Dia Ibuku

Dia Ibuku
Kau ingin mengenalkan aku pada istrimu?


Bintang bingung mendengar ucapan Doan yang tiba-tiba mengusirnya.


"Cepatlah Bi, pulanglah ke rumahmu disana lebih aman!"Doan mendorong tubuh kecil Bintang dan tanpa dapat mengelak tubuh Bintang seketika terlempar jauh.


"Aaaahhhhhh Ann!!!kenapa kau mendorongku seperti ini!"


Sekejap Bintang menghilang dua sosok makhluk besar mengerikan sudah berada di dekat Doan.Sosok dengan mata kuning dan tubuh gelap ditumbuhi berbulu.berbeda sekali dengan Doan.


"Kenapa tak mengabari kami, kau mau musnah!"hardik sosok yang menakutkan dengan mata tajamnya, membuat Doan menunduk takut.


Sosok yang lebih besar dengan sorot mata tajam itu membaui ruangan di sekitar Doan.


"Apa kau mencium wangi janin istriku?"


Sosok yang ternyata suami istri itu mengangguk, dan ia langsung menatap tajam Doan.


"Siapa dia nak?biar ibu mengenalnya!"


"Tidak ada bu, kalian salah itu hanya bau kakek tua itu.Kemarin ia datang dari mengobati seorang janin, mungkin karrna itu ibu mencium wanginya!"dusta Doan dengan suara sedikit bergetar.


Dua sosok itu seketika tertawa menakutkan, dan tentu saja Doan hanya meringis karna kedua orangtuanya tahu jika ia berdusta.


"Kau tahu nak ibumu akan berumur lebih panjang jika memakan janin suci!"


Doan hanya tertunduk mendengar ucapan ibunya, sungguh ia sayang pada orangtuanya tapi ia tak sanggup jika harus melihat Bintang menjadi santapan orangtuanya.


"Sungguh ibu aku tak tahu maksud kalian, aku sakit dan hanya sendiri"Doan mengeluh dengan wajah meringis menahan sakit di punggungnya.


"Di mana kau mendapatkan luka ini, manusia celaka aku akan membalas sakit di tubuh anakku!!!"suara menggelegar itu membuat gendang telinga Doan bergetar, jika manusia yang mendengarnya bisa pecah gendang telinganya.


Wajah Suro bapak dari Doan terlihat makin menakutkan, taring yang semula tak nampak terlihat panjang dari bagian atas gusinya.


"Jangan menangis nak, ibu akan menyembuhkan lukamu!"Wanita bersosok hitam berbulu itu bersila di belakang putranya.Matanya yang berkilat tajam seketika menutup.Entah apa yang dia baca untuk memulai sesuatu yang terlihat menjijikan, ia menjilati luka Doan dengan lidah panjang terjulur dipenuhi liur berwarna kuning menjijikan.


Doan menjerit kesakitan, raganya berubah menjadi kemerahan dan melemah.


"Manusia celaka aku akan menghancurkan keturunannya!!!"Suro mengumpat kasar dengan kaki menghentak membuat lantai rumah itu bergetar.


Inilah yang ditakuti Doan jika kedua orangtuanya melihat Bintang, tapi bukan hanya kedua orangtuanya.Semua bangsanya yang dewasa yang sudah diritualkan memakan janin suci, setelahnya mereka akan terbiasa.Dan suatu keharusan menyantap janin suci dalam sebuah ritual besar.


"Aku harus membuat cara agar Bintang tidak berdekatan dengan kami, karna nyawa Bintang akan musnah dan dia tak bisa abadi.


Raga Doan terkulai lemah tak sadarkan diri, itulah mengerikannya air panas bagi bangsa mereka.Dan tentu saja semua itu bukan mutlak kesalahan manusia.Kerena sejatinya tak semua manusia paham bahaya membuang air panas secara langsung ke bumi.


Di tempat berbeda seorang bocah kecil meringkuk dalam selimut yang sama dengan ibunya, wanita cantik yang tak menyadari keberadaan putranya.


Tubuh kecil itu bergetar, namun kasihan tak ada yang mendekapnya untuk sekedar menenangkan perasaan takutnya.


"Ibu aku takut"


"Deg"


Sukma tersentak dari tidurnya, matanya memindai semua yang ada di dalam kamarnya.


"Aku seperti jelas mendengar suara itu, siapa itu rasanya aneh jika itu bayiku. Bukankan baru dua bulan lebih ia meninggal, masa iya dia sudah bisa berbicara"batin Sukma galau.


"Tapi mengapa suara itu kerap datang setelah aku keguguran"


Sukma akhirnya kembali menarik selimut, ia tak mengetahui jika bocah kecil itu menangis ketakutan didekatnya.


"Ibu, sosok itu mengerikan.Apa karena itu Doan menyuruhku menjauh?"


Tangan kecil itu mengapai lengan ibunya, sekedar mencari pegangan agar rasa takut itu berkurang.


"Aku akan berusaha bisa bertemu kakek sakti itu, agar kelak aku bisa berinteraksi dengan ibu, walau dibawa alam sadarnya"


Tetes bening itu terus bergulir seiring isak tangisnya.


*****


"Apa surat pengadilan lagi!"geram Neti menuju dapur, ia sempat terkejut ketika kurir menyerahkan surat panggilan dari Pengadilan Agama.


Wanita itu menyulut api pada amplop yang bahkan tidak ia buka terlebih dahulu.


Neti mengibaskan kedua telapak tangannya puas melihat amplop itu terbakar habis.


Selang beberapa menit sang suami datang dari kerjanya, ia sedikit takut jika sang suami melihat ulahnya.Diliriknya kertas yang sudah menjadi abu, dan segera ia meraih sapu dan membersihkannya.


"Kau masak apa yang?, aku lapar"suara Afit terdengar pelan.


"Mandilah dulu kak, aku hangatkan masakan untukmu!"


Afit mengangguk, dengan lesu menuju kamar mandi, kebetulan hari ini ia shif pagi.


"Ada apa dengannya, terlihat lesu begitu?"


Lima belas menit kemudian, Afit sedang menikmati makanannya.Terlihat ia makan tanpa semangat walau perutnya terasa lapar.


"Ada apa kak?"


Afit tersenyum tipis dan membasuh tangannya dengan air dalam kobokan.Ia meminta Neti duduk dihadapannya.


"Dek di tempat kerja ada pengurangan tenaga, dan paling banyak terjadi dibagian produksi, sepertinya aku bakal di phk"gumannya lirih.


Neti tersentak mendengar ucapan suaminya."Terus bagaimana hidup kita selanjutnya kak!"


"Aku akan cari kerja baru jika di phk, banyak saja perusahaan di daerah ini"terang Afit yang membuat Neti tersenyum.


"Kau harus bekerja memang kak,bagaimana dengan anakmu ini jika kau tidak bekerja?"Neti menatap sedih pada perut yang dielusnya.


"Nanti setelah magrib aku akan ke rumah formenku, membicarakan masalah ini"Neti mengangguk saja mendengar ucapan Afit.


******


Sukma melangkah keluar dari gedung Pengadilan Agama dengan senyum samar, "Sekali lagi kau tidak datang, hakim akan menjatuhkan putusan cerai kita, semoga sidang berikutnya kau tetap tak hadir, agar urusan ini cepat selesai"


Sukma tersenyum kecut melihat David sudah stand by di parkiran gedung Pengadilan Agama.Lelaki 42 tahun itu tersenyum manis dan melambaikan tangannya melihat wanita cantik yang selalu menganggu pikiran dan perasaannya akhir-akhir ini.


Sukma bergegas masuk ke mobil David, ia malas berdebat dengan David yang semaunya.Ia tahu jika semua urusan dilengadilan sudah dihandle oleh orang David.Sehingga lelaki itu tahu apa pun yang bersangkutan dengan sidang perceraiannya.


David menunduk kearah Sukma, tangannya perlahan memasang safety belt didekat wanita cantik itu.


"Selesai, upahnya"


Sukma tersentak ketika David sudah mengulum lembut bibirnya.Lelaki gagah itu tersenyum jahil dan kembali memberi kecupan singkat di bibir Sukma.


"Manis"Sukma yang masih terkejut belum merespon sepenuhnya, tapi detik berikut tangan lentik wanita cantik itu sudah bersemayam di pinggang David.


"Aaawwwwuu sakit sayangku"


"Itu akibat usil"Sukma tersenyum samar dan membuang wajah ke arah jendela mobil di sampingnya ketika David mulai melajukan mobilnya.


"Mas kangen sayang"


Sukma hanya melirik lelaki gagah di sampingnya, terlintas dipikirannya perihal David.


"Sejauh ini aku tak tahu kehidupan pribadinya, apakah dia beristri?tapi pastinya sudah karena lelaki mapan dan segagah dia tak mungkin belum menikah, tapi kenapa dia begitu santai hidupnya, seperti istrinya tak perduli akan kelakuannya"


"Jangan bengong! kau tahu kemarin ayam tetanggaku mati karena kebanyakan melamun"


"Nggak lucu, aku lelah"Sukma menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil, mata indah wanita itu terpejam. David yang menatapnya meneguk salivanya, bagaimana tidak? leher jenjang nan mulus itu terlihat mengodanya.


"Yang kita ke rumahku yuk?"


Sukma merubah posisi duduknya menghadap David, wanita cantik itu menatap intens lelaki di sampingnya.


"Kau ingin mengenalkan aku pada istrimu?"


"Deeeg"


Wajah David terlihat berubah tegang, hingga tanpa sadar, kakinya menginjak rem.


"Cciiiiiiiitttt!!!!"


BERSAMBUNG