Dia Ibuku

Dia Ibuku
Penjelasan Doan


"Katakan saja aku akan mengabulkan apapun keinginanmu!"tegas David dengan tatapan intens.


"Ayo kita menikah sebelum melakukan itu"


"Deg"


Sukma menundukan kepalanya, terlihat raut wajah David berubah seketika mendengar keinginan Sukma.Lelaki gagah itu menghela nafasnya panjang, seakan ada beban yang berat baginya.


Sukma tercenung mendengar helaan nafas bosnya, ia hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Semua lelaki sama, hanya ingin mencari enaknya saja"


Jujur untuk melakukan adegan gila itu saja Sukma berusaha untuk melupakan statusnya yang masih istri Afit, sikapnya yang idealis tentang suatu hubungan sakral, membuat wanita cantik itu berpikir untuk menyerahkan diri pada lelaki yang bersedia menolongnya.


Mungkin rasa sakit yang diberikan sang suami sebagai pemicu kegilaannya malam itu. Namun ia masih waras jika harus menyatu tanpa ikatan dengan David, ia takut hidupnya makin hancur.


Tak ada pembicaraan setelah itu, mereka tertidur berdua, saling peluk namun sepertinya ada rasa mulai menguar diantara keduanya, karna keinginan Sukma.


*****


"Kau serius ikut mencari kakek sakti itu?


Bocah yang lebih tampan dibanding keempat temannya itu mengangguk.


"Kau tahu ini akan sangat berat, darahmu tak mewakili petualangan ini!"


Awan terlihat cemas, begitu juga ketiga temannya yang lain.


"Aku yakin mampu, dukung aku!"Bintang menundukan punggungnya sebagai permohonan.


"Kami selalu mendukungmu Bi, tapi kami sendiri tak tahu apa kami mampu melindungi diri sendiri!"


"Ya, apa lagi melindungimu!"


"Kecuali Awan!"


Yang lain saling pandang dan bersamaan menatap Awan, setelah mendengar ucapan Doan.Awang menatap intens ke arah Doan yang ucapannya membuat para temannya penasaran.


"Kau berbeda dari kami bertiga Wan, dan Bintang lebih jauh lagi berbeda dari kita!"


Doan menjelaskan maksudnya dengan kehati-hatian.


"Apa bedanya?"Bintang menatap keempat kawannya dengan tatapan bingung.


"Apa kau tahu perbedaanmu dengan kami Wan?"yang ditanya hanya melengos, seolah enggan membicarakannya.


"Maafkan aku Wan, supaya misi kita berhasil kami semua harus tahu kekuatan dan kelemahan dari kita"


"Itu betul kami khawatir padamu Bintang, karena kita akan menghadapi hal besar yang bisa membuat kita musnah"


Kali ini ucapan Doan membuat Awan marah.Mata bocah itu memerah dan bersinar menakutkan.


Keempat temannya menunduk karna tak mampu menatap ketajaman mata Awan, yang membuat hawa panas yang terasa membakar.


"Wan kendalikan dirimu, kebiasaanmu justru akan membuat kami takut padamu!"keluh Restu dengan wajah sama menunduk dengan ketiga temannya.


"Besok kita berkumpul disini membicarakan tugas yang akan kita lalui bersama, kalian boleh kembali pulang sekarang!"


Dalam sekejap ketiga bocah melesat tanpa bekas, dua bocah yang tertinggal saling pandang.


"Mengapa kau menahan tanganku An" Bintang menatap bingung tangannya yang dicekal Doan.


"Ikutlah denganku, ada yang harus aku sampaikan padamu!"


Bintang mengangguk dan mengikuti Doan menuju suatu tempat yang selama ini menjadi kediaman Doan.


Doan berbaring di kasur yang terlihat sangat lusuh di dalam rumah tua yang terbuat dari kayu.Rumah yang telah lama tak ditinggali penghuninya itu menjadi tempat ternyaman baginya.


Bintang mendekat dan ikut berbaring di sampingnya.mereka saling menatap langit-langit rumah yang banyak sekali cela untuk sinar bulan masuk menerangi sisi kamar.


"Kau mau mengatakan apa An!"


Bintang menyamping menatap Doan, teman yang paling pendiam dan penuh misteri dan terlihat lebih tua diantara mereka berlima.


Mereka yang terkumpul karena kebiasaan yang sama, berenang di jembatan gantung dan bermain bola dekat danau.Bintang merupakan anggota terbaru diantara keempat temannya.Doan, Awan, Restu dan Petir.


"Jangan terlalu dekat dengan Awan"lirih suara Doan masih terdengar di telinga Bintang.Doan mengerti tatapan penuh tanya dari temannya yang sebenarnya berbeda dari mereka berempat.


"Dia jauh berbeda dari dugaan mu, kau pikir ia seperti kita?"Doan menggeleng pelan.


"Sesungguhnya Awan titisan iblis, aku rasa ia menyadari hal itu"


"Apa sebab itu ia marah tadi?"Doan mengiyakan.


"Awan hanya dititip dalam rahim wanita hina, ia memiliki sifat seperti bapaknya. Iblis yang suka mengelabuhi manusia di Buana Surgawi.Di sana iblis itu menyerupai manusia dan membuat pengikutnya semakin banyak"


"Apa bisa begitu?"Doan mengangguk.


"Termasuk Restu dan Petir, serta diriku kami juga bukan anak manusia biasa, kami juga berasal dari makluk lain tapi kami tak sejahat iblis, yang bisa memakan raga bocah sepertimu!"


Bintang terkejut mendengar ucapan Doan yang lirih namun terdengar menakutkan.


"Jiwanya akan meminta korban bahkan bukan hanya sekali!"


"Aku tahu kau masih tak percaya, aku tak memaksamu, namun tetaplah berhati- hati padanya!"


Bintang terdiam ia seperti merenungkan ucapan Doan, perbedaan yang ia tahu selama ini antara mereka dengan Awan adalah mata merah bocah gundul itu, yang bisa bersinar tajam disaat marah dan terlihat sangat menakutkan.


"Kau ingat ketika kepala Restu terluka disambit batu oleh penghuni pohon di dekat danau?"Bintang mengangguk ketika teringat peristiwa itu.


"Wanita penghuni pohon itu termasuk sakti Bi, umurnya ratusan tahun tapi kau lihat ia menghilang begitu Awan menatapnya dengan amarah"


Bintang manggut-manggut mengiyakan, ia pun tahu sorot mata temannya itu sangat menakutkan.


"Jika suatu hari bapaknya datang menurunkan ilmunya pada Awan, aku yakin teman kita itu akan jauh berbeda.Dan maaf kau bisa menjadi tumbal untuknya!"


"Dimakan?"


BERSAMBUNG