Dia Ibuku

Dia Ibuku
Pertemuan di Rumah Makan


Beberapa menit kemudian lelaki itu masih tak juga menemukan apa yang ia cari, bagaimana bisa ketemu jika pikirannya berfocus pada tubuh molek Renata yang membuatnya panas dingin.


Renata turun perlahan dari ranjang dan gegas mengunci pintu kamar, setelahnya melangkah pelan ke arah David.Tubuh lelaki 42 tahun itu menegang ketika merasakan dua benda kenyal nan lembut menempel di punggungnya serta wangi yang menguar dari tubuh wanita yang sekarang ada di belakangnya membuat gai rah lelakinya bangkit.


"Belum ketemu kak?"suara lembut mendayu membuat David makin tak kuasa menahan diri.


Lelaki itu membalik badan dan saat ini matanya bersirobok dengan mata wanita cantik yang dipilihkan sang istri untuk jadi istri ke duanya.


"B b e lum Re.."mata David tak berkedip melihat wajah cantik Renata, yang begitu dekat dengan wajahnya dan begitu mendebarkan hatinya, hingga lelaki tampan itu mengalihkan tatapan ke bawah.Dan sialnya ia justru terjebak karena pemandangan di bawah malah membuat tubuhnya bergetar hebat dan jangan tanya kepemilikannya yang sudah mengeras sempurna.Dua gundukan mulus yang membusung itu terlihat menantang dirinya.


Renata sengaja memelukkan satu tangannya pada pinggang David dan tangan satunya seakan-akan ikut mencari apa yang diperlukan David, sinyal yang diberikan Renata bagai lampu hijau untuknya.


Entah siapa yang mulai mereka sudah saling pagut dengan liar.Tak lama David mendudukkan bokongnya di kursi rias yang bersebelahan dengan lemari, dan tangannya merengkuh erat pinggang Renata, yang ia duduknya di pangkuannya.


Setelahnya ruangan kamar itu dipenuhi suara-suara yang tak layak didengar anak di bawah umur, David yang merasa terbakar gai rah seperti tak bisa berpikir lain, yang ia butuhkan saat ini hanya wanita cantik di hadapannya. David terus memacu Renata untuk menikmati surga dunia bersamanya.


"Kau masih menjaga dirimu dengan baik Re, aku bangga menjadi yang pertama untukmu"bisik David mesra.


"Aku menjaganya untukmu kak, karena aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu"


"Terimakasih cantik..aku menyukainya, enak sekali milikmu"bisik David seraya mengulum daun telinga Renata.


Malam itu David dan Renata bagai menikmati malam pertama mereka, hanya sekali David mengecek istrinya yang sudah pulas tertidur, setelahnya ia kembali masuk dalam selimut yang sama dengan Renata.


"Pagi Re.."senyum tersungging di bibir Danis menatap rambut Renata dan sang suami yang basah.Jika Renata santai bahkan terkesan acuh, tidak demikian dengan David, ia merasa serba salah.Lelaki itu merasakan jantungnya berdegup kencang takut jika kegiatannya semalam diketahui istrinya.


"Pagi kak, bagaimana tidurmu?"Renata mencoba berbasa-basi.


"Tidurku nyenyak sekali Re.."Danis menatap sang suami seraya tersenyum.Dan David membalasnya dengan takut-takut.


"Syukurlah..ayo kak makan!"Renata menyodorkan piring yang sudah ia isi dengan sarapan pagi yang ada di meja makan.Nasi goreng seafood.


Suasana di meja makan itu terlihat hangat, karena Danis senang rencananya bersama adik sepupunya berhasil, sebentar lagi ia akan membuat wanita simpanan sang suami menjauh selamanya.


"Sayang aku berangkat kerja ya?"Danis tersenyum dan mengangguk.David meninggalkan ruang makan dan menghilang di balik tirai pembatas ruang.


"Kak sebentar ya"Re berlari menjauhi Danis yang bahkan belum sempat berbicara apa pun padanya.


"Eh sebentar kak, itu dasinya mereng". Tanpa menunggu jawaban David, wanita cantik itu sudah merapikan dasi lelaki yang semalam menjadikan dirinya wanita seutuhnya.


"Cup"Renata berlari menjauhi David setelah sebuah kecupan singkat ia layangkan ke bibir suami kakak sepupunya.


Jantung lelaki 42 tahun itu berdebar riuh, perlakuan manis Renata membuatnya tersenyum simpul.


Di tempat berbeda Sukma duduk di kursi kerjanya dengan tatapan sendu ke arah lelaki dihadapannya.Lelaki yang semalaman membuat dirinya gelisah dan tak bisa tidur.


"Maafkan mas dek"suara Zain terdengar lirih.


ucapan lirih itu cukup menohok perasaan Zain, sungguh ia merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi dan ia betul-betul tak ingat apa pun saat berdua Maysa.


"Aku ada survei lapangan, maaf tak bisa menemani mas ngobrol!"Sukma meraih berkas dan tas kerjanya, wanita cantik itu berjalan santai meninggalkan suaminya yang masih termanggu di kursinya.


Sukma bukan marah karena Zain tak memikirkan perasaannya, tapi yang ia pedulikan perasaan emaknya.Tadi pagi emaknya menanyakan sang mantu kesayangan dan terus menyalahkan dirinya yang dinilai tak peduli pada suami.


Sukma menggeleng pelan atas apa yang terjadi antara dirinya dan sang suami.Ia tak menampik jika dirinya bersalah pada suami, ia sangat salah karena menduakan suaminya.Tapi saat ini ia sudah berusaha menerima sang suami, buktinya ia sudah bersedia melayani kebutuhan batin suaminya.Tapi jika usahanya dianggap masih kurang ia tak bisa memaksakan diri menahan Zain, karena dirinya sendiri sadar belum bisa seratus persen menjadi istri seutuhnya untuk Zain.


Setelah Sukma meninggalkan lelaki tampan itu, Zain hanya diam menatap langit-langit di ruangan kerja sang istri.Perasaan bersalah sekelebat menghampiri perasaannya, apalagi pada emak dan Arum, yang sampai saat ini belum ada bertemu.Zain mengacak kasar rambutnya, laki itu bahkan menyetujui sang mantan yang ingin menginap di rumah mereka dulu, rumah yang masih dijaga baik oleh Zain.


"Aku tak tahu apa ini hanya nafsu semata atau memang jalan Tuhan untuk aku dan May bersama, karena keinginanku mengikat Sukma dalam ikatan resmi sepertinya sama sekali tak dianggap olehnya. Sebagai lelaki aku merasa terabaikan namun aku tak bisa memaksakan kemauanku pada wanita yang sampai saat ini belum bisa membuka hatinya untukku"batin Zain lirih.


Suara dering benda kecil yang sedang diminati banyak orang itu menyentak lamunan Zain, nomor sang mantan istri nampak di layar.sebuah panggilan telpon segera di terima.


"Kak aku sudah siap nih!"suara lembut mendayu membuat Zain terhanyut.


"Iya sayang tunggu saat istirahat siang aku jemput, sebentar lagi ya"


-


-


-


"Aku tunggu jangan lama ya"Zain mengiyakan keinginan sang mantan, lelaki itu gegas keluar dari ruang kerja istrinya menuju ruangannya.


Di tempat berbeda Sukma melakukan survei lapangan bersama dua rekannya, wanita cantik itu berusaha melupakan masalahnya, masalah dengan lelaki yang saat ini menjadi suaminya, walau hanya suami sirih bukan berarti statusnya lebih rendah di mata Tuhan, karna yang berpikir seperti itu hanya manusia.


"Bu sepertinya ada masalah dengan produk baru yang diajukan tim A, saya sempat cek komposisinya ada yang tak beres"Boby menyerahkan hasil pantauannya pada Sukma, terlihat wanita cantik itu meneliti berkas yang disodorkan Boby.


"Besok kita bicarakan ini di ruangan kerjaku"Sukma menyerahkan kembali berkas itu pada Boby.


"Ayo kita cari makan dulu!"Boby dan rekannya mengangguk, mereka bertiga segera menuju ke parkiran di mana mobil Boby terparkir.


Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah makan yang tidak terlalu ramai pengunjung.Mereka memilih tempat di pojok yang tak terlalu terlihat karena beberapa pot tanaman hias yang membatasi pandangan, namun pandangan mereka dari arah pojok sendiri cukup luas.


Selang lima menit minuman pesanan mereka diantarkan oleh pelayan, Sukma dan kedua rekannya langsung menikmatinya, pandangan Sukma beralih pada suasana rumah makan yang mulai ramai pengunjung.Tak sadar pandangannya menatap ke arah pintu masuk.


"DEG!"


Dada Sukma bergetar hebat melihat pasangan yang menyita perhatian beberapa orang yang kebetulan menatap ke arah yang sama dengan Sukma.


BERSAMBUNG