Dia Ibuku

Dia Ibuku
"Sosok Dalam Danau 1


Di tempat berbeda Afit terpana melihat kertas yang ia temukan dalam map berlogo Pengadilan Agama, dalam laci lemarinya.


"S U R A T C E R A I!!!"


"Kau menyembunyikan hal besar ini dariku?terlalu jauh kau ikut campur urusanku!"gumannya kesal.


Afit terduduk lemas di kasurnya ia masih menunggu Neti yang sudah dua jam izin keluar rumah.Semenjak dirinya tak bekerja dua bulan ini Neti sering kali keluar rumah, bahkan berjam-jam, apa ia mengosip dengan tetangga seperti ucapannya.


"Aku bosan kak di rumah saja, lebih baik aku ngerumpi sama teman-temanku, coba kamu cari kerja gih jangan di rumah saja, aku jadi pusing lihatnya, tidur melulu. Tabungan kita tinggal 500ribu kak buat keperluan makan saja tidak cukup!" ucapan Neti kembali terngiang di telinga Afit.


Afit menekan kepalanya yang mendadak sakit, ia sudah berusaha mencari kerja semenjak diphk, tapi selalu ia mendengar omelan Neti yang mengatakan dirinya malas segala macam.Dulu setelah menikah dengan Sukma ia pun tak bekerja, ia bahkan ikut makan dengan Sukma tapi istrinya itu tak pernah bicara kasar padanya.


"Sukma.."Afit mengeja lirih nama istri yang lama ia tinggalkan.Saat ini tiba-tiba ia merindukan wanita cantik itu, istri yang selalu menerima perlakuannya dengan segenap cinta, tak pernah mengeluh, bahkan semenjak menikah istrinya itu sudah bekerja dan setelah mereka punya anak pun tetap bekerja membiayai anak dan mertuanya, karena ia tahu uang yang hanya seujung kuku dari gajinya tak akan cukup untuk biaya sebulan.


Afit meringis mengingat kezolimannya pada istri dan anaknya, karena 90% dari gajinya untuk keperluan Neti dan dirinya disini.tapi Sukma tak pernah protes, wanita itu selalu menerima berapa pun yang ia beri tanpa ada omelan.


"Sukma kau tetap istriku, karena aku tak pernah menceraikanmu! ya perceraian ini tidak sah" gumannya lirih dengan mata dipenuhi kabut.


Di tempat berbeda di mess karyawan saat ini."Besok aku shif pagi, kau bisa datang malam hari kan"


Neti tersenyum mendengar ucapan lelaki di hadapannya, tangannya meraih dua lembar uang merah dari tangan lelaki itu.


"Kalau semalaman beda loh say"Neti mengerling mengoda.


"Beres saja masalah itu Ti, asal servismu mantab!"lelaki itu meremas bokong Neti gemas.


"Dah aku pamit say!"


Lelaki nyaris setengah abad itu menatap punggung wanita yang keluar dari messnya dengan senyum puas.


Beberapa puluh menit berikutnya wanita montok itu sudah masuk ke dalam rumah sewaannya.Wajahnya terlihat kesal melihat Afit yang mendengkur di kasur dengan suara cukup keras.


"Kerjanya tidur terus, kapan mikir cari kerja!, bulan depan kita sudah harus bayar sewaan!"omelan Neti membuat Afit meradang, karena ia memang tak sedang tidur nyenyak, jika ia mendengkur bisa jadi saat itu sekejap ia pas terlelap.


"Aaahhhh!!!"


"Kalau aku mendengar mulutmu bicara lagi, aku akan membuatnya lebih lebar paham!!!" Neti mengkerut melihat kemarahan suami sirihnya, Afit yang tak pernah marah padanya sekarang terlihat menyeramkan.


"Dari mana saja kamu! ngeluyur tak tahu waktu!"


"Kak aku buatkan kopi ya, sebentar"Neti segera ke dapur menyeduh kopi hitam kesukaan Afit.Sengaja ia bersikap manis agar kemarahan Afit tak semakin menjadi.Setelah secangkir kopi siap ia mengantarnya ke hadapan sang suami.


"Kenapa kau tak bicara mengenai surat cerai dari istriku!"


"Deeeg"


Neti terdiam tapi pikiran licik wanita itu bernalar mencari jawaban yang menguntungkan dirinya.


"Maaf kak aku belum memberikan padamu karena situasimu saat ini, kau sudah kepikiran masalah phk terus nanti akan semakin sakit memikirkan surat cerai itu, jadi aku menyimpannya dulu"suara Neti terdengar bergetar.


Afit menatap nanar wajah istri sirihnya, ia cukup terharu atas perhatian sang istri.


"Maafkan kakak ya dek, aku tadi sempat kesal padamu, ternyata kau perhatian juga dengan suamimu ini"hati Afit kembali goyah.


"Ya jelas perhatian lah kak, apa karena kakak saat ini tak bekerja terus aku nggak perhatian gitu!"rayu Neti manja.


Kita lupakan dunia manusia, dan lihatlah betapa sosok kecil Bintang terjebak dalam kehidupan di seputar ibunya, ia betul-betul belum berani keluar untuk bertemu teman-temannya.Anak penurut itu mendengarkan apa yang diucapkan Doan untuk diam di rumahnya sampai situasi aman.


"Sepertinya di luar sana belum aman bagiku, karena belum ada yang datang mengajakku bermain"


"Apa orangtua Doan yang menyeramkan itu masih berada di rumah tua itu, aku ingin bisa bertemu dengan kakek yang tinggal di rumah itu, menurut Doan ia sama denganku"


Sosok kecil itu mengelilingi kehidupan seputar ibunya, terkadang sikap usilnya membuat sang nenek celingukan mencari suaranya.


"Andai aku punya kemampuan lebih seperti teman-temanku, yang bisa menampakkan dirinya pada manusia, aku ingin bermain bersama mereka"Bintang menatap mak Nah dan Arum yang bermain dengan tawa lucu dari sang kakak.


"Aku jenuh bermain sendiri, tapi aku sangat takut melihat sosok besar dan seram orangtua Doan itu"


Di tempat berbeda tiga bocah duduk di tepi danau, mereka merasa ada yang kurang karena kedua temannya tidak ikut bergabung. ya mereka Awan, Restu dan Petir.


Untuk menjenguk Doan mereka agak takut, jika bertemu kedua orangtua Doan, yang sampai saat ini belum kembali ketempat tinggal mereka.Bukan takut dimakan seperti Bintang, karena bangsa mereka kurang lebih sama, tapi mereka takut jika dipaksa mengatakan tentang Bintang.


"Wan benar ya jika saat ini kita ketempat Bintang, jiwa Bintang terancam?"


Awan hanya mengangguk acuh mendengar pertanyaan Petir.


"Kenapa begitu ya?"


"Karena jika bangsa kita bercampur dengan Bintang mereka yang berjarak terdekat dengan kita akan ikut membauinya"Restu berusaha menjelaskan pada teman mereka yang memang sedikit berbeda.


"Kasihan Bintang pasti ia kesepian"guman Petir dan Restu lirih.


"Kita akan segera melakukan perjalanan itu, ini hanya rahasia kita berlima, jangan sampai ada yang tahu!"


"Tentu saja"Restu dan Petir serempak menyahut perkataan Awan.


"Aku semakin tak sabar dengan perjalanan kita"Restu menerawang dengan tatapan jauh ke langit.


"Siapkan diri kalian untuk perjalanan itu!aku pergi!"Awang menghilang dalam sekejam setelah mengingatkan kedua temannya.


"Tu..terus terang aku merasa takut dengan perjalanan ini"


"Jangan pikirkan yang buruk, berpikirlah jika kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan!"Restu mengingatkan Petir yang terlihat tak yakin, ya Restu tahu sifat Petir yang bukan hanya penakut tapi juga gegabah.


Dua bocah itu akhirnya berpisah dan kembali ke tempat tinggal mereka.


"Mereka merencanakan perjalanan jauh?apa maksudnya?"sosok yang sedari tadi menyimak percakapan mereka tiba-tiba menyeruak dari dalam danau.


Haaaiiii pembaca setia😊😊😊


Author akan buat giveaway buat yang rajin menyimak cerita DIA IBUKU.


Akan ada hadiah pulsa @50k untuk 5 orang dengan vote terbanyak sampai akhir tahun (31 Desember 2022)


Dan Author akan beri pulsa untuk 2 orang @25k dengan komen yang paling menarik.


Ayooo terus tunggu episod selanjutnya yaa...😘😘😘


Bersambung