Dia Ibuku

Dia Ibuku
Perasaan Sukma


"Jangan pikirkan yang buruk, berpikirlah jika kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan!"Restu mengingatkan Petir yang terlihat tak yakin, ya Restu tahu sifat Petir yang bukan hanya penakut tapi juga gegabah.


Dua bocah itu akhirnya berpisah dan kembali ke tempat tinggal mereka.


"Mereka merencanakan perjalanan jauh?apa maksudnya?"sosok yang sedari tadi menyimak percakapan mereka tiba-tiba menyeruak dari dalam danau.


Tubuh itu terlihat tinggi menjulang, jika dilihat jauh lebih tinggi dari pepohonan di pinggir danau, degan kulit hitam bersisik , membuat sosok itu terlihat mengerikan.


"Anak-anak nakal itu biarlah pergi jauh, tapi sosok janin suci itu, ehhmm..aku sudah lama menginginkannya"


"Sulit sekali mendekati anak kecil itu, karena sosok iblis kecil itu selalu bersamanya"suara menggeram karena amarah itu membuat air danau bergetar dan beriak gelombang.


"Sial aku tak bisa pergi jauh dari danau ini, orangtua itu membuatku tak berdaya"sosok tinggi menjulang itu kembali menenggelamkan tubuhnya ke dasar danau.


*****


"Nak biarkan suamimu tinggal disini, toh kalian sudah sah, terlalu lama berpisah nanti pamali"


Mak Nah menasehati putrinya malam itu di dalam kamar Sukma, ketika Zain mengantarnya pulang dari kerja.Lelaki tampan itu asik bermain dengan Arum di ruang tamu.


"Tapi mak kami belum menikah secara hukum"elak Sukma.


"Tidak apalah, toh tetangga juga pada tahu jika ia suamimu"kekeh mak Nah.


"Sudah siapkan saja makan malam, mak akan memanggil suami dan anakmu!"suara mak Nah tegas dan itu cukup membuat Sukma sadar, jika emaknya tak mau berdebat lebih panjang.


Beberapa menit kemudian mereka makan dengan lahap, sesekali terselip gurauan diantara pembicaraan mereka, tentu antara mak Nah dan Zain.


"Nak Zai mulai malam ini tinggallah disini, pamali suami istri terpisah rumah terlalu lama"


Zain menatap kearah istrinya, wanita cantik itu asik memberesi piring sisa makan.Zain ingin melihat reaksi istrinya atas perintah emak, namun sepertinya istri cantiknya itu tak terlalu peduli.


"Kamu nggak usah mikir istrimu, dia tadi sudah setuju, makanya segera disahkan pernikahan kalian!"


Zain hanya mengangguk mendengar ucapan mak Nah.


Beberapa puluh menit kemudian, mak Nah sudah membawa Arum keperaduan, dan pesannya sebelum masuk kamar cukup membuat Sukma wajib patuh.


"Perlakukan suamimu dengan baik, ingat nak dia punya hak atas dirimu!"


Sukma menghela nafas panjang, wanita cantik itu bingung melihat keadaan kamarnya.


"Tak mungkin mas Zain tidur di bawa, lantai di rumah ini tidak layak untuk ditiduri, aku terpaksa harus berbagi ranjang dengannya"batin Sukma.


"Belum tidur sayang"Sukma tercekat merasakan tubuh dingin suaminya yang mendekapnya tiba-tiba dari belakang.


"Mas habis mandi malam-malam begini?"


"Iya sayangku, gerah dari pulang kantor tadi"


"Ayo kita tidur mas, aku lelah"Sukma melepas pelukan suaminya dan gegas naik keranjang, ditariknya selimut satu-satunya yang ia miliki hingga menutupi bagian dadanya.


Zain hanya tersenyum kecut atas penolakan istrinya, ia sadar istrinya belum sepenuhnya bisa menerima pernikahan sirih mereka.


Lelaki itu akhirnya ikut naik ke ranjang, tidur di samping istrinya rasanya sudah cukup untuk malam ini, entahlah untuk malam-malam selanjutnya apakah ia akan bisa menahan diri.


"Maaf mas, aku belum bisa"batin Sukma merasa bersalah pada suaminya.


Wanita itu menatap nanar kearah wajah tampan yang begitu dekat di hadapannya.


Sekilas Sukma mengingat kejadian siang tadi di kantor, ketika David menyuruhnya menghadap.


Wanita cantik itu menahan nafas, mengingat apa yang ia lakukan dengan bos tampannya itu.


"Janji saya sudah saya penuhi pak, tidak ada lagi yang bisa bapak tagih"elak Sukma ketika David hendak meminta dirinya.


"Kau sudah jadi milikku, dan selamanya aku tak akan melepaskanmu!"


David menarik tubuh hangat Sukma ke dalam pelukannya, wanita cantik itu mencoba berontak, namun tenaga David begitu kuat.


Sukma terus berontak disaat tubuh polosnya terus dicumbu David, hidangan pembuka yang dilakukan David membuat tubuh wanita cantik itu bergetar hebat, nafas Sukma tak beraturan membuat dadanya kembang kempis.


Saat David hendak melakukan penyatuan, Sukma gegas terduduk.


"Aku tak mau lebih dari hidangan pembuka, selama kau masih beristri.Biar aku melakukan dengan caraku!"


Sukma langsung memposisikan diri membantu melepas hasrat David, lelaki itu tak berkutik, ia akhirnya pasrah akan semua kegilaan Sukma untuk memberikan hidangan pembuka yang mengeyangkan.


"Maafkan aku mas, aku ini kotor.Aku bahkan menyukai lelaki lain disaat aku sudah jadi istrimu"isak Sukma tertahan, ia memunggungi tubuh suaminya.Wanita cantik itu menahan tangisnya dengan bantal, ia tak mau sang suami terbangun karena tangisnya.


Sukma tersentak ketika tangan hangat itu mendekapnya, ia menarik nafas lega ketika mendengar suara nafas beraturan dari suaminya.


Tanpa sadar ia mengelus lembut punggung tangan sang suami.senyum tipis tersemat dari bibir tipis Zain.


"Sabarlah akan indah pada waktunya"


*****


"Terima kasih mas"Neti bergelayut di lengan kekar lelaki yang baru saja menyodotkan lima lembar uang merah padanya.


"Minggu depan aku ingin kau menemaniku lagi, bisa?"


Neti mengangguk cepat membuat lelaki setengah baya itu terbahak.


"Aku balik ya say"Neti berlalu dari mess karyawan, senyumnya terus mengembang.


*****


"Kami harus kembali, ingat jangan melakukan sesuatu yang dapat membuatmu celaka!"suara suro terdengar mengelegar di rumah tua itu.


Dalam sekejap kedua sosok itu menghilang dari pandangan Doan, anak lelaki itu mengeluh atas sikap orangtuanya.


"Begitulah orangtua nak, kau hanya harus diam mendengarkan ucapan mereka"suara tenang itu mengema ringan di rumah tua itu.


"Oh kakek maafkan atas ucapanku waktu itu"


Sosok tua itu terkekeh hingga tubuhnya bergetar.Dia kakek Jafar penghuni tertua di rumah ini.


"Tak apa, aku tahu kau melakukannya untuk melindungi bocah itu"


"Iya kek aku kasihan padanya, ia ingin bisa melindungi ibunya"Kakek Jafar penghuni rumah tua itu menghela nafasnya kasar.


"Semoga keinginannya tercapai"suara kakek Jafar terdengar pasrah, Doan tahu maksud ucapan kakek Jafar.Ia hanya mengangguk pelan tanpa menjawab lagi.


"Dia ingin bertemu denganmu kek, dia senang sekali ketika aku katakan kakek sama dengannya"kakek Jafar tersenyum.


"Ajaklah dia kemari, aku pun ingin mengenal bocah itu!"Doan mengangguk cepat, ia ingin segera mengunjungi Bintang dan mengajaknya bertemu dengan kakek Jafar.


Di tempat berbeda Sukma mencoba menghindari David, ia berusaha untuk tak sering bertemu lelaki itu.Terus terang saja hatinya mudah goyang jika berdekatan dengan David.


"Ada apa bu?"Seorang karyawati ikut celingukan melihat Sukma yang bersembunyi dibalik pilar devisi keuangan.


"Tidak ada, hanya lelah saja"elak Sukma yang membuat karyawati itu segera pamit menjauh.


"Maaf bu, saya kira ibu mencari seseorang.Kalau begitu saya permisi bu"


Sukma mengangguk dan kembali menyandarkan tubuhnya di pilar yang menghalangi pandangan dari arah David tadi berjalan.


"Syukurlah dia sudah pergi"Sukma bergegas menuju jalan keluar karena ia harus melakukan survey ke lapangan.


Wajah tampan dengan tubuh gagah itu terlihat tegang, ia merasa kehilangan seseorang.Sejak ia mengurung Sukma di ruangannya hari itu, wanita cantik itu sulit ia temui.


"Sebentar"David menghentikan langkahnya, tangannya meraih benda kecil yang bergetar di saku jasnya.


"Ada apa?baiklah aku akan pulang!"


BERSAMBUNG