
MOHON MAAF ATAS PERUBAHAN JUDUL,SRBENARNYA INI JUDUL AWAL NAMUN KARENA AUTHOR GALAU JADILAH JUDUL BINTANG..TAPI SEIRING PERJALANAN BAB..SEPERTINYA JUDUL AWAL LEBIH TEPAT.
MAAF ATAS KETIDAK NYAMANANNYA🙏
Tes..bulir bening itu mengiringi sesak di dada wanita yang masih berpakaian lengkap, hanya cd nya yang sudah teronggok di lantai.
"Kenapa ibu menangis?siapa lelaki itu yang sudah membuat ibuku menangis!"
Bocah tampan itu menatap marah wajah Afit yang segera membaringkan tubuhnya selesai menuntaskan hasratnya barusan.
Bocah itu menatap sedih wajah cantik yang sembab oleh airmata, tangan kecilnya mencoba menghapus bulir bening yang terus mengalir dari mata indah ibunya.
"Kenapa tak bisa?"keluhnya dengan tangis kesal.Telapak tangan itu akhirnya mengepal erat.
"Ibuuu"gumannya lirih
"Deg"
Sukma tersentak mendengar panggilan yang kerap ia dengar.Matanya menelisik disekitar kamar.
"Suara itu lagi"batinnya pilu.
"Benarkah itu panggilan anakku, apakah aku harus cerita padanya"
Sukma menatap punggung suaminya lelaki itu sudah mendengkur halus sepertinya ia benar-benar sudah terlelap.
"Tapi kak Afit tak akan peduli, pada putrinya saja dia tak ada mendekati"
Sukma teringat ucapan emaknya yang protes prihal kelakuan suaminya yang tak sama sekali mau mengambil putrinya untuk sekedar bermain melepas rindu.
Hari menjelang pagi, mentari terlihat terik memasuki cela dinding kamar, Sukma menatap sang suami yang sudah siap untuk kembali ketempat kerjanya.
"Aku jalan, bulan depan sepertinya aku tak bisa pulang, aku akan kirim uangnya lewat pos"Afit berjalan keluar kamar.Sukma tak menyahuti ucapan suaminya, ia hanya menatap malas punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu.
Afit meninggalkan rumah mertuanya dengan ojek, ia tak menunggu mertuanya yang keluar bersama putrinya entah kemana.Rasanya malas melihat wajah ketus mertuanya itu.
*****
Tak terasa sudah seminggu sejak Afit kembali ke tempat ia bekerja, Sukma menjalani kehidupannya lebih giat lagi, ia sudah tahu suaminya mendua di daerah orang dan perasaan suaminya lebih berat ke wanita bernama Neti itu.
Sukma bukan membenarkan ucapan emaknya perihal suami yang sering kali emaknya ingatkan padanya.
"Suami itu jika dirumah, jika diluar rumah dia orang lain!"
Terus apa arti pernikahan jika pemikiran seperti itu, jika menurut emaknya turun temurun seperti itu, Sukma akan memutusnya mulai saat ini.
Jika lelaki bernama suami sudah melanggar janji suci pernikahan, lebih baik jalan masing-masing saja.
Mungkin ada yang harus ia lakukan sesuai ucapan emaknya, mencari tahu hubungan seperti apa yang terjalin antara suaminya dengan wanita bernama Neti?.
"Jangan melamun jika bekerja, kau bisa terluka karna mesin itu!"
Sukma tersentak mendengar suara seperti bisikan yang menghembus aroma mint.
"Kalau lelah istirahat saja aku tak mau kau terluka"kembali peringatan dengan suara lembut itu menyapa pendengaran Sukma.
Sukma melengos menghindari atasannya, siapa lagi jika bukan Zain.
"Bapak bisa jauhan nggak, saya lagi kerja nih pak!"ketus Sukma tanpa menatap wajah lelaki yang lama menaruh hati padanya.
Zain tersenyum kecil, ia sedikit menjauh dari Sukma.Namun tak lama suara panggilan atas nama Zain, membuat lelaki itu menjauhi Sukma.
"Pak Zain bisa bicara sebentar!"
Zain mengangguk dan medekati asisten Big bosnya.
"Pak David menyuruh saya memanggil bapak, beliau menunggu di ruangannya!"
Zain mengiyakan dan beriringan menuju ruang direktur utama.
Tak lama mereka sudah berada di ruangan Pak David, lelaki berusia 42 tahun itu terlihat masih gagah.Ia tersenyum dan memeluk Zain sembari mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya.
"Begini Zai, aku ingin lusa kau berangkat ke kantor kita di selatan, aku mendapat laporan yang kurang baik bagi perkembangan perusahaan"
Zain menatap ragu pada bosnya. David terkekeh melihat wajah Zain yang terlihat galau.
"Bukan itu kak, tapi...?"
"Kau belum mendapatkannya, kukira sudah sampai ranjang!"kelakar David memanas-manasi Zain.
David memang selalu bersikap begitu pada Zain, terlepas Zain adalah adik sepupunya.Zain juga kawan yang enak diajak bercandaan, dan sangat pintar menjaga rahasia.
"Jangan focus pada satu wanita Zai, buat hidupmu senang.Kau masih muda"
David menepuk pelan pundak Zain.
Zain akhirnya menerima bujukan saudara sepupunya,dan ia siap berangkat lusa.Sepeninggalan Zain David menatap asistennya.
"Mana cv yang kuminta!"
Emil memberikan map yang diminta bosnya, dan melihat reaksi bosnya yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Baguslah..aku akan mengajaknya ke tempat suaminya bekerja"guman David lirih.
Beberapa hari kemudian, waktu sudah menunjukan jam pulang bagi karyawan, semua karyawan keluar dari kantor, namun berbeda dengan Sukma.Wanita cantik itu justru berjalan beriringan dengan Emil asisten David.
"Silahkan bapak menunggu di dalam!"Sukma mengangguk dan tangannya perlahan mendorong pintu yang tersemat tulisan Ruang Direktur dibagian depan pintu.
David terpaku melihat wajah cantik Sukma, wajah cantik alami tanpa polesan namun terlihat sangat cantik.
"Pantas Zain tergila-gila padanya"batin David kagum.
David mempersilahkan Sukma duduk di sofa, mereka duduk di sofa yang beda.David mencuri pandang wanita cantik di hadapannya.
"Gila terlihat sempurna banget, tubuhnya yang indah dengan wajah sangat cantik, bisa aku terpincut juga nih"batin David terus focus pada wanita cantik dihadapannya.
"Maaf pak..ada perlu apa saya dipanggil menghadap?"
David gelagapan mendengar pertanyaan Sukma, namun beberpa menit kemudian ia mulai focus pada tujuannya.
"Kau tahu pak Zain?"
David mengamati perubahan ekpresi wajah Sukma yang semua terkejut dengan cepat kembali santai.
"Dia atasan saya pak"
"Hanya atasan?"
"Maksud bapak?"
Sukma memberanikan diri menatap mata David, ia kesal jika Direkturnya berpikir ia punya hubungan dengan Zain.
"Tidak ada, saya hanya mendengar rumor di kantor saja"David berusaha bersikap santai , walau jantungnya berdebur bagai ombak pantai, Sungguh tatapan mata indah Sukma membuatnya gemetaran.
"Maaf mbak Sukma, saya memanggil bukan karrna hal itu saya tidak pernah mengurusi masalah pribadi karyawan saya, saya memanggil mbak karena ada tugas yang harus mbak lakukan, tadi itu hanya sekedar bercanda biar lebih santai saja!"
Sukma menatap Bosnya dengan tatapan bingung, ia belum paham maksud Pak David.David terkekeh melihat raut mengemaskan wanita cantik di hadapannya.
"Begini mbak, besok mbak Sukma ke perusahaan saya yang ada di selatan, ada masalah dibagian produksi.Saya mau mbak Sukma melalukan pengecekan disana!"
Sukma menatap bosnya bingung, pikirnya ini bukan ranahnya.Aneh saja...
"Maaf pak tap..."
"Disini mbak sebagai orang produksi, pasti tahu masalah ini, ada bonus besar jika mbak berhasil"
David mengedipkan matanya dengan senyum manis yang membentuk cekung dalam di kedua pipinya.
Dada Sukma bergemuruh seiring kedipan mata dan senyum manis bosnya.Wanita cantik itu masih tidak percaya jika ia diberi tugas luar.Biasanya ini tugas para kabag bukan ia yang sekedar karyawan.
"Lalu saya berangkat dengan siapa pak?"
"Saya.."
"Deg"
Sukma dan Emil yang kebetulan masih berada di ruangan itu terkejut mendengar jawaban Pak David.
BERSAMBUNG