yang duduk di kursi depan RUANG UGD.
"Kenapa mbok?"
"Ibu saya temukan pingsan pak"wajah khawatir mbok Sum terlihat jelas.
"Shiiiitttt..ini salahku semalam"gerutu David lirih.
Haaaiiii pembaca setiaπππ
Author akan buat giveaway buat yang rajin menyimak cerita DIA IBUKU.
Akan ada hadiah pulsa @50k untuk 5 orang dengan vote terbanyak sampai akhir tahun (31 Desember 2022)
Dan Author akan beri pulsa untuk 2 orang @25k dengan komen yang paling menarik.
Ayooo terus tunggu episod selanjutnya yaa...πππ
BERSAMBUNG