Dia Ibuku

Dia Ibuku
Airmata Ibu Kesakitanku


Sukma menghela nafas yang membuat sesak di dadanya melega, pikirnya seperti mencari sesuatu dan tak sadar bibirnya merapal.


"Namamu BINTANG sayang"


"Namaku BINTANG"senyum manis itu mengembang dibibir tipis dan merah dari bocah yang terlihat seperti berusia 4 tahunan itu.


Waktu terus bergulir, dan Sukma mulai kembali bekerja.Pekerjaan sebagai karyawan pabrik dengan upah yang tidak seberapa, namun cukup untuk membuat dapurnya mengepul sembari menunggu sang suami balek membawa hasil kerja, yang terus terang belum mencukupi kebutuhan hidup.Dan hal itu tak membuat Sukma mengeluh pada sang suami, karena wanita cantik itu selalu bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan.


"Sudah sehat Ma?"


Sukma hanya mengangguk dan tersenyum tipis atas pertanyaan formennya.Lelaki yang terlihat jelas menyukainya.Namun Sukma tak pernah menanggapi duda berusia kepala tiga itu.


"Ma kamu sudah sehat?"tiba-tiba seorang wanita sudah berada diantara mereka.


"Iya Bil , ayo!"


Sukma menarik tangan Bila teman kerjanya dan segera pamit pada Pak Zain.Lelaki itu belum sempat menjawab namun Sukma sudah meninggalkannya.


"Aku tau kamu itu kesepian Ma"guman Zain dengan tatapan matanya yang tak lepas dari sosok yang sangat menganggu pikirannya.


Di tempat dan waktu berbeda terlihat beberapa bocah yang asik berebut bola, gelak tawa terdengar riuh setiap bola menggelinding menjauhi mereka.


"Ayo kejar bolanya Tu, itu akan semakin jauh jika kau tak menangkapnya!"


"Ah aku lelah"kilah Restu menjauhi temannya yang berjumlah empat orang.


"Kau curang, permainan belum selesai!"


Sorot mata tajam dengan bola mata berwarna merah itu terlihat sangat marah, bocah berkepala plotos itu seketika mengambang dan menendang bola hingga melayang jauh.


"Sudah Wan, kita bermain yang lain saja yuk!"ajak Bintang merengkuh pundak temannya.


Akhirnya Awan dapat dibujuk dan mau mengikuti Bintang, namun ia tak ingin mereka mengajak Restu dalam permainan berikutnya.


Bintang dan yang lainnya hanya bisa pasrah karena mereka tahu bagaimana sifat Awan.Restu menghilang dalam sekejap begitu Awan berteriak tak mau bermain lagi dengannya.


Bintang dan teman-temannya menuju arah danau buatan yang ada di kampung itu, mereka bermain hingga menjelang pagi.


Tanpa dikomando para bocah itu melebur bersama udara, tak lagi nampak wujud mereka.


Sukma tergesa menuju rumahnya, terlihat raut wajah lelah wanita cantik itu.


"Ma, ayo sekalian ikut saya!"ajakan Zain mengejutkan Sukma yang sedari tadi pikirannya dipenuhi wajah ibu dan putrinya.


"Maaf saya jalan saja pak"langkah Sukma semakin cepat, ia tak hendak dekat dengan duda yang cukup diminati ditempat kerjanya itu.


"Ini mau magrib Ma!"


Sukma tak menjawab ucapan Zain, ia terus melangkah hingga langkahnya terhenti karena motor Zain menghalangi jalannya.


"Tolong minggir pak, jika ada warga yang melihat mereka bisa salah paham!"ketus Sukma dengan wajah kesal.


"Saya hanya ingin mengantarmu!"


"Saya tidak mau pak, saya ini wanita bersuami!"


"Saya tahu itu, saya hanya ingin mengantar saja!"


Tanpa menjawab Sukma segera berjalan mengambil arah disebelah motor Zain, langkahnya bukan lagi dipercepat namun Sukma benar-brnar berlari menghindari Zain.


Sebenarnya Zain bisa saja mengejar Sukma dengan motornya, namun akhirnya lelaki itu hanya membuntuti wanita yang dicintainya dari belakang hingga wanita itu masuk ke dalam perkarangan rumahnya.


"Buuu!"


Sukma yang hendak melangkah ke teras rumahnya tersentak, ia malah celingukan mencari suara yang jelas diteliganya.


Wanita cantik itu akhirnya masuk kedalam rumah, tanpa ia sadari ada sosok bocah tampan yang mengiringi langkahnya dengan tangan memegangi roknya.


"Kenapa magrib baru pulang Ma?"


Sukma menatap ibunya yang sedang mrngendong putrinya yang terlihat lelap tertidur.


"Maaf mak, tadi sebelum pulang ada arahan dari atasan"jelas Sukma sembari menjatuhkan bokongnya dikursi kayu, yang biasa dijadikan pasangan meja makan.


"Langsung mandi sana!"


Sukma mengiyakan titah emaknya dan gegas menuju kamarnya untuk bersiap mandi di kamar mandi yang berada du bagian belakang rumahnya.


"Kapan suamimu balek Ma?"ucap mak Nah ketika mereka berdua sedang menikmati makan malam seadanya, masakan pagi tadi yang kembali dihangatkan.


"Kalau tidak salah lusa mak"


"Kenapa suamimu tak kamu bujuk untuk kerja disini saja, kerja jauh tak juga membuat hidup anak istrinya berkecukupan!"keluhan mak Nah membuat dada Sukma nyesek.


Wanita cantik itu berusaha menahan bulir bening dipelupuk matanya, bukan ia tak pernah membujuk suaminya, terlalu sering ia meminta hal itu pada suaminya, namun sang suami tak pernah mau menuruti perkataannya.


"Kamu itu cantik Ma, bahkan wanita paling cantik dikampung ini, tapi nasib rumah tanggamu tak secantik wajahmu"keluhan mak Nah akan nasib putrinya membuat luruh bulir bening dipelupuk mata Sukma.


"Coba sekali-kali kamu ketempat kerja suamimu, tanya berapa penghasilannya, terus terang mak curiga!"


Sukma gegas mengangkat piring dan yang lainnya bekas makan mereka menuju dapur, ia tak mau emaknya melihat airmatanya, pencahayaan di ruang kecil yang mereka sebut tempat makan itu lumayan temaram, bolam 7 watt tak mampu membuat ruangan itu terang.


Sukma masih mendengar keluh kesah emaknya akan sang suami, lelaki yang sudah menikahinya kurun waktu lima tahun.Yang semenjak bekerja diluar daerah waktu untuknya dan sang putri hanya sebatas 2-3 hari saja dalam sebulan.


Airmata itu dipusutnya dengan punggung tangan, dan tak lama ia mencuci wajahnya agar sisa airmata itu tak nampak dihadapan emaknya.


Tangan kecil itu mengepal, hatinya berdenyut nyeri melihat tetes airmata diwajah cantik ibunya.


Tubuh kecilnya melayang mendekati wajah cantik sang ibu.


"Cup"


Sukma tersentak ketika merasakan hawa dingin dipipinya, tangannya tanpa sadar menjamah pipinya.


"Ibu jangan menangis, ibu kenapa?"


Sukma bergegas meninggalkan dapur, pikirannya mendadak resah.


Saat ini Sukma terbaring sembari menatap bagian atas kamarnya yang tanpa plafon, jika ada orang berniat jahat pasti dengan mudah bisa masuk ke kamarnya ini.


Wanita cantik itu berusaha memejamkan matanya, namun pikirannya kembali terngiang akan ucapan emaknya.


"Coba sekali-kali kamu ketempat kerja suamimu, tanya berapa penghasilannya, terus terang mak curiga!"


"Apakah mas Afit seperti pikiran emak?"


Rasanya Sukma tak percaya ucapan emaknya, ia pernah ingin bisa menemani sang suami ketempat kerjanya, namun ditolak oleh sang suami dengan alasan ditempatnya kerja rawan kejahatan dan daerahnya masih hutan.Tak baik untuk wanita sepertinya.


Sukma menarik jarik menutupi tubuhnya yang terasa dingin, jika pasangan lain salin berbagi disaat malam namun hal itu tidak baginya, ia harus bersabar menunggu kedatangan suaminya untuk bisa melepas rasa.


Kegelisahan Sukma menarik sosok imut yang sedari tadi menemaninya di kamar.


"Kenapa ibu, biasanya ibu sudah tidur jam segini?"


Sosok kecil itu ikut berbaring disamping Sukma.Tangan kecilnya merengkuh tubuh ibunya, namun sayang kehangatan itu tak sampai pada sang ibu.Terlebih sang ibu mulai terisak lirih yang membuatnya merasa ikut merasakan nyeri dihati.


"Airmata ibu kesakitanku!"


BERSAMBUNG