
Sosok kecil itu ikut berbaring di samping Sukma.Tangan kecilnya merengkuh tubuh ibunya, namun sayang kehangatan itu tak sampai pada sang ibu.Terlebih sang ibu mulai terisak lirih yang membuatnya merasa ikut merasakan nyeri dihati.
"Airmata ibu kesakitanku!"
Seiring suara malam yang mulai diramaikan oleh konser jangkrik, Sukma akhirnya terlelap dengan mata yang terlihat membengkak karena isak tangisnya.
"Bi ayo kita ke danau!"empat bocah lelaki itu sudah berada di dalam kamar Sukma, menatap Bintang yang masih berbaring di samping ibunya.
"Ibumu menangis Bi?"
Yang ditanya tidak menjawab, hanya bergerak menjauh dari raga Sukma, mereka berempat saling pandang dan bergerak mengikuti Bintang yang sudah melesat jauh dari mereka.
"Kau lihat wajahnya, ia kelihatan sedih sekali"ucapan Awan diangguki kepala ketiga temannya.
"Kenapa ya?"giliran Doan yang bersuara, bocah satu ini paling pendiam diantara keempat temannya.
Gantian ketiga temannya menggeleng bersamaan, jejak Bintang bahkan sudah raib dari pandangan mereka karena kekepoan mereka akan sikap Bintang.
Saat ini bocah kecil dengan rambut lebat berwarna hitam dan wajah tampan itu duduk lesu dipinggiran danau. Matanya menatap kosong kearah langit.
"Aku ingin melihat ibuku bahagia"
"Bagaimana caranya?"
Tiba-tiba air di danau itu terdengar bergemuruh, riak yang tak mungkin ada di danau itu terlihat bagai gulungan ombak.Bintang tersentak, tubuh kecilnya mengawang menyaksikan kejanggalan di depan matanya.
"Bintaaaang...!"suara nyaring itu memekakkan telinga.
Bintang melayangkan tatapan kesalnya pada Awang yang membuatnya terkejut.
"Bisakah tidak berteriak!"
Awang hanya nyengir mendapat protesan dari Bintang.Bocah kecil bermata merah itu malah sudah duduk menempel dekat Bintang.
"Jangan banyak melamun ditempat ini, kau bisa dimakan penghuni danau ini"bisik Awan lirih.
Bintang tersentak mendengar ucapan Awan, matanya reflek menatap ke arah danau.Seperti biasa air di danau itu terlihat tenang.
"Aneh...tadi aku melihat sendiri air di.."
"Apa yang kau lamunkan Bi?"
Bintang mengurai pikirannya, pandangannya focus pada keempat temannya, Awan yang kemarin marah pada Restu saat ini sudah kembali berbaikan, begitulah bocah jika bertengkar dalam lima menit mereka akan kembali akur.
"Aku hanya sedih melihat ibuku menangis"lirih Bintang dengan wajah tertunduk.
"Bi, orang dewasa itu memang suka begitu aku sering melihat mamiku seperti itu, tapi tak lama ia akan tertawa kembali"
Restu menatap Bintang dengan senyum, kepala kecilnya mengangguk meyakinkan ucapannya.
"Ayo kita berenang, air danau itu terlihat sangat sejuk"Petir bersuara yang diangguki keempat temannya, bocah satu ini terlihat istimewa dibanding mereka berempat, wajahnya terlihat cacat begitu juga dengan tangannya yang tak ada sebelah.Ia adalah janin hasil aborsi yang malang sama seperti Awan, namun Awan memiliki fisik yang sempurna hanya matanya yang merah menyala seperti iblis jika ia marah.
Bintang lupa akan kejanggalan di danau itu, keempat temannya mampu membuatnya kembali ceria, mereka berenang hingga puas, suara tawa mereka terdengar riuh.
"Aaauuuuuu!"
"Suara kalian membangunkan anakku, pergiii sanaaaa!" suara lengkingan wanita bertubuh tinggi yang merupakan penghuni pohon randu ditepi danau itu mengejutkan kelima bocah yang asik bersenda gurau.
Lemparan batunya mengenai kepala Restu yang saat ini terlihat mengeluarkan darah segar.
"Hei wanita jahat..kau melukai kepala temanku!"Awan melayang mendekati tubuh wanita yang tinggi menjulang dihadapannya.
Mata merahnya terlihat menyala, seketika wanita itu menunduk dan hilang wujudnya.
"Apakah ini sakit?"Bintang membersihkan luka dikepala Restu.
Restu menggeleng karena ia memang tak merasakan sakit dikepalanya hanya ia mual melihat darah yang terlihat penuh ditelapak tangannya, yang ia gunakan untuk menangkup lukanya.
"Ayo kita menjauh dari sini!" ajak Bintang pada keempat temannya.
"Kenapa?tak perlu takut pada wanita itu!"raut kesal Awan terlihat menyeramkan.
"Bukan takut, tapi kita juga tak bisa menganggu ketenang mereka kan!"
"Ayolah kawan kau pelindung kami, apa kau tak ingin menemani kami bermain di jembatan gantung"
Mereka bersorak mendengar kata jembatan gantung, tempat yang asik untuk berenang dan bermain.
"Ayo kita balapan siapa yang lebih dulu sampai di jembatan gantung!"Awang tersenyum smirk dengan tubuh melesat terlebih dahulu.
"Culaaaasss!"
Serentak keempat bocah yang lain menyusul Awan yang tertawa terbahak mendahului teman-temannya.
Di tempat berbeda seorang lelaki yang terlihat masih muda, jika dilihat usianya berkisar 30 tahun lebih, sedang bercumbu dengan seorang wanita.
"Janji kakak nggak boleh lama disana!"suara wanita itu terdengar manja.
Tubuhnya yang terlihat montok dengan pakaian yang minim terus bergelayut pada sang pria.Lelaki itu terlihat merapikan beberapa lembar pakaian ke dalam tas.
"Aku disana barang 2 atau 3 hari saja sayang, selebihnya waktuku untukmu...kau yang ku utamakan!"
Wanita itu tersenyum senang, sekilas kelicikan dimatanya tersirat.
"Itu benar, aku yang lebih utama dibanding istrimu, karna disini kau sudah mendapatkan segalanya!"batin wanita itu sembari menarik sang lelaki menuju kasur.
Setelah beberapa jam mereka bergelut di kasur tanpa ranjang itu, sang lelaki menuju kamar mandi.Wanita montok itu sudah terlelap tanpa busana, hanya selembar kain sarung milik sang pria yang menutupi tubuhnya.
Selang beberapa menit lelaki itu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian lengkap.Lelaki itu tersenyum melihat wanitanya, diberinya kecupan ringan dikening.
"Kakak jalan ya sayang, janji tidak lama"gumannya lirih.
Lelaki itu mengambil tasnya dan menyelempangkannya dipundak.Ia membuka pintu perlahan, seolah takut membangunkan sang wanita.
Diluar rumah sudah menunggu taxi yang dipesan, taxi yang biasa ia naiki untuk mengantar keterminal bus. Dari terminal ia akan membeli tiket bus menuju tempat tinggal istri dan anaknya.
Lelaki itu menyulut rokok kegemarannya ketika sudah berada di dalam bus, ia tersenyum mengingat wanitanya, wanita yang menemaninya ditempat rantau selama beberapa tahun ini.Awalnya Neti hanya seorang pekerja loundry ditempat ia bekerja.Wanita yang setiap pagi mengambil pakaian para pekerja yang ada di camp.Wanita bernama Neti yang usianya 5 tahun lebih tua dari istrinya.
Pagi itu ia masih tertidur ketika Neti datang untuk mengambil pakaian kotor miliknya, kebetulan ia shif malam. Campnya yang tak pernah terkunci membuat Neti leluas masuk.Wanita muda yang hanya lulusan SMP itu tersenyum melihat lelaki tampan dengan tubuh putih bersih itu tertidur.
Neti mendekat ke sisi kasur, tangan lentiknya mengapai wajah tampan Afit.Lelaki itu mengerjap merasakan sentuhan lembut wanita dihadapannya.
"Maaf kak saya mau menanyakan pakaian ko..aahhh"Nenti pasrah ketika tubuhnya tiba-tiba berada di bawa tubuh Afit, wanita itu malah tersenyum senang.
Saat itu Afit hanya menindihnya saja, namun jemari lentik Neti secara perlahan terus mengelus tengkuk Afit dengan gairah, dan perlahan ia menarik lembut leher lelaki yang sepertinya mulai terpengaruh olehnya.
Afit yang sudah beberapa minggu tak melepas gairahnya, akhirnya terpedaya.Mereka akhirnya meluapkan rasa dengan sangat bruntal dan buas, satu sisi Neti memang lama menaruh hati dan ingin memiliki Afit, satu sisi Afit yang lama tak melepaskan amunisinya.
Sejak kejadian itulah mereka hidup bersama dengan menyewa sebuah rumah kecil, untuk menghindari pertanyaan dari teman satu campnya.
"Maafkan aku istriku, aku melakukan ini karena ia bisa membuatku puas"guman Afit dalam hati.Terlihat dari raut wajah Afit tak ada penyesalan telah menduakan istrinya.
4 jam kemudian bus telah sampai di perkampungan Sukma.Dengan naik ojek kurang lebih satu jam Afit tiba dirumah mertuanya.Hari sudah malam ketika Afit datang.
"Mak bagaimana kabarnya?"Afit mencoba berbasa- basi menyapa Mak Nah.
"Baik cepatlah masuk!"Afit mengiyakan ucapan mertuanya dan segera menuju ke kamar istrinya.Sedang mak Nah terus ke kamarnya yang terletak dibagian belakang, wanita tua itu terlihat kesal karena mantunya pulang tak sesuai jadwal yang seharusnya.
"Kak kau datang?"Sukma tersenyum dan gegas bangkit dari pembaringan.
Afit tersenyum samar dan tangannya mengacak pelan rambut istrinya.
"Tidurlah! besok saja kita ngobrol aku sangat lelah!"
Afit membaringkan tubuhnya terlebih dahulu, ia seakan tak mau peduli istrinya yang terlihat merindukannya.
"Kakak sudah makan, aku siapkan makan malam ya?"
Sukma mencoba menahan sesak didadanya, seperti apapun sikap Afit lelaki itu tetap suaminya yang harus ia layani.
"Aku masih kenyang, dan hanya ingin tidur!Afif memunggungi istrinya yang menatapnya dengan kesedihan.
"Apa yang membuatmu berubah kak?"batin Sukma nelangsa.
BERSAMBUNG