
Di tempat berbeda Zain baru tiba di rumah mertuanya, lelaki itu terlihat berbeda di mata Sukma, Zain yang tak biasanya diam jika sudah bertemu dengannya.Biasanya lelaki itu selalu senang mengodanya.Tapi malam ini setelah mandi ia langsung masuk kamar untuk tidur, bahkan ia menolak untuk makan malam yang ditawarkan sang istri.
"Ada apa dengannya?sikapnya tak seperti biasa"
"Apa ada masalah dengan klien yang ia temui?"pertanyaan di kepala Sukma terus berputar untuk ia ungkapkan.Namun melihat sang suami yang memunggungi nya terlihat sudah tertidur, wanita cantik itu mengurungkan niatnya.
Sukma akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Zain.tak lama terdengar suara dengkuran lembut.Wanita cantik itu tertidur dengan memeluk guling menghadap sang suami.
"Maafkan aku dek"
Hari menjelang pagi mentari menyapa dengan malu-malu.Di kediaman mak Nah seperti biasa rutinitas pagi hari.Sukma telah selesai membuat sarapan untuk semua anggota keluarga.Setelah mandi ia menikmati sarapan bersama keluarga termasuk sicantik Arum yang terlihat sudah mandi dan wangi minyak kayu putih.Selesai dengan sarapan paginya Sukma dan Zain berangkat ke kantor, seperti biasa Sukma tetap turun di tempat biasanya sedikit jauh dari gerbang perkantoran.
"Dek nanti mas masih menyelesaikan pembicaraan dengan klien yang tertunda kemarin"izin Zain ketika Sukma hendak turun dari mobil.
"Iya nggak apa, saya nanti bisa pulang sendiri"Sukma tersenyum sembari menganggukan kepala sebagai tanda ia berpamitan.
Wanita cantik itu terus melangkah menuju perusahaan tempatnya bekerja yang jaraknya tak jauh lagi.
Sukma telah tiba di ruangannya, terlihat sepi karena memang ia memiliki ruangan tersendiri semenjak jabatannya naik. Wanita cantik itu gegas menuju kursinya dan membuka berkas yang harus ia selesaikan.Entah mengapa Sukma merasakan nafasnya terasa tercekat, ia merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Ada apa ini, kenapa tubuhku seakan remuk begini?"
"Tak ada yang salah dengan makanan pagi tadi, bahkan aku tak melakukan pekerjaan yang membuat tubuhku seremuk ini, kenapa tiba-tiba merasakan sakit begini"
"Ibuuu..ibu hick..hick..hick"tengkuk wanita cantik itu mendadak merinding, suara bocah itu kembali lagi, tapi mengapa ia menangis?"
Sukma berusaha keluar dari ruangannya, ia merasakan hawa aneh mengurungnya. Beruntung ia dapat meraih handle pintu, dan setelahnya ia menghirup udara yang jauh berbeda dengan udara dalam ruang kerjanya.
"Kau kena...pa?"
"A S T A G A...kenapa mengejutkan!!!" suara Sukma yang nyaring mengejutkan Emil, lelaki itu sama dengan Sukma, mengelus dadanya yang berdetak kencang.
Setelah rasa terkejut itu terurai, Emil kembali bersuara, walau terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
"Maaf bu saya tadi melihat ibu seperti sakit, jadi saya bertanya"
"Aku tidak apa, hanya gerah saja"
"Gerah?kenapa tidak menambahkan volume ac nya agar lebih dingin"Emil menatap bingung pada wanita cantik di hadapannya, setelahnya lelaki itu menjauhi Sukma menuju ruangannya.
Sukma kembali menghirup nafas lega, ia berjalan mendekat ke arah pintu ruangannya, Entah kenapa perasaannya menjadi takut.Wanita itu mendorong perlahan pintu ruangannya, dan menelisik isi ruangan tak ada sesuatu yang janggal di dalam sana, tapi kenapa pikirannya merasakan sesuatu yang aneh.
"Ibu..ibuuu...!"Sukma menjauh menuju ruangan kerja Emil, lelaki itu terkejut melihat kedatangan Sukma yang seperti hantu.Apa lagi wajah wanita cantik itu terlihat pucat.
"Biarkan aku di sini sebentar pak"Sukma tak mampu berbicara lebih, ia takut Emil tak percaya padanya jika ia bercerita perihal ruang kerjanya.Emil hanya mengangguk dan kembali focus pada berkas yang menggunung di hadapannya.
Perlu waktu lama untuk Sukma mengembalikan perasaan beraninya, hingga satu jam berlalu wanita cantik itu berpamitan kembali ke ruangannya.
"Pak Emil terimakasih, saya pamit!"
Sukma bergegas menuju ruangannya tanpa menunggu jawaban Emil, syukurlah ia merasakan hawa di ruangannya seperti semula.Wanita itu cepat menyelesaikan berkasnya dan bergegas menuju laboratorium pengujian sample produk.
Wanita cantik itu merasa ada yang sedang mengawasinya, namun ia sendiri tak tahu siapa.Langkah kaki wanita cantik itu terlihat panjang-panjang seolah ia diikuti oleh seseorang, namun tak kasat mata.
"Dia akan jadi milikku!"suara tanpa jasad itu mengema di lorong perkantoran yang membawa Sukma menuju lab.Suara yang hanya bisa di dengara manusia yang memiliki kelebihan indera ke 6.
"Bagaimana ini Wan?"Doan menatap tubuh lemah Bintang, bocah itu sempat tercabik karena serangan anak buah Barca dan saat ini tubuh Bintang demam tinggi yang membuat bocah tampan itu tak sadarkan diri.
"Kita harus mencari penawar racun yang sudah masuk ke dalam tubuhnya, kau tahu tiga makhluk tadi memiliki racun disetiap kuku dan taringnya"
"Siapa pemilik penawar racun itu?"Awan tercenung, di alam barca memang bukan alamnya.Sekejap Awan menatap Doan.
"Bukankah dia penghuni alam barca?"batin Awan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau dari alam ini kan?"Doan terkesiap.Sungguh ia lupa bahwa ini tempatnya, terlalu lama tinggal di alam manusia membuatnya lupa akan asalnya.
"Iya, aku lupa"
"Carilah penawarnya, aku yakin orangtuamu memilikinya"Doan terbelalak mendengar ucapan Awan, artinya ia harus pulang ke rumah.Oh orangtuanya bakal tahu jika Bintang ikut bersamanya.
"Jangan khawatir..aku akan membuatnya tak dapat mengendus wanginya"
Doan menatap bocah gundul dengan mata merah itu.Awan memiliki kelebihan yang jauh dari pemikirannya.
"Baiklah..jaga mereka berdua!"Doan melesat menjauhi mereka, ia ingin segera mendapatkan penawar itu karena janjinya yang akan selalu menjaga Bintang.
Di tempat berbeda seorang lelaki tampan terlihat memasuki loby hotel.Langkah kakinya terlihat mantap menuju lantai 5 kamar 407.Kamar seorang wanita cantik yang pernah mengisi hatinya.
Beberapa menit kemudian lelaki itu telah sampai di depan pintu kamar hotel.Dalam hitungan detik keberadaan Zain di depan kamar 407, pintu kamar itu membuka nampak seorang wanita cantik masih mengenakan gaun tidur tersenyum manis padanya.
BERSAMBUNG